Akhir Pencarian Pak Firdaus: Dilepas Doa di Masjidil Haram
Jemaah lanjut usia Muhammad Firdaus Akhlan, dilaporkan hilang dari hotel tempatnya menginap.(Dok. MCH 2026/Akmal)

PAGI itu, Sabtu (16/5), sebuah pesan berantai masuk ke ruang percakapan WhatsApp Grup Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Mekah. Isinya memuat kabar yang seketika memuat dada berdesir. Seorang jemaah lanjut usia bernama Muhammad Firdaus Akhlan, dilaporkan hilang dari hotel tempatnya menginap di wilayah Misfalah, Mekah, Arab Saudi.

Bagi para petugas, kabar jemaah salah arah atau tertinggal rombongan sebenarnya adalah menu sehari-hari. Mulai dari salah mengambil arah di Terminal dekat Masjidil Haram, hingga kebingungan mencari hotel atau sektor pemondokan. Biasanya, lewat koordinasi taktis antarpetugas di lapangan, urusan semacam itu bisa selesai dalam hitungan jam.

Namun, kabar tentang jemaah berusia 72 tahun itu memicu alarm kewaspadaan yang berbeda. Jemaah asal Pondok Labu, Jakarta Selatan itu melangkah keluar hotel tanpa membawa identitas apa pun, termasuk Kartu Nusuk, maupun alat komunikasi. 

Sebelumnya, PPIH tidak pernah bosan mengingatkan bahwa Kartu Nusuk adalah ‘nyawa kedua’ jemaah selama di Tanah Suci. Tanpa kartu digital bersandi barcode tersebut, melacak identitas, asal kloter, hingga lokasi pemondokan jemaah akan menjadi labirin yang rumit.

Satu harian berlalu, sunyi tanpa kabar lanjutan. Yang ada justru pesan serupa yang dikirim berulang-ulang oleh petugas yang berbeda secara bertubi-tubi. Kegelisahan kian menebal karena biasanya, setiap kali ada jemaah ditemukan, grup WhatsApp akan langsung riuh oleh laporan keberhasilan. Kali ini, nihil. Di Tanah Air, keluarga Firdaus bahkan mulai mengunggah kabar kehilangan ini ke media sosial, mengetuk setiap pintu komunikasi demi mendapat secercah kepastian.

Ikatan emosional itu mendadak terasa begitu dekat. Saya adalah salah satu petugas yang dihubungi oleh anak Firdaus, Nurul Fadila. Setelah ditelusuri, Firdaus ternyata masih kerabat dari tetangga dekat rumah saya di wilayah Kabupaten Bogor.

Sabtu beranjak Minggu, dan pencarian masih membentur dinding kosong. Batin berkecamuk, membayangkan jika pria sepuh yang hilang di tengah jutaan manusia itu adalah orangtua saya sendiri. 

Di tengah tugas liputan di Masjidil Haram, saya mencoba membawa kegelisahan ini ke ruang diskusi rekan-rekan Media Center Haji (MCH).

Seorang rekan kemudian menghubungi tim Perlindungan Jemaah (Linjam) haji 2026. Rupanya, lini bergerak cepat sejak laporan pertama diterima. Deka Ulfa, salah satu petugas Linjam, mengisahkan bagaimana Sabtu dan Minggu-nya dihabiskan dengan menyisir gang-gang sempit, memeriksa hotel-hotel sekitar, mendatangi masjid, hingga mengecek manifes rumah sakit di Mekah.

Pencarian bahkan meluas hingga ke area perbatasan Jeddah, termasuk ke pos-pos penampungan darurat yang disediakan aparat keamanan Arab Saudi bagi mereka yang terjaring tanpa tasrih (izin) haji resmi.

“Masih belum ketemu. Ayok bantu cari,” ajak Deka kepada rekan petugas di MCH melalui sambungan telepon. Kami pun bersepakat untuk ikut turun langsung pada Senin pagi. 

Tatapan Terkahir Sang Istri

Di sebuah rumah sederhana di Pondok Labu, keluarga beliau berkumpul, melanjutkan doa dan terus berharap akan datangnya kabar baik. Kita mungkin tidak mengenal beliau secara pribadi. Namun, membayangkan seorang ayah dari tiga anak, dan suami yang telah menemani istrinya sejak tahun 1976 itu berada sendirian di luar sana, memantik empati yang mendalam. Beliau belum ditemukan, tapi satu hal yang luar biasa, harapan itu belum padam. Para petugas terus bergerak, menyusuri sudut-sudut kota Mekah.

Firdaus sejatinya baru saja menginjakkan kaki di Tanah Suci. Tergabung dalam Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kelompok terbang (kloter) 27 rombongan 1 KBIHU Imam Bonjol, ia mendarat di Jeddah dan tiba di Mekah pada Kamis (14/5)  hanya sehari sebelum ia dinyatakan hilang. Kamis malam itu, Firdaus bersama istrinya, Nafsiah Nawan (67), melakukan ibadah umrah wajib.

Nafsiah mengenang, Jumat pagi itu adalah momen terakhirnya menatap sang suami sebelum melangkah keluar pintu hotel.

”Setelah dia manggil-manggil saya, saya datang, dia lagi mandi. Setelah itu, dia bilang mau shalat Jumat. Saya siapkan baju koko dan sarung warna hitam kotak-kotak,” ujarnya kepada wartawan tim Media Center Haji dengan suara bergetar.

Rasa gelisah dan khawatir yang teramat sangat jelas menggelayuti benak Nafsiah. Namun, di tengah pencarian intensif yang terus bergulir, perempuan berusia 63 tahun itu memilih melarikan seluruh kecemasannya di atas sajadah doa.

“Ini di Baitullah, di rumahnya Allah, mudah-mudahan Allah jaga suami saya. Saya harus berhusnuzhan. Ya Allah, lindungilah suami saya, dia tamunya Allah, pasti Allah nggak akan sia-siakan,” kata Nafsiah.

Menyisir Bukit, Menantang Terik 47 Derajat

Senin (18/5) pagi, misi pencarian fisik diperluas. Saya dan rekan dari MCH, Azizah Hanum, mendampingi Deka dan Misbah, petugas PPIH dari Kantor Urusan Haji (KUH), bergabung dalam tim yang dikomandoi langsung oleh Kepala Seksi Linjam Daerah Kerja Mekah, Tulus Widodo.

Titik awal dimulai dari Sektor 9 Misfalah. Berdasarkan rekaman CCTV hotel, Firdaus terlihat berjalan ke arah kanan saat keluar dari gedung. Kami menyusuri jalanan, mengetuk pintu hotel-hotel lain, dan menunjukkan foto Firdaus di layar ponsel kepada setiap jemaah, petugas, hingga pramubakti yang kami temui.

Pencarian berlanjut ke bangunan-bangunan kosong di sekitar Misfalah, hingga naik-turun bukit batu yang gersang di bawah sengatan suhu udara yang menurut aplikasi cuaca menyentuh angka 47 derajat Celsius. Kulit terasa terbakar, namun misi tak boleh berhenti.

Hingga siang, tanda-tanda keberadaan Firdaus belum juga nampak. Kami memperlebar jangkauan ke Terminal Kuday, lalu merangsek ke terminal pemberhentian bus di belakang Zamzam Tower dekat Masjidil Haram, hingga menyisir area dalam masjid. Hasilnya tetap nihil.

Saat istirahat makan siang yang singkat, secercah harapan sempat muncul ketika ponsel Misbah berdering. Sebuah informasi menyebutkan ada jemaah dengan ciri-ciri mirip Firdaus terlihat di sebuah hotel di Sektor 8, tak jauh dari pemondokan awal almarhum.

Kami bergegas masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Syarif, seorang mukimin yang telah lama menetap di Arab Saudi. 

Di lokasi, dua petugas kebersihan mengaku melihat pria sepuh mirip Firdaus pada Senin dini hari pukul 03.00 WAS. Namun, ketika kami meminta pihak hotel membuka rekaman CCTV untuk memastikan, sosok yang dicari tidak pernah tertangkap kamera. Entah petugas itu salah lihat atau hanya kemiripan belaka. 

Kami mencoba meminta akses CCTV ke hotel-hotel lain di sekitarnya, tetapi prosedur birokrasi di Arab Saudi tidak mudah. Dekoder CCTV kerap dipegang oleh pemilik yang berada di luar kota, seperti di Jeddah.

Meski demikian, kami tetap memelihara keyakinan bahwa Firdaus tidak berada jauh dari hotelnya. Dalam rekaman CCTV awal, langkah kakinya terlihat sudah tertatih-tatih. Logikanya, jarak tempuhnya terbatas. Terlebih, pada hari Jumat saat ia hilang, operasional bus Shalawat menuju Masjidil Haram sudah ditutup sejak pukul 08.00 WAS, sementara Firdaus baru keluar hotel pukul 09.00 WAS.

Selepas Magrib, dengan tubuh yang didera lelah luar biasa dan rasa kesal yang bercampur aduk, kami memutuskan menyudahi pencarian hari itu. Namun, api doa dan ikhtiar kami pastikan tidak meredup.

Keesokan harinya, Selasa, perjuangan berlanjut. Deka bercerita bahwa malam sebelumnya, Kasi Linjam Tulus Widodo bahkan terus menyisir lapangan hingga baru kembali ke Kantor Daker Makkah pada pukul 02.00 dini hari. 

Atas arahan Kepala Bidang Linjam PPIH, Muftiono, personel pencarian terus dilipatgandakan. Kabar hilangnya Firdaus telah menjadi prioritas utama PPIH dan mendapat atensi penuh dari pimpinan, bahkan mulai menggema di Tanah Air melalui pemberitaan media massa.

Akhir Pencarian di Jabal Kuday

Setelah sepekan penuh ketidakpastian dan ikhtiar yang menguras energi, sebuah pesan singkat memecah keheningan pagi pada Jumat (22/5). Ruang percakapan WhatsApp kembali ramai, namun kali ini dengan nada yang khidmat dan duka yang mendalam. Firdaus telah ditemukan, namun dalam kondisi telah mengembuskan napas terakhirnya.

Pria sepuh tersebut ditemukan oleh tentara Arab Saudi yang sedang melakukan patroli rutin pada Jumat (22/5/2026) dini hari, sekitar pukul 02.00 waktu Arab Saudi.

“Lokasi penemuan di sekitar Jabal Kuday atau sekitar 1,5 sampai 2 kilometer dari pemondokannya,” ungkap Kepala Bidang Perlindungan Jemaah (Linjam) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Muftiono, Jumat (22/5).

Jasad Firdaus segera dievakuasi ke pihak kepolisian Arab Saudi dan tim forensik. Melalui pencocokan dokumen forensik, seluruh ciri fisik jenazah terbukti identik dengan data Firdaus yang dilaporkan hilang dari Misfalah sejak 15 Mei 2026. Laporan resmi tersebut kemudian diteruskan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah.

Aparat keamanan Arab Saudi melakukan verifikasi, mulai dari pemeriksaan gelang haji yang melingkar di pergelangan tangan almarhum, pengecekan data visa, hingga manifes paspor. Proses identifikasi ini mencapai ketetapan mutlak setelah sang istri, Nafsiah Nawan, mendatangi langsung tempat penyimpanan jenazah untuk mengonfirmasi bahwa pria itu memang benar adalah suaminya.

Penghormatan Terakhir di Rumah Allah

Perjalanan panjang Muhammad Firdaus Akhlan di dunia resmi berakhir di tanah yang paling dicintainya. Pada Sabtu (23/5) dini hari waktu setempat, jenazah almarhum dibawa masuk ke pelataran Masjidil Haram menggunakan buggy car sekitar pukul 03.10 WAS, langsung ditempatkan di area salat jenazah.

Tepat setelah salam salat subuh berjamaah dikumandangkan, umat Islam yang memadati Masjidil Haram berdiri, menyalatkan Firdaus bersama tujuh jenazah lainnya. Menjadi sebuah kemuliaan tersendiri bagi sang tamu Allah, dilepas dengan doa dari penjuru dunia di tempat paling suci sebelum dihantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman umum Kota Makkah.

“Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak kepada petugas (haji) Indonesia. Atas bantuannya. Masya Allah begitu besar. Mudah-mudahan, Pak Firdaus, Allah ampunkan dosanya, diterima amal ibadahnya,” kata Nafsiah lirih seusai pemakaman suaminya.

Pemerintah Indonesia melalui PPIH 2026 menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulangnya almarhum, sekaligus memastikan bahwa seluruh hak ibadah almarhum akan dituntaskan oleh negara.

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada Almarhum dan memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan,” ujar Koordinator Bidang Komunikasi Media Center Haji PPIH 2026, Hasan Affandi, dalam konferensi pers di Mekah, Jumat (22/5) sore WAS.

Peristiwa pilu ini sekaligus menjadi catatan penting dan evaluasi berharga. Di tengah padatnya fase puncak haji, perlindungan nalar dan fisik jemaah terutama yang berusia lanjut, memerlukan kerja sama kolektif dari semua pihak.

“Jika jemaah tersebut tidak mengetahui arah tujuan atau membutuhkan bantuan, antarkan ke petugas terdekat, pos layanan, atau laporkan kepada petugas sektor dan petugas kloter,” kata Hasan.

Firdaus kini telah pulang ke haribaan-Nya, persis setelah ia menuntaskan niat sucinya bersujud sebagai tamu di rumah-Nya. Rasa lelah para petugas yang menyusuri bukit batu terbayar dengan kepastian, dan keluarga di Tanah Air kini bisa memeluk ikhlas, melepas sang ayah di bumi Mekah Al-Mukarramah. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *