
BANJIR informasi mengenai skincare dan treatment estetika di media sosial dinilai turut memicu meningkatnya kasus kulit sensitif dan kerusakan skin barrier di masyarakat. Tren penggunaan berbagai bahan aktif tanpa pemahaman yang tepat, ditambah maraknya rekomendasi produk dari sumber yang belum tentu kredibel, membuat banyak orang justru mengalami iritasi akibat over treatment.
Dermatologist sekaligus Founder Dermis Clinic, dr. Hafiza Fathan, Sp.DVE mengatakan saat ini semakin banyak pasien datang ke klinik dengan kondisi kulit sensitif akibat mengikuti tren skincare yang viral di media sosial. Menurut dr. Hafiza, salah satu masalah yang paling sering ditemukan adalah kebiasaan layering skincare secara berlebihan, terutama penggunaan bahan aktif eksfoliasi secara bersamaan tanpa memahami kondisi kulit masing-masing.
“Banyak pasien memakai berbagai bahan aktif sekaligus karena mengikuti tren di media sosial. Padahal belum tentu cocok dengan kondisi kulitnya. Akibatnya justru muncul iritasi dan skin barrier menjadi rusak,” ujar dr. Hafiza dalam diskusi bertajuk Isispharma Dermfluencer Movement yang digelar PT Regenesis Indonesia bersama Isispharma di Jakarta, Sabtu (23/5).
Ia menjelaskan, kondisi kulit sensitif kini tidak hanya dipicu faktor genetik atau lingkungan, tetapi juga akibat penggunaan skincare dan treatment yang terlalu agresif. Paparan polusi, cuaca ekstrem, hingga tindakan estetika yang berlebihan turut memperburuk kondisi kulit masyarakat.
Menurutnya, tantangan lain muncul karena masyarakat kini lebih mudah memperoleh informasi dari media sosial, mesin pencari, hingga artificial intelligence, namun tidak semuanya memiliki dasar ilmiah yang benar.
“Tujuan utama edukasi dermatologi bukan sekadar viral atau visible di media sosial, tetapi bagaimana menghadirkan informasi yang benar, mudah dipahami, dan tetap menjaga integritas profesi,” katanya.
Ia menambahkan, dokter memiliki peran penting sebagai trusted educator untuk membantu masyarakat memilah informasi yang tepat terkait kesehatan kulit.
Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan Regenesis Indonesia bersama Isispharma menghadirkan inisiatif ‘Dermfluencer Movement’, yakni gerakan edukasi digital yang mendorong dokter dan tenaga medis menjadi sumber informasi terpercaya di media sosial melalui konten dermatologi yang berbasis sains, etika profesi, dan kebutuhan pasien. Inisiatif ini juga bertujuan memperkuat edukasi dermatologi berbasis ilmiah di tengah maraknya misinformasi seputar skincare dan treatment estetika di era digital.
Founder Isispharma, Gregoire Dewavrin, menjelaskan bahwa perusahaan yang berdiri sejak 1987 di Lyon, Prancis itu berfokus pada pengembangan dermo-cosmetic berbasis sains dan riset untuk berbagai indikasi spesifik seperti jerawat, hiperpigmentasi, kemerahan, kulit sensitif, hingga dermatitis atopik. Isispharma mengembangkan solusi skincare yang targeted dan evidence-based dengan memahami mekanisme biologis di balik setiap kondisi kulit.
“Melalui Dermfluencer Movement, kami ingin mendorong para dermatolog untuk membagikan keahlian mereka secara digital, memperkuat edukasi, kredibilitas, dan keterlibatan pasien. Inisiatif ini juga mencerminkan arah masa depan dan alasan utama mengapa Isispharma hadir,” kata Gregoire.
Ia menambahkan, masyarakat kini semakin mudah memperoleh informasi dan rekomendasi skincare dari media sosial hingga artificial intelligence. Namun, tidak semua informasi tersebut memiliki dasar ilmiah yang benar. Karena itu, dokter dinilai perlu mengambil peran lebih besar dalam menghadirkan edukasi yang terpercaya agar masyarakat tidak salah memilih produk maupun treatment.
“Kami berkomitmen mendukung dokter dengan menjembatani perawatan klinis dan penggunaan skincare harian yang efektif, sekaligus terus beradaptasi dengan kebutuhan pasien dan perkembangan pasar,” lanjutnya.
Di Indonesia, Isispharma telah hadir sejak 2013 dan selama lebih dari satu dekade telah mendapatkan kepercayaan dari banyak dermatologis di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Isispharma turut memperkenalkan inovasi produk terbaru Secalia Series untuk kulit atopik dan sensitif. Selain itu, perusahaan juga memperkuat awareness sejumlah lini unggulan seperti Neotone untuk hiperpigmentasi dan Ruboril untuk kulit sensitif disertai kemerahan.
President Director Emmy Noviawati mengatakan Regenesis dan Isispharma telah bekerja sama lebih dari 13 tahun dalam menghadirkan produk dermatocosmetic berbasis sains di Indonesia. Menurut Emmy, Regenesis tidak hanya berfokus menghadirkan produk, tetapi juga solusi dan edukasi bagi dokter maupun pasien.
“Kami tidak hanya menjual brand, tetapi menawarkan solusi. Banyak pasien datang dengan kondisi kulit sensitif akibat over treatment dan informasi yang tidak tepat. Karena itu edukasi menjadi sangat penting,” ujar Emmy.
Ia menjelaskan, Regenesis secara aktif menggandeng dermatologis dan komunitas medis untuk membantu menghadirkan edukasi yang lebih kredibel melalui media sosial. Workshop “Isispharma Dermfluencer Movement: Influence with Impact” digelar pada Minggu, 24 Mei 2026 di Jakarta. Acara ini dihadiri dokter, pemilik klinik, serta komunitas medical aesthetics dan dermatologi Jabodetabek, serta diikuti secara hybrid oleh peserta dari luar Jabodetabek. (E-1)
