
PETUGASÂ Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tengah mematangkan penerapan skema murur bagi jemaah haji Indonesia menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Kebijakan ini diprioritaskan bagi jemaah lanjut usia (lansia), risiko tinggi (risti), dan penyandang disabilitas guna menjaga kesehatan serta mengurai kepadatan di Muzdalifah.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah sekaligus Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi, Puji Raharjo, menjelaskan bahwa jemaah yang masuk kategori murur akan langsung diberangkatkan dari Arafah menuju Mina menggunakan bus tanpa harus turun dan bermalam (mabit) di Muzdalifah.
“Karena keterbatasan space di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina,” ujar Puji Raharjo di Arab Saudi, Minggu (17/5).
Jangan kesiangan:
“Ini yang mereka tidak harus turun di Muzdalifah dan tidak harus menunggu tengah malam untuk melewati Muzdalifah. Kita tidak ingin ada lagi jemaah yang kesiangan keluar dari Muzdalifah atau sampai harus berjalan kaki karena kepadatan,” kata Puji Raharjo.
Poin Penting Pelaksanaan Armuzna:
- Skema Murur: Khusus lansia, risti, komorbid, dan pendamping. Jemaah tetap berada di bus saat melewati Muzdalifah.
- Jemaah Sehat: Tetap menjalani mabit normal di Muzdalifah dan baru bergeser ke Mina setelah tengah malam.
- Safari Wukuf: Disiapkan kuota untuk 300 hingga 400 jemaah lansia dan disabilitas dengan pengawasan kesehatan ketat.
- Personel Khusus: Petugas berpengalaman disiagakan lebih awal di Mina untuk memastikan jemaah tidak tersesat dan mendapatkan tenda yang sesuai.
Puji mengingatkan seluruh jemaah untuk disiplin mengikuti arahan petugas dan menjaga stamina sebelum wukuf. “Haji itu puncaknya di Arafah. Jangan sampai tenaganya habis sebelum waktunya,” pungkasnya. (Fik/I-1)
