Perkuat Ketahanan Pangan dan Industri, Indonesia Jajaki Kerja Sama Alat Berat dengan Belarus
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memenuhi undangan Deputi Perdana Menteri Republik Belarus untuk mengunjungi sejumlah industri strategis Belarus di sektor alat berat(MI/Dok Kemenko Perekonomian)

PEMERINTAH Indonesia terus memperkuat posisi dalam dinamika ekonomi global dengan menjajaki kerja sama strategis di kawasan Eurasia. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melalui skema Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA).

Dalam rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan kerja ke sejumlah industri manufaktur unggulan di Minsk, Belarus, pada Kamis (14/5). Kunjungan ini bertujuan memetakan kebutuhan barang strategis yang dapat mendukung industrialisasi dan ketahanan pangan nasional.

Kekuatan Industri Manufaktur Belarus

Belarus dikenal memiliki basis industri manufaktur yang sangat kuat. Sektor ini memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian negara tersebut, didukung oleh tingkat swasembada pangan yang tinggi. Berikut adalah profil singkat kekuatan industri Belarus berdasarkan data tahun 2024:






Indikator Ekonomi Belarus (2024) Persentase
Kontribusi Sektor Manufaktur terhadap PDB 20,3%
Tingkat Swasembada Pangan Nasional Sekitar 96%

Fokus Kunjungan ke Tiga Raksasa Industri

Didampingi Wakil Menteri Industri Belarus, Leonid Ryzkovsky, Menko Airlangga mengunjungi tiga perusahaan utama yang menjadi tulang punggung industri alat berat dan otomotif Belarus:

  1. Minsk Tractor Works (MTZ): Fokus pada teknologi traktor dan mesin pertanian modern. Kerja sama ini diproyeksikan mendukung agenda food estate dan peningkatan produktivitas pertanian Indonesia. MTZ menawarkan fleksibilitas spesifikasi produk sesuai kebutuhan Indonesia serta komitmen transfer teknologi.
  2. Minsk Automobile Plant (MAZ): Menjajaki pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan khusus industri. Pembahasan mencakup peluang perakitan lokal (local assembly) dan pengembangan kendaraan rendah emisi.
  3. BelAZ Holding Management Company: Fokus pada alat berat pertambangan. Mengingat Indonesia mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara per tahun, kebutuhan akan dump truck yang efisien menjadi prioritas. Kerja sama ini juga membuka peluang penggunaan Mata Uang Rupiah dalam transaksi perdagangan di masa depan serta pemanfaatan karet alam (natural rubber) Indonesia untuk rantai pasok ban kendaraan berat.

Inovasi Hijau dan Hilirisasi

Selain alat berat, diskusi juga menyentuh aspek inovasi berkelanjutan. Kedua negara membahas studi penggunaan baterai nikel untuk mendukung modernisasi alat pertanian dan pertambangan agar lebih efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, terdapat penjajakan pengembangan singkong (cassava) menjadi etanol sebagai sumber energi terbarukan.

“Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat yang dapat memperkuat industrialisasi dan mekanisasi pertanian modern di Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, Jumat (15/5).

Sinkronisasi Kebutuhan Industri

Menko Airlangga menggarisbawahi pentingnya komunikasi yang lebih intensif antara pelaku industri kedua negara. Selama ini, pemerintah Belarus aktif mempelajari pasar Indonesia, namun masih terkendala informasi spesifik mengenai kebutuhan teknis di lapangan.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah sepakat untuk melakukan pemetaan kebutuhan bersama melalui forum konsultasi reguler. Langkah ini diharapkan dapat memastikan bahwa solusi teknologi yang ditawarkan Belarus benar-benar relevan dengan kondisi geografis dan kebutuhan industri di Indonesia. (Z-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *