
HUBUNGAN diplomatik antara Emirat Arab dan Israel menunjukkan sinyal penguatan yang signifikan di tengah meningkatnya eskalasi regional. Menurut Bloomberg, Rabu (6/5), Presiden Emirat, Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ), dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan melakukan pembicaraan telepon yang jarang terjadi pada pekan ini.
Langkah ini dipandang sebagai penegasan atas pendalaman hubungan kedua negara pascaserangan yang melibatkan Iran. Berdasarkan laporan kantor berita negara UEA, WAM, Netanyahu merupakan salah satu pemimpin dunia yang menghubungi MBZ setelah serangan Iran ke wilayah UEA pada Senin (4/5).
Solidaritas di Tengah Ancaman Regional
Dalam pembicaraan tersebut, Netanyahu menyatakan solidaritas penuh terhadap Emirat. Ia menegaskan dukungan Israel atas segala langkah yang diambil Abu Dhabi untuk menjaga keamanan nasionalnya. Ini merupakan komunikasi resmi pertama antara kedua pemimpin yang diumumkan oleh WAM sejak awal 2023.
Meskipun kedua negara menandatangani Abraham Accords pada tahun 2020, hubungan keduanya sempat mengalami ketegangan. Faktor utama pemicu kerenggangan tersebut adalah rasa frustrasi Emirat terhadap sikap Israel terkait solusi negara Palestina, terutama setelah terbentuknya pemerintahan sayap kanan di Israel pada akhir 2022 serta pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023.
Kerja Sama Militer dan Pertahanan Udara
Namun, dinamika keamanan di Timur Tengah memaksa kedua negara untuk kembali merapat. Kerja sama militer dan intelijen dilaporkan meningkat pesat sejak Iran meluncurkan ribuan drone dan rudal ke Emirat dan negara-negara Arab lain pada akhir Februari sebagai balasan atas serangan AS-Israel.
Informasi Strategis: Israel dikabarkan membantu sistem pertahanan udara Emirat sejak konflik dengan Iran memanas. Menurut laporan Axios, Israel mengirimkan satu baterai sistem Iron Dome lengkap dengan puluhan pencegat (interceptor) ke Emirat.
Kekecewaan Emirat terhadap GCC dan OPEC
Di sisi lain, MBZ dilaporkan mulai menjaga jarak dengan blok regional tradisionalnya. Pemerintah Emirat melontarkan kritik terhadap Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang dianggap tidak berbuat banyak dalam menghadapi ancaman Iran. Dalam diskusi privat dengan pejabat Eropa bulan lalu, MBZ menyebut GCC disfungsional dan menyatakan niat Emirat untuk memperkuat aliansi dengan Israel dan Amerika Serikat.
Ketidakpuasan terhadap tetangga-tetangga Arabnya juga menjadi salah satu pemicu keputusan mengejutkan Emirat pekan lalu untuk keluar dari organisasi kartel minyak dunia, OPEC.
Reaksi Iran
Menanggapi kedekatan ini, pihak Teheran pada Rabu menyatakan bahwa kerja sama Emirat dengan Israel dan Amerika Serikat melanggar prinsip-prinsip bertetangga yang baik. Iran menuding langkah Abu Dhabi tersebut justru memperkeruh stabilitas di kawasan.
Selain Netanyahu, MBZ menerima panggilan telepon dari beberapa pemimpin Arab lain pascaserangan Iran, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Raja Yordania Abdullah II. Ini menunjukkan betapa krusialnya posisi UEA dalam peta geopolitik Timur Tengah saat ini. (I-2)
