Perang Iran Jadi Laboratorium Militer, Tiongkok Pelajari Pola Tempur AS untuk Skenario Taiwan
Ilustrasi Perang Iran(AFP)

PERANG Iran yang kini memasuki bulan ketiga tak lagi dipandang sekadar sebagai konflik regional di Timur Tengah. 

Bagi banyak pengamat, konflik ini telah berubah menjadi laboratorium militer besar yang diamati secara serius oleh Tiongkok untuk mempelajari dinamika perang modern serta mengukur kesiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan Amerika Serikat (AS) di masa depan, terutama terkait Taiwan.

Dari penggunaan drone murah Iran yang mampu menembus sistem pertahanan udara Amerika Serikat hingga pengerahan senjata presisi canggih Washington, konflik tersebut memberikan gambaran nyata bagi Beijing mengenai cara kerja kemampuan tempur militer AS di bawah tekanan peperangan modern.

Sejumlah analis di Tiongkok, Taiwan, dan berbagai negara lain menilai pertempuran di kawasan Teluk Persia dalam dua bulan terakhir memberikan petunjuk penting terkait kemungkinan pola konflik antara Beijing dan Washington di masa mendatang. 

Meski demikian, mereka mengingatkan Tiongkok berisiko salah membaca kekuatannya sendiri. Hal itu, jika hanya terpaku pada keberhasilan teknologi tanpa memahami dinamika perang yang sebenarnya.

Konflik Iran juga menyoroti dalam perang modern, kemampuan adaptasi lawan dapat mengubah jalannya peperangan. Pengalaman tempur, ketahanan logistik, dan kemampuan bertahan dalam konflik berkepanjangan dinilai sama pentingnya dengan kecanggihan persenjataan.

Celah Sistem Pertahanan

Mantan kolonel Angkatan Udara Tiongkok, Fu Qianshao menilai salah satu pelajaran terbesar dari perang Iran adalah pentingnya memperkuat pertahanan dalam negeri. 

Ia menilai Iran berhasil menemukan celah dalam sistem pertahanan udara AS seperti Patriot dan Sistem Pertahanan Area Ketinggian Tinggi Terminal (THAAD).

“Kita perlu mencurahkan upaya signifikan untuk mengidentifikasi kelemahan di sisi pertahanan kita guna memastikan kita tetap tak terkalahkan dalam perang di masa depan,” kata Fu dilansir CNBC, Selasa (12/5).

Dalam beberapa tahun terakhir, Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) memang berkembang pesat, terutama dalam kemampuan ofensif. Beijing terus memperkuat arsenal rudal hipersonik yang dirancang untuk menghindari sistem pencegat musuh.

Selain itu, Angkatan Udara PLA mempercepat produksi jet tempur siluman generasi kelima J-20 yang disebut setara dengan F-35 milik AS. Lembaga kajian pertahanan Inggris, Royal United Services Institute (RUSI), memperkirakan Tiongkok dapat memiliki sekitar 1.000 unit J-20 untuk misi serangan presisi jarak jauh di masa depan.

Beijing juga tengah mengembangkan pembom siluman jarak jauh yang disebut memiliki karakteristik serupa dengan B-2 dan B-21 milik Amerika Serikat.

Namun, para analis menilai kemampuan pertahanan Tiongkok masih menyisakan tanda tanya besar.

Iran, dengan teknologi yang relatif sederhana seperti drone murah Shahed dan rudal balistik berbiaya rendah, terbukti mampu menembus sistem pertahanan udara Amerika di kawasan Teluk Persia.

Di sisi lain, Amerika Serikat menggelar kampanye udara dengan kombinasi persenjataan canggih seperti F-35 dan B-2, didukung amunisi berpemandu dari B-1, B-52, dan F-15. 

Serangan-serangan tersebut menghancurkan berbagai target strategis, mulai dari peluncur rudal, kapal perang, hingga infrastruktur penting.

Fu menilai pola serangan seperti itu harus menjadi perhatian serius bagi Beijing.

“Kita harus menggali lebih dalam untuk secara efektif melindungi lokasi-lokasi penting kita, lapangan terbang, dan pelabuhan dari serangan dan penggerebekan,” sebutnya.

Taiwan

Isu Taiwan menjadi fokus utama dalam pembelajaran perang Iran. Pulau itu selama ini dianggap sebagai titik konflik paling potensial antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Partai Komunis Tiongkok berulang kali menegaskan tekad untuk melakukan reunifikasi dengan Taiwan, termasuk dengan opsi kekuatan militer bila diperlukan.

