
PROGRAM Studi Pendidikan Jasmani Universitas Pendidikan Indonesia kembali memperluas kiprah internasionalnya melalui program pengabdian kepada masyarakat berbasis pendidikan dan kesehatan.
Melalui inovasi bertajuk Smart Agility Fun (SAF), delegasi akademik UPI menjalankan program peningkatan kualitas kognitif siswa di Kampung Indonesia, Nonthaburi, Thailand, pada April 2026.
Program tersebut dipimpin dosen pendamping Anggi Setia Lengkana bersama dua mahasiswa berprestasi, yakni Nukeu Vianka dari Program S1 PGSD Pendidikan Jasmani dan Dina Aliyah Nurshafa dari Program S2 Pendidikan Jasmani.
Kegiatan pengabdian ini lahir dari kebutuhan akan metode pembelajaran yang lebih holistik bagi anak-anak di Kampung Indonesia, Nonthaburi. Selama ini, siswa di lingkungan tersebut dinilai menghadapi tantangan menjaga fokus belajar akibat keterbatasan aktivitas fisik yang terintegrasi dengan proses pembelajaran.
Melalui SAF, tim UPI mencoba menghadirkan pendekatan berbeda. Program ini tidak sekadar mengajak siswa berolahraga, tetapi memadukan aktivitas fisik dengan stimulasi kognitif melalui permainan interaktif yang menuntut ketangkasan, konsentrasi, kecepatan berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan.
Anak-anak diajak menyelesaikan berbagai tantangan gerak yang dikombinasikan dengan instruksi cepat dan pemecahan masalah sederhana. Pendekatan itu dirancang untuk melatih koordinasi motorik sekaligus meningkatkan fokus belajar siswa dalam suasana menyenangkan.
“Pendidikan jasmani bukan sekadar tentang otot dan keringat, melainkan instrumen cerdas untuk membangun ketajaman otak. Melalui metode SAF, kami mengintegrasikan stimulasi kognitif ke dalam gerak sehingga siswa dapat merasakan bahwa belajar dan aktivitas fisik adalah satu kesatuan yang menyenangkan,” ujar Anggi.
METODE PENDEKATAN
Ia menjelaskan, metode yang diterapkan menggunakan pendekatan Learning by Doing. Setiap instruksi diberikan melalui demonstrasi langsung dan pendampingan intensif agar seluruh siswa, tanpa memandang kemampuan fisiknya, dapat terlibat aktif.
Menurut Anggi, proses tersebut menciptakan pengalaman belajar bermakna karena peningkatan fungsi kognitif terjadi secara alami melalui aktivitas fisik yang terstruktur.
“Harapan kami, inovasi ini bisa menjadi katalisator bagi guru-guru di sini untuk terus mengembangkan pembelajaran yang adaptif dan inklusif,” katanya.
Keberhasilan program terlihat dari tingginya antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya mampu menyelesaikan tantangan fisik, tetapi juga dapat memecahkan persoalan kognitif sederhana yang disisipkan dalam permainan SAF.
Bagi UPI, program ini juga menjadi implementasi nyata komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). SAF dinilai sejalan dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pengembangan inovasi pembelajaran yang melampaui metode konvensional di ruang kelas.
Selain itu, aktivitas fisik terukur dalam program tersebut juga mendukung SDG 3 mengenai kehidupan sehat dan sejahtera karena menempatkan kesehatan fisik dan mental sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
KOLABORASI LINTAS NEGARA
Tak hanya itu, kolaborasi lintas negara antara Indonesia dan Thailand dalam program ini turut memperkuat SDG 17 tentang kemitraan global. “Kehadiran delegasi UPI di Thailand menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Thailand di bidang pendidikan melalui pertukaran budaya dan kolaborasi akademik,” ujar Anggi.
Ia menambahkan, pengabdian internasional tersebut tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek bagi siswa di Kampung Indonesia, tetapi juga menjadi model pembelajaran yang dapat dikembangkan lebih luas di masa mendatang.
Menurut dia, keberhasilan implementasi SAF di Nonthaburi membuktikan bahwa pendidikan jasmani memiliki peran strategis dalam pengembangan sumber daya manusia, tidak hanya dari sisi fisik tetapi juga intelektual.
“Melalui sinergi dosen dan mahasiswa, kami terus berupaya menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif, edukatif, dan berdampak luas bagi masyarakat dunia demi mewujudkan generasi yang tangkas secara fisik dan unggul secara intelektual,” tutup Anggi. (E-2)
