
Aktor ternama Hollywood, Mark Ruffalo, secara terbuka menyuarakan kekhawatiran dan pengalamannya setelah secara vokal menentang rencana merger antara dua raksasa hiburan, Paramount dan Warner Bros. Pemeran Hulk dalam waralaba Avengers ini mengeklaim bahwa kritik kerasnya terhadap kesepakatan tersebut telah membuatnya tersudut di industri perfilman.
Ruffalo bahkan menyebut dirinya kini masuk dalam daftar aktor yang dilarang atau di-blacklist oleh pihak studio besar. Dalam penampilannya di podcast ‘I’ve Had It’ baru-baru ini, ia mengungkapkan bahwa posisinya di Hollywood kini tengah terancam.
“Saya tahu apa pun yang terjadi, jika saya tidak bersuara, hasilnya akan sama saja. Saya sudah masuk dalam daftar. Saya sudah bukan lagi teman dari orang-orang ini. Jadi pilihan Anda adalah bertarung, atau Anda akan berbaring menyerah,” ungkap Ruffalo tegas.
Ketakutan di Balik Layar Hollywood
Penolakan Ruffalo tidak hanya disampaikan melalui podcast, tetapi juga lewat opini yang ia tulis bersama Matt Stoller, Direktur Riset American Economic Liberties Project, untuk surat kabar The New York Times. Artikel tersebut menyoroti gerakan BlockTheMerger.com yang telah didukung oleh lebih dari 4.000 pelaku industri, termasuk nama besar seperti Florence Pugh, Pedro Pascal, hingga Denis Villeneuve.
Meski mendapat dukungan ribuan orang, Ruffalo mengungkapkan fakta pahit bahwa jauh lebih banyak tokoh Hollywood yang menolak menandatangani petisi tersebut karena takut akan aksi balas dendam dari petinggi studio. Ia secara spesifik menyebut pihak yang ia lawan sebagai “kelompok pendendam, keluarga Ellison”.
“Hal yang paling mengungkapkan dari surat itu bukanlah orang-orang yang menandatanganinya. Melainkan orang-orang yang tidak menandatanganinya. Bukan karena mereka tidak setuju, karena mereka takut,” tulis Ruffalo dalam opininya.
Dampak Nyata: Ruffalo memaparkan adanya intimidasi nyata, seperti penarikan iklan majalah The Ankler oleh Paramount dan pembatalan undangan dirinya dalam diskusi di CNN akibat benturan kepentingan dengan Warner Bros. Discovery sebagai induk perusahaan.
Belajar dari Kegagalan Merger Masa Lalu
Ruffalo mendesak industri untuk belajar dari dampak buruk merger Disney-Fox terdahulu. Menurutnya, konsolidasi besar semacam itu hanya berujung pada hilangnya banyak lapangan pekerjaan, pembatalan berbagai acara televisi, serta penghentian proyek film yang tengah diproduksi.
Hingga saat ini, kesepakatan merger antara Paramount dan Warner Bros masih tertahan. Proses tersebut tengah menunggu persetujuan ketat dari regulator di Amerika Serikat dan Eropa guna memastikan tidak adanya praktik monopoli yang merugikan ekosistem kreatif global.
