
PENANTIAN panjang selama 22 tahun akhirnya berakhir untuk Arsenal. Gelar Liga Primer Inggris musim ini langsung digadang-gadang bukan semata akhir dari puasa trofi.
Di bawah arahan Mikel Arteta, the Gunners memasuki momentum baru. Arteta keluar dari dominasi bayang-bayang Pep Guardiola dan membuka peluang membangun era kejayaan sendiri.
Selama beberapa musim terakhir, Arsenal selalu berada di jalur perebutan gelar, tetapi gagal menuntaskan persaingan. Tiga kali finis sebagai runner-up membuat mereka dicap sebagai nyaris juara.
Musim ini situasinya berubah. Arsenal akhirnya mampu mengungguli Manchester City yang selama satu dekade menjadi penguasa Liga Primer di era Guardiola.
Keberhasilan itu seolah punya makna psikologis yang besar. Arteta bukan hanya memenangi liga tetapi juga mengalahkan sosok yang selama ini menjadi mentor sekaligus standar tertinggi sepak bola Inggris modern.
Guardiola, yang akan meninggalkan City setelah 10 musim, selama ini menjadi tembok terbesar Arsenal dalam perburuan gelar. Kini, ketika Guardiola bersiap menutup eranya di Etihad, momentum justru berada di tangan Arsenal.
Arteta menilai keberhasilan musim ini lahir dari ikatan kuat di dalam tim yang terus teruji sejak beberapa tahun terakhir. Mantan asisten Guardiola itu merasa Arsenal mulai memiliki mentalitas baru setelah akhirnya merasakan gelar juara.
“Rasanya luar biasa. Lihat kebahagiaan semua orang, mereka menunggu momen ini begitu lama. Kami melewati banyak masa sulit, tetapi semuanya terbayar ketika melihat reaksi seperti ini,” ujar Arteta.
“Saya bilang kepada para pemain, jersey ini sekarang memiliki makna berbeda. Kami adalah juara dan itu membawa kepercayaan diri, energi, dan tanggung jawab baru,” katanya.
Perubahan Arsenal memang terasa menyeluruh. Arteta membangun ulang skuad sejak kedatangannya hampir tujuh tahun lalu. Dari tim yang sempat tercecer di luar zona Liga Champions, Arsenal kini menjelma menjadi kekuatan paling stabil di Inggris.
Musim panas lalu, manajemen klub mendukung penuh proyek tersebut dengan belanja besar mencapai sekitar 250 juta poundsterling. Kedatangan pemain seperti Viktor Gyokeres dan Martin Zubimendi menunjukkan Arsenal tak lagi sekadar membangun masa depan tetapi juga mengejar hasil.
Keuntungan lain bagi Arsenal ialah situasi rival-rival utama mereka yang belum sepenuhnya stabil. Liverpool tertinggal jauh musim ini. Manchester United masih mencari konsistensi. Adapun Chelsea tercerai-berai sepanjang musim.
Arsenal bahkan belum selesai musim ini. Mereka masih berpeluang menutup musim dengan dua trofi jika mampu menjuarai Liga Champions saat menghadapi Paris Saint-Germain (PSG) di final akhir pekan nanti. Arteta secara terbuka mengakui ambisinya belum berhenti. “Saya ingin parade dengan dua trofi besar,” ucapnya.
Dukungan manajemen klub sejauh ini tetap mengalir. Petinggi Arsenal, Josh Kroenke, memastikan klub akan terus memperkuat skuad demi menjaga level kompetitif tim.
“Kalau ada yang pantas mendapatkannya, itu adalah kelompok ini. Kami berinvestasi secara emosional dan finansial karena klub ini berarti segalanya bagi kami,” ujar Kroenke.
Arsenal sekarang tidak lagi sekadar tim muda yang menjanjikan. Setelah berhasil keluar dari bayang-bayang Guardiola, tantangan berikutnya bagi Arteta ialah menjaga Arsenal tetap berada di puncak dan mengubah puasa gelar 22 tahun menjadi momentum dominasi baru. (Dhk/P-3)