Analis Taiwan menilai Tiongkok kini memiliki kombinasi kemampuan perang presisi ala AS dan taktik perang drone murah dalam skala besar seperti Iran.

“Roket jarak jauh dan kawanan drone pasti akan memainkan peran kunci dalam operasi militer gabungan Tiongkok melawan Taiwan,” kata Chieh Chung dari Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan.

Meski demikian, masih muncul pertanyaan apakah kekuatan tersebut cukup untuk memenangkan perang lintas Selat Taiwan.

Sebagai produsen drone terbesar di dunia, kapasitas industri Tiongkok menjadi perhatian tersendiri. 

Laporan platform analisis War on the Rocks pada 2025 menyebut produsen sipil Tiongkok dapat beralih memproduksi hingga satu miliar drone bersenjata per tahun dalam waktu kurang dari setahun.

“Produsen sipil Tiongkok memiliki kapasitas untuk melakukan penyesuaian ulang dalam waktu kurang dari satu tahun untuk menghasilkan satu miliar drone bersenjata setiap tahunnya,” demikian isi laporan tersebut.

Di sisi lain, Taiwan disebut belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman serangan drone skala masif.

Laporan lembaga pengawas pemerintah Taiwan menyebut sistem penangkal drone militernya saat ini tak efektif dan menimbulkan risiko keamanan besar bagi infrastruktur strategis.

Direktur eksekutif produsen drone Taiwan, Thunder Tiger, Gene Su, menyerukan peningkatan produksi massal.

“Kita perlu berproduksi terus-menerus, siang dan malam, untuk melawan musuh-musuh kita,” ujarnya.

Amerika Serikat juga diyakini memetik pelajaran dari perang Iran. Dalam skenario konflik di Pasifik, Washington diperkirakan akan lebih menitikberatkan strategi defensif.

Komandan Komando Indo-Pasifik AS, Laksamana Samuel John Paparo, sebelumnya menegaskan bahwa drone dapat membuat perang jauh lebih mahal bagi pihak penyerang.

Jika konflik Taiwan pecah, drone dapat digunakan untuk menyerang kapal dan pesawat Tiongkok yang membawa pasukan PLA melintasi Selat Taiwan.

Namun para analis mengingatkan bahwa kemenangan taktis belum tentu menghasilkan kemenangan politik.

“Kemenangan taktis tidak sama dengan hasil politik,” kata Craig Singleton dari Yayasan Pertahanan Demokrasi.

Menurutnya, pengalaman Iran menunjukkan bahwa tekanan militer belum tentu menghasilkan penyelesaian politik jangka panjang.

“Bagi Tiongkok, hal itu memperkuat pelajaran inti, keberhasilan di medan perang tidak secara otomatis menghasilkan keadaan akhir yang diinginkan,” lanjutnya.

Analis juga menyoroti minimnya pengalaman tempur nyata yang dimiliki PLA. 

Perang besar terakhir yang melibatkan Tiongkok terjadi saat konflik melawan Vietnam pada 1979, sementara militer AS telah berpengalaman dalam berbagai operasi besar di Irak, Afghanistan, Kosovo, hingga Panama.

Analis militer Tiongkok Song Zongping menyebut perang Iran sebagai gambaran perang modern yang sesungguhnya.

“Inilah gambaran peperangan sesungguhnya,” ujarnya.

Drew Thompson dari Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Singapura mengingatkan bahwa pengalaman tempur tetap menjadi faktor penentu.

“Pelajaran yang bisa dipetik adalah pilot andal dengan pesawat biasa-biasa saja akan selalu mengalahkan pilot biasa-biasa saja dengan pesawat yang sangat bagus,” katanya.

Menurut para pengamat, perang Iran memberikan pesan penting bagi Beijing bahwa konflik modern tidak hanya ditentukan oleh teknologi mutakhir, tetapi juga kemampuan adaptasi, pengalaman tempur, serta kesiapan menghadapi dampak geopolitik global.

“Kemampuan Iran untuk memanfaatkan titik rawan dan memasukkan risiko ke dalam rantai pasokan global menunjukkan betapa cepatnya konflik lokal dapat menjadi konflik internasional,” kata Singleton.

“Bagi Beijing, itu adalah peringatan bahwa skenario Taiwan apa pun akan segera melibatkan perdagangan global, aliran energi, dan aktor pihak ketiga dengan cara yang sulit dibayangkan,” pungkasnya. (Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *