
MESKIPUN musim badai Atlantik tahun 2025 hanya mencatat tiga belas badai yang diberi nama, sejarah membuktikan bahwa hanya butuh satu badai untuk meluluhlantakkan wilayah yang dilaluinya. Tahun lalu, alam memicu lima badai besar, dengan empat di antaranya mencapai status badai utama pada Skala Angin Badai Saffir-Simpson.
Salah satunya adalah Badai Melissa yang menghantam Jamaika pada Oktober 2025 sebagai salah satu badai terkuat yang pernah tercatat. Bencana tersebut mengakibatkan 95 korban jiwa dan kerugian lebih dari US$12 miliar di Jamaika saja. Secara keseluruhan, musim badai tahun 2025 menyebabkan total 125 kematian dan kerugian senilai US$12,7 miliar.
Kabar baiknya, untuk musim badai Atlantik mendatang yang dimulai dari 1 Juni hingga 30 November, para prakirawan cuaca di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memprediksi jumlah badai akan berada di bawah normal. NOAA memperkirakan ada peluang sebesar 55% bahwa musim ini akan berjalan di bawah rata-rata.
Dengan tingkat kepercayaan badan tersebut yang mencapai 70%, prediksi tahun ini berkisar antara 8 hingga 14 badai yang akan diberi nama. Dari jumlah tersebut, sekitar 3 sampai 6 diperkirakan mencapai status badai (dengan kecepatan angin mencapai 119 kilometer per jam), dan sekitar 1 hingga 3 di antaranya berpotensi menguat menjadi badai utama (minimal Kategori 3). Sebagai perbandingan, musim rata-rata biasanya memiliki 14 badai bernama, termasuk tujuh badai biasa dan tiga badai utama.
“Integrasi cepat teknologi canggih NOAA, termasuk model cuaca berbasis AI, drone, dan data satelit generasi berikutnya akan memberikan sains yang dapat ditindaklanjuti untuk melindungi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat Amerika,” ujar Administrator NOAA, Neil Jacobs, Ph.D., dalam sebuah rilis resmi. “Kemampuan baru ini, dikombinasikan dengan keahlian luar biasa dari para prakirawan Layanan Cuaca Nasional kami, akan menghasilkan prakiraan paling akurat untuk melindungi komunitas yang berada dalam bahaya.”
Ada banyak faktor yang dianalisis oleh para ilmuwan sebelum mengeluarkan prediksi ini. Salah satu faktor utamanya adalah pola iklim di Samudra Pasifik tropis, yaitu apakah fenomena El Niño atau La Niña yang sedang berlangsung. Tahun ini, para ilmuwan memperkirakan kondisi El Niño akan berkembang dan menguat sepanjang musim, yang secara historis biasanya menekan jumlah badai tropis. Kendati demikian, hal tersebut tidak memprediksi segalanya dengan pasti karena masih banyak variabel yang tidak diketahui.
“Meskipun dampak El Niño di Cekungan Atlantik sering kali dapat menekan perkembangan badai, tetap ada ketidakpastian mengenai bagaimana setiap musim akan berlangsung,” ungkap Direktur Layanan Cuaca Nasional NOAA, Ken Graham. “Itulah mengapa sangat penting untuk meninjau kembali rencana kesiapsiagaan badai Anda sekarang. Hanya butuh satu badai untuk membuat musim yang sangat buruk. Kunjungi Weather.gov/safety dan Ready.gov untuk informasi kesiapsiagaan yang penting.”
Perlu diingat bahwa prakiraan ini didasarkan pada studi pola iklim skala besar, bukan aktivitas cuaca jangka pendek yang lebih dinamis. Oleh karena itu, fokus utamanya adalah memprediksi keseluruhan aktivitas sepanjang musim, bukan menentukan kapan dan di mana badai akan mendarat. (Space/Z-2)
