AKTRIS dan komedian veteran, Miriam Margolyes, menyampaikan pandangan tajam mengenai identitas Yahudi dan situasi geopolitik global saat ini. Berbicara di Hay Festival di Powys, Wales, bintang berusia 85 tahun tersebut menyatakan bahwa menjadi Yahudi telah memengaruhi seluruh aspek kehidupannya. 


Namun ia merasa dunia saat ini berada dalam kondisi terburuk yang pernah ia saksikan. Simak terus penjelasannya.


Kritik Keras terhadap Situasi di Gaza


Margolyes mengungkapkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza menghantui pikirannya setiap waktu. “Setiap hari ketika saya bangun, saya memikirkan Gaza,” ujarnya. Ia menyoroti penderitaan warga sipil yang kehilangan tempat tinggal dan terus menjadi sasaran serangan meskipun telah diminta untuk berpindah lokasi.


Ia menegaskan bahwa komunitas Yahudi memiliki tanggung jawab moral yang besar. “Orang Yahudi harus memegang standar yang lebih tinggi. Saya tidak ingin bangsa saya menjadi jahat. Kita yang pernah menderita, yang pernah berada di ujung kehancuran dan kekejaman, tidak boleh melakukan hal yang sama,” tegas Margolyes.


Israel sebagai Rogue Nation


Dalam pernyataannya yang paling kontroversial, Margolyes menyebut Israel menjadi negara nakal (rogue nation). Ia mengkritik kerabat dan teman-temannya di komunitas Yahudi kelas menengah di Inggris yang enggan bersuara menentang kebijakan militer Israel.


Kritik ini bukan yang pertama bagi Margolyes. Sebelumnya, ia sempat menghadapi kecaman keras dari berbagai kelompok Yahudi setelah menyamakan perilaku Israel dengan tindakan Nazi Jerman. Organisasi Campaign Against Anti Semitism bahkan sempat menyerukan agar gelar OBE dan penghargaan Bafta miliknya dicabut akibat pernyataan tersebut.


Konteks Konflik:

Perang di Gaza dipicu oleh serangan pimpinan Hamas pada 2023 akibat penjajahan Israel yang kejam sejak lama. Hasil serangan itu tercatat sekitar 1.200 orang tewas. Sebagai respons, kampanye militer Israel menyebabkan kehancuran luas di wilayah Palestina. Menurut data kementerian kesehatan setempat yang dianggap andal oleh PBB, lebih dari 72.800 orang telah tewas di Gaza.


Identitas dan Meningkatnya Antisemitisme


Selain mengkritik Israel, Margolyes juga merefleksikan masa kecilnya di Oxford dan kecintaannya pada budaya serta kuliner Yahudi. Namun, ia tidak menutup mata terhadap meningkatnya sentimen anti-Yahudi di Inggris.


“Orang-orang tidak suka saya mengatakan ini, tetapi saya akan mengatakannya: orang-orang tidak menyukai Yahudi,” katanya. Ia berpendapat bahwa simpati pasca-Holocaust mulai memudar ketika oknum-oknum yang tidak bermoral muncul, sehingga memicu kembali kebencian lama yang tidak pernah benar-benar hilang.


Di Inggris sendiri, laporan mengenai antisemitisme mencapai rekor tertinggi. Community Security Trust (CST) mencatat lonjakan insiden, termasuk serangan pembakaran terhadap ambulans milik badan amal Yahudi dan upaya pembakaran sinagoge di London Utara baru-baru ini.


Menutup sesinya, Margolyes mengajak semua pihak untuk berani menghadapi kebenaran. “Kita harus tegas tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tetapi tidak ada yang menghadapi kenyataan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan semua orang?” pungkasnya. (BBC/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *