Waspadai Dosis Berlebih dan Risiko Konsumsi Vitamin B6
Ilustrasi vitamin B6(Freepic)

KESADARAN masyarakat Indonesia terhadap kesehatan terus meningkat, termasuk dalam penggunaan suplemen. Salah satunutrisi yang banyak dikonsumsi adalah vitamin B6. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran tersebut, pemahaman mengenai manfaat dan dosis aman vitamin B6 menjadi hal yang penting.

Di Indonesia, pengawasan terhadap produk suplemen juga semakin ketat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara aktif mengawasi peredaran produk yang dijual secara daring, guna memastikan keamanan konsumen.

Para neurologist/ dokter spesialis saraf mencatat, meskipun kasus neuropati perifer akibat vitamin B6 tergolong jarang, kesadaran masyarakat terhadap dosis penggunaan semakin meningkat. Hal ini terutama terjadi pada individu yang mengonsumsi lebih dari satu jenis suplemen secara bersamaan.

Vitamin B6 merupakan nutrisi esensial yang berperan penting dalam fungsi saraf, metabolisme, serta sistem kekebalan tubuh. Kebutuhan harian orang dewasa berkisar 1,3–2,0 mg dan pada umumnya dapat dipenuhi melalui pola makan seimbang, seperti konsumsi daging unggas, ikan, telur, kentang, pisang, serta kacang-kacangan. Namun, sejumlah kelompok masyarakat seperti ibu hamil dan menyusui, lansia, penderita penyakit kronis (penyakit ginjal kronis dan diabetes), pengguna obat jangka lama terutama obat TB dan anti konvulsan, serta individu dengan gangguan penyerapan nutrisi, berpotensi memerlukan tambahan asupan melalui suplemen.

“Pendekatan yang tepat bukan menghindari suplemen, melainkan memastikan penggunaannya berbasis ilmu pengetahuan dan sesuai kebutuhan individu,” ujar Dr. Pinzon dalam keterangannya, Kamis (28/5).

Seiring meningkatnya perhatian global terhadap keamanan suplemen vitamin B6, muncul pula sejumlah kesalahpahaman terkait dosis dan risikonya. Oleh karena itu, akses terhadap suplementasi yang tepat tetap dibutuhkan untuk mendukung hasil kesehatan yang optimal.

“Untuk memperkuat penggunaan berbasis bukti, panel ahli multidisiplin dari kawasan Asia Pasifik telah merumuskan panduan penggunaan vitamin B6 yang aman. Panduan ini menekankan pentingnya keseimbangan dosis, durasi konsumsi, serta pemantauan yang tepat, baik bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat,” kata dr Pinzon.

Bagi masyarakat, beberapa langkah yang perlu diperhatikan antara lain membaca label dengan cermat, tidak mengonsumsi beberapa produk vitamin B secara bersamaan, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila ragu terkait dosis atau penggunaan jangka panjang. Penggunaan suplemen juga sebaiknya dihentikan dan segera dikonsultasikan apabila muncul gejala seperti kesemutan atau mati rasa.

Sementara itu, bagi tenaga kesehatan, pendekatan yang dianjurkan meliputi evaluasi faktor risiko individu, pengaturan durasi penggunaan, serta pemantauan berkala terutama pada terapi dosis tinggi. Batas aman konsumsi bagi individu sehat umumnya tidak melebihi 100 mg per hari, sementara penggunaan terapeutik dapat mencapai 600 mg per hari dengan pengawasan ketat tenaga medis.

Para ahli menegaskan, penggunaan suplemen vitamin B6 yang tepat dapat memberikan manfaat klinis nyata, termasuk menjaga fungsi sistem saraf, meningkatkan energi, serta mendukung kesehatan secara keseluruhan.

“Seiring meningkatnya kesadaranmasyarakat terhadap kesehatan, penting untuk mengedepankan panduan berbasis sains dibandingkan sekadar mengikuti tren,” tambah Dr. Pinzon.

Upaya menjaga kesehatan masyarakat dan membangun kepercayaan terhadap produk suplemen merupakan tanggung jawab bersama, melibatkan tenaga kesehatan, industri, regulator, hingga konsumen. Edukasi yang berkelanjutan, pelabelan yang jelas, serta akses terhadap informasi yang kredibel menjad ifaktor penting untuk memastikan penggunaan suplemen yang aman dan efektif. (Fal/P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *