Dari Bulir Padi hingga Piring Masyarakat, Bulog Mengawal Pangan tak Terputus
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, bersama Bupati Pinrang Irwan Hamid, saat panen raya Padi, di Kelurahan Padaidi, Kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang. April lalu.(Dok Pemprov Sulsel)

FAJAR baru saja terbit di hamparan sawah Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Kabut tipis masih menyelimuti padi yang menguning. Di tengah udara pagi yang sejuk, Rahman, seorang petani, mulai mengangkut karung-karung gabah hasil panennya ke tepi jalan desa. Wajahnya tampak lega. Musim panen kali ini memberinya harapan baru, tidak dihantui kenaikan harga pupuk dan cuaca yang sulit diprediksi. 

“Yang pasti gabah kami dibeli Bulog dengan harga bagus,” ujarnya sambil membersihkan lumpur di kakinya. 

Perkataan Rahman menyiratkan fakta mendasar, kesejahteraan petani adalah kunci ketahanan pangan. Di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional, karena sebagian besar petani kecil menggantungkan harapan pada tangan-tangan tidak terlihat, para pahlawan di balik piring masyarakat, yang memastikan beras dari sawah Sulsel hingga ke meja makan konsumen. Di sanalah Perum Bulog memainkan perannya.

Sehari sebelumnya, di Kelurahan Padaidi, Kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang. April lalu, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, menghadiri pesta panen padi yang digelar oleh Kelompok Tani Makkaritutue II.

Di lahan seluas sekitar 25 hektare, produktivitas rata-rata mencapai 6,8 ton per hektare, capaian positif di tengah berbagai tantangan produksi. Pada kesempatan itu, Fatmawati Rusdi juga menyerahkan bantuan berupa hand sprayer dan karung panen sebagai bentuk dukungan pemerintah. 

“Kita patut bersyukur karena hasil panen terus menunjukkan tren yang baik. Ini menjadi bukti bahwa Sulawesi Selatan tetap menjadi salah satu penyangga pangan nasional yang kuat,” ujar Fatmawati. 

Ia menambahkan, pemerintah akan terus memperkuat dukungan melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta pembangunan dan perbaikan infrastruktur irigasi. 

Sementara itu, Bupati Pinrang, Irwan Hamid, memaparkan bahwa dengan luas lahan sekitar 54 ribu hektare, produktivitas padi rata-rata mencapai 6-7 ton per hektare, bahkan di beberapa lokasi bisa menembus 9-10 ton per hektare. 

“Kami bersyukur hasil panen tetap stabil, ditunjang harga gabah yang baik serta ketersediaan pupuk yang semakin mudah diakses petani,” kata Irwan. 

Panen Melimpah dan Kepastian Harga

Namun di balik euforia panen, kegelisahan tetap membayangi. Petani lainnya Nurdin, mengaku kekhawatirannya saat hasil panen melimpah tidak terjadi. 

“Sekarang kami merasa lebih tenang karena ada Bulog yang turun menyerap hasil panen. Ini yang dulu sering dikhawatirkan, tidak ada yang ambil,” akunya. 

Di sinilah Bulog hadir sebagai jaring pengaman. Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sulsel dan Sulbar, Fahrurozi, menegaskan komitmen utama mereka adalah membeli gabah dengan harga layak yang ditetapkan pemerintah.

“Ini adalah amanat dari pemerintah. Jadi bukan hanya Bulog yang membeli dengan harga Rp6.500, tapi juga berlaku kepada semua pihak yang melakukan pembelian agar petani sejahtera dan tetap tersenyum,” tegas Fahrurozi.

Harga Rp6.500 per kilogram itu berlaku untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani, sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) berdasarkan Keputusan Badan Pangan Nasional. Tantangan lain di kabupaten seperti Jeneponto adalah minimnya infrastruktur pasca-panen. Tapi, Fahrurozi mengakui pihaknya terus mengupayakan transportasi antarwilayah dan kerja sama dengan mitra agar rantai tidak terputus. 

“Kami diminta tidak hanya memastikan stok tersedia menjelang hari raya, tetapi memastikan keterjangkauan baik secara fisik maupun ekonomi, dan itu kami pastikan semua terlaksana,” tuturnya.

Stok Melimpah, Rekor Sepanjang Sejarah

Upaya penyerapan dari hulu terbukti masif. Pada periode Januari-Mei 2025, realisasi serapan gabah Kanwil Bulog Sulsel dan Sulbar mencapai 712.960 ton, berada pada posisi 509 persen dari target awal yang hanya 139.825 ton. Ini menjadi catatan tertinggi sepanjang sejarah operasional Bulog di wilayah tersebut. Hasilnya, stok beras Bulog di Sulawesi Selatan mencapai sekitar 761 ribu ton (data Kementerian Pertanian, 6 April 2026), meningkat tajam dibandingkan kondisi normal yang hanya sekitar 300 ribu ton. 

Bahkan, per Mei 2026, stok beras di wilayah Sulsel dan Sulbar naik menjadi sekitar 895 ribu ton, memecahkan rekor. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meninjau Gudang Bulog di Makassar pada Minggu (5/4) mengukuhkan capaian itu. 

“Dulu gudang Bulog di Sulawesi Selatan maksimal terisi 300 ribu ton. Hari ini 700 ribu ton,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa posisi Sulsel sangat strategis sebagai penyangga distribusi beras ke Indonesia timur seperti Maluku, Kalimantan, dan Papua. Stok nasional pun disebutnya berada pada level tertinggi sepanjang sejarah.

Dari sawah, gabah menuju tempat penggilingan untuk digiling menjadi beras berkualitas, Bulog telah dilengkapi dengan mesin pengemasan, bank, dan kios, yang menjadi simpul yang mencatat neraca perdagangan beras dari Sulsel ke berbagai provinsi. Stok yang melimpah tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga konsumen. 

Di tengah fluktuasi harga pangan dan ancaman cuaca ekstrem, Perum Bulog Sulselbar mempertahankan harga lama beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) di angka Rp12.500 per kilogram.

Wakil Pimpinan Perum Bulog Sulselbar, Karmila Hasmi, menjelaskan kebijakan itu ditempuh untuk menjaga kestabilan harga di tingkat konsumen. Penyaluran beras SPHP biasanya berlangsung lewat Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan Bulog.

“Pastinya ini tepat sasaran yang kita lakukan di tengah-tengah masyarakat,” jelas Karmila. 

Ia juga menekankan bahwa Bulog tidak hanya fokus menjaga stok, tetapi juga memastikan harga terjangkau.

Di Pasar Terong Makassar, salah satu pedagang beras, Herman menuturkan, penjualan beras SPHP terbilang cukup baik. 

“SPHP per sak Rp62.500, untuk per kilo Rp12.500. Penjualannya lumayanlah, tiap hari ada terus keluar,” ujarnya. 

Dibandingkan dengan jenis beras biasa, penjualan beras SPHP justru lebih banyak karena harga lebih murah namun kualitasnya bagus. Warga bernama Sahira, yang belanja di Pasar Terong Makassar merasa sangat terbantu. 

“Kami sangat beruntung ada beras SPHP, karena lebih murah,” singkatnya. 

Terpisah, Pemimpin Bulog Kantor Cabang Makassar, Faris Sudirman AR, memaparkan bahwa program penyaluran langsung menyasar masyarakat terus berjalan. Bantuan Pangan, SPHP, dan GPM. Meski penyaluran Bantuan Pangan pada alokasi Februari dan Maret sempat tersendat akibat sulitnya pasokan biji plastik, pihaknya memastikan program pasar murah dan beras SPHP tidak pernah berhenti menekan gejolak harga.

Stok Aman, Distribusi Diperkuat

Komisi III DPR RI bersama Wakil Ketua DPRD Sulsel, Yasir Mahmud, meninjau langsung Gudang Bulog Panaikang untuk memantau kesiapan stok. Hasilnya, stok tercatat mencapai 61 ribu ton hanya untuk Kota Makassar, dan total 600 ribu ton untuk Sulawesi Selatan saja. Anggota Komisi III DPR RI, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman, mengapresiasi capaian tersebut.

“Bahkan kata Bulog, mereka malah butuh bantuan untuk mendistribusikan ke masyarakat dengan lebih bagus lagi. Artinya, stok aman, Bantuan Pangan siap digelontorkan, GPM dan SPHP terus berjalan. Ini momentum baik agar tidak ada gejolak harga,” tegas Amar. 

Yasir Mahmud berharap dengan kelancaran program yang ditopang surplus stok, distribusi dapat berjalan lebih merata hingga ke pelosok.

Menatap Masa Depan

Memasuki usianya yang ke-59 tahun pada 2026 dengan tema “Mengawal Pangan, Menjaga Masa Depan”, Bulog terus membuktikan komitmennya tidak hanya sebagai gudang logistik, tetapi juga sebagai stabilisator yang hadir di tengah petani dan masyarakat.

Dari sawah ke pabrik dan gudang, lalu kenpasar hingga piring masyarakat, benang merah yang menghubungkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional memang tidak selalu terlihat oleh mata awam. Namun Bulog, jadi pahlawan di balik piring warga, perlahan namun pasti merangkai koneksi itu. 

“Kalau petani untung, mereka semangat menanam. Kalau produksi kuat, maka negara juga kuat,” tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Ke depan, Bulog berkomitmen untuk terus mengawal pangan dan menjaga masa depan, dengan memperkuat rantai distribusi, menjamin penyerapan hasil petani, serta memastikan setiap piring di Sulsel dan seluruh Indonesia tetap terisi. Selain beras, Bulog juga fokus pada pengelolaan bahan pangan pokok lain seperti minyak goreng, jagung, gula, bawang, telur, dan daging. (LN/E-4) 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *