Merayakan Simfoni Rasa Indonesia Timur dan Pelestarian Gastronomi Nusantara
Perayaan hari ulang tahun ke-6 Indonesian Gastronomy Community (IGC) yang digelar di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).(MI/HO)

KEKAYAAN kuliner kawasan Timur Nusantara menjadi bintang utama dalam perayaan hari ulang tahun ke-6 Indonesian Gastronomy Community (IGC) yang digelar di Jakarta, Sabtu (16/5/2026). Mengusung tema Simfoni Rasa Indonesia Timur, perayaan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap keragaman rasa, tradisi, serta bahan pangan lokal yang menjadi warisan budaya luar biasa dari wilayah tersebut.

Ketua Umum IGC, Ria Musiawan, mengungkapkan bahwa perjalanan enam tahun IGC merupakan proses pembelajaran dan kolaborasi yang bermakna.

“Berawal dari semangat sederhana untuk mengangkat gastronomi Indonesia sebagai identitas budaya bangsa, hari ini IGC terus bertumbuh menjadi ruang yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri, hingga generasi muda untuk menjaga kekayaan kita,” ujarnya.

Dukungan senada datang dari Kementerian Pariwisata. Rizki Handayani, Deputi Bidang Industri & Investasi, menekankan bahwa gastronomi Indonesia Timur yang kaya akan rempah dan teknik autentik adalah daya tarik pariwisata kelas dunia. Menurutnya, pengalaman gastronomi yang autentik kini menjadi faktor kunci dalam memperkuat citra destinasi Indonesia di tingkat global.

Apresiasi untuk Para Pejuang Gastronomi

Sebagai bentuk apresiasi, IGC kembali menganugerahkan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang berdedikasi memperkenalkan kuliner Nusantara. Pada tahun 2026 ini, penghargaan diberikan kepada Nia Zulkarnaen & Ari Sihasale (Alenia Papua Coffee & Kitchen) serta Lewi Cuaca (Lewi’s Organic).






Penerima Penghargaan 2026 Kontribusi & Fokus
Nia Zulkarnaen & Ari Sihasale Mempromosikan produk asli Papua dan memberdayakan UMKM wilayah Papua melalui Alenia Papua Coffee & Kitchen.
Lewi Cuaca Mengembangkan potensi petani daerah dan mengangkat produk organik unggulan dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penghargaan ini meneruskan tradisi IGC Awards yang sebelumnya pernah diberikan kepada tokoh-tokoh besar seperti Prof. Moerdijati Gardjito, Hilmar Farid, Teten Masduki, hingga kreator konten kuliner seperti Nex Carlos dan Ria SW.

Simbolisme Tumpeng dan Kelezatan Autentik

Perayaan ditandai dengan kehadiran dua tumpeng ikonik: Tumpeng Dada khas Ternate yang melambangkan kewibawaan kerajaan, serta Tumpeng Nasi Kuning Gorontalo yang menyimbolkan kemuliaan dan kemakmuran masyarakat Sulawesi.

Para tamu undangan juga diajak menjelajahi rasa melalui deretan menu utama dan kudapan khas yang merepresentasikan identitas pesisir dan pegunungan Indonesia Timur:











Kategori Menu Sajian “Simfoni Rasa” Asal / Karakteristik
Menu Utama Papeda & Ikan Kuah Kuning Papua – Segar, asam pedas, simbol kedekatan dengan laut.
Uta Dada Sulawesi Tengah – Ayam santan dengan rempah kuat.
Daging Tinoransak & Sayur Acar Kuning Sulawesi Utara – Pedas, gurih, dan aromatik khas Minahasa.
Gohu Ikan Maluku Utara – “Sashimi” Ternate yang segar dan ringan.
Kudapan & Penutup Kue Lontar Papua – Pie susu lembut untuk momen kebersamaan.
Klapertaart Manado – Sentuhan manis klasik peranakan Belanda.
Es Palu Butung Sulawesi Selatan – Pisang dan bubur sumsum yang menenangkan.

IGC sebagai komunitas non-profit terus berkomitmen pada visinya untuk memperkuat makna keindonesiaan melalui pelestarian makanan dan minuman anak bangsa, mulai dari nilai sejarah hingga tren masa kini. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *