Menlu AS Marco Rubio Khawatir Bahaya Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
Marco Rubio.(Al Jazeera)

MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan kekhawatirannya atas tindakan Iran yang menutup Selat Hormuz pascapecahnya konflik bersenjata dengan AS sejak Februari lalu. Dalam pengarahan pers di Gedung Putih pada Selasa (05/05/2026), Rubio menyoroti ancaman serius terhadap jalur pelayaran internasional tersebut.

Meskipun Rubio membanggakan kerusakan yang dialami militer Iran akibat serangan AS, ia mengakui bahwa Teheran masih memegang kendali penuh atas Selat Hormuz. Jalur ini merupakan arteri vital bagi pasokan minyak dunia yang penutupannya telah mengguncang ekonomi global.

Ancaman Normal Baru di Jalur Pelayaran

Rubio memperingatkan bahwa membiarkan Iran mengontrol jalur pelayaran internasional dapat menciptakan preseden berbahaya bagi wilayah lain.

“Jika kita membiarkan rezim seperti Iran mengeklaim kontrol atas jalur pelayaran internasional sebagai ‘normal baru’, tidak akan lama lagi hal serupa terjadi di berbagai belahan dunia,” ujar Rubio. Ia menambahkan bahwa negara lain mungkin akan mulai meniru langkah Iran dengan memungut biaya masuk (tol) di jalur-jalur vital lain.

Konteks Konflik:

Penutupan selat ini terjadi setelah Presiden Donald Trump memutuskan untuk memulai konfrontasi militer dengan Iran pada Februari 2026. Sebelum pengeboman dimulai, Selat Hormuz terbuka bebas. Kini, Iran memblokade jalur tersebut dan mengenakan biaya tol yang sangat besar bagi kapal yang ingin melintas.

Dampak Ekonomi dan Harga BBM

Rubio mengakui bahwa situasi ini berdampak negatif pada ekonomi Amerika Serikat, terutama pada sektor ekspor. Namun, ia menegaskan bahwa ancaman akan jauh lebih besar jika Iran memiliki senjata nuklir.

“Jika Iran memiliki senjata nuklir dan mereka memutuskan menutup selat hingga harga bensin mencapai US$8 atau US$9 (sekitar Rp155.700) per galon, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Iran yang bersenjata nuklir bisa melakukan apa saja yang mereka mau terhadap selat tersebut,” tegasnya.

Terkait lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri, Rubio meminta warga AS untuk tidak terlalu khawatir. Dalihnya, kondisi di negara lain jauh lebih buruk akibat peristiwa global ini.

Perbedaan Pernyataan di Internal Pemerintahan

Pernyataan Rubio mengenai kendali Iran atas Selat Hormuz tampak bertolak belakang dengan laporan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Pada hari yang sama, Hegseth bersikeras bahwa Iran tidak memegang kendali penuh.






Pejabat Perspektif Terkait Selat Hormuz
Marco Rubio (Menlu) Mengakui Iran memiliki kendali penuh dan memungut biaya tol yang merugikan ekonomi.
Pete Hegseth (Menhan) Mengeklaim jalur tetap bersih setelah dua kapal komersial AS berhasil melintas dengan pengawalan.

Meskipun ada klaim keberhasilan transit dari pihak Pentagon, data menunjukkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz hingga Selasa ini masih jauh di bawah volume normal sebelum perang dimulai. Dunia kini terus memantau stabilitas jalur energi ini di tengah ketegangan yang belum mereda. (Huffpost/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *