Trump Klaim Damai dengan Iran, Pasar Ragukan Pembukaan Selat Hormuz
Ilustrasi.(Magnific)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada Sabtu (23/5) waktu setempat bahwa perdamaian dengan Iran sudah di depan mata dan Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Namun, pernyataan ini disambut dengan skeptisisme oleh pasar global yang berulang kali menghadapi klaim serupa selama tiga bulan terakhir tanpa bukti nyata di lapangan.

Meskipun Iran secara militer terdesak, Teheran tetap menggunakan taktik perang asimetris–termasuk penggunaan kapal cepat, ranjau, dan drone canggih–untuk memblokade selat tersebut. Blokade ini telah mencekik ekonomi global dengan memutus akses terhadap seperlima pasokan minyak dunia.

Tantangan Logistik: Mengurai Kemacetan di Selat

Jika perdamaian benar-benar terwujud, para ahli memperingatkan bahwa pemulihan jalur perdagangan tidak akan terjadi dalam semalam. Menurut data dari Kpler, terdapat sekitar 166 kapal tanker yang terjebak di Teluk Persia dengan muatan sekitar 170 juta barel minyak.

Proses pemulihan kapasitas transit penuh diperkirakan memakan waktu hingga tiga bulan. Langkah-langkah teknis yang harus dilalui meliputi:

  1. Pembersihan Bottleneck: Mengeluarkan kapal tanker yang terjebak sebelum mengizinkan kapal kosong masuk untuk memuat minyak.
  2. Pengurangan Stok Gudang: Kilang harus menghabiskan cadangan yang menumpuk selama blokade sebelum bisa menerima pasokan baru secara maksimal.
  3. Reaktivasi Sumur Minyak: Menghidupkan kembali produksi di Timur Tengah adalah tantangan teknik yang kompleks. Sumur yang ditutup memerlukan waktu berminggu-minggu untuk diseimbangkan kembali tekanannya agar reservoir tidak runtuh.
  4. Perbaikan Infrastruktur: Kerusakan pada kilang dan fasilitas gas akibat perang diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki sepenuhnya.

Catatan Analis: Sekitar 12 juta barel per hari produksi minyak mentah dan 3 juta barel produk minyak olahan di Timur Tengah (terutama Arab Saudi dan Irak) saat ini masih dalam kondisi offline.

Para pedagang minyak tetap waspada mengingat sejarah fakeouts atau klaim perdamaian palsu sebelumnya. Pada 18 April lalu, Iran sempat setuju membuka selat, tetapi kembali menyerang kapal hanya beberapa jam kemudian setelah menuduh AS dan Israel melanggar kesepakatan.

Harga minyak mentah Brent menetap di angka sedikit di atas US$100 per barel pada Jumat. Analis dari JPMorgan memprediksi jika selat dibuka pada awal Juni, harga minyak akan rata-rata berada di level US$97 per barel sepanjang sisa tahun ini.

Namun, untuk mencapai harga bensin yang terjangkau bagi konsumen, harga Brent perlu turun ke kisaran US$60. Angka ini menurut pasar berjangka mungkin tidak akan tercapai hingga tahun 2032.

Risiko Keamanan dan Asuransi

Selain masalah teknis, perusahaan pelayaran masih mengkhawatirkan faktor keamanan. Perusahaan asuransi telah menaikkan premi perlindungan maritim hingga ribuan persen. Selama Iran belum memberikan jaminan lintas bebas tanpa pungutan tol atau ancaman ranjau, banyak kapal mungkin tetap enggan melintasi jalur tersebut.

Kantor berita negara Iran, Fars, mempertegas keraguan ini dengan melaporkan bahwa kembalinya jumlah kapal ke level sebelum perang tidak berarti lintas bebas seperti sedia kala akan diberlakukan kembali secara otomatis.

Dunia kini menunggu apakah klaim Trump kali ini akan membuahkan hasil nyata atau hanya menjadi retorika politik lain di tengah krisis energi yang kian mencekik. (CNN/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *