
DALAM khazanah Asmaul Husna, umat Islam sering kali lebih akrab dengan nama Al-Ghaffar (Maha Pengampun). Namun, terdapat satu nama yang memiliki kedalaman makna luar biasa terkait bagaimana Allah menjaga kehormatan hamba-Nya, yaitu As-Sittir (السِّتِّيرُ ) atau As-Satiir (السَّتِيرُ). Nama ini mengajarkan kita bahwa Allah bukan sekadar mengampuni dosa, tetapi juga menutupi noda dan kekurangan hamba-Nya dari pandangan makhluk lain.
Makna Etimologi dan Terminologi As-Sittir
Secara bahasa, As-Sittir berasal dari akar kata satara yang berarti menutup atau menyembunyikan. Dalam konteks ketuhanan, As-Sittir bermakna Zat yang Maha Menutup. Allah menutupi dosa-dosa hamba-Nya di dunia agar tidak dipermalukan dan Dia juga menutupi kekurangan fisik maupun batin manusia.
Para ulama menjelaskan perbedaan halus antara Al-Ghaffar dan As-Sittir. Al-Ghaffar berkaitan dengan penghapusan dosa dan perlindungan dari siksa. As-Sittir lebih menekankan pada perlindungan terhadap reputasi dan kehormatan seorang hamba di hadapan manusia lain.
Dalil Naqli Nama As-Sittir
Nama As-Sittir secara eksplisit disebutkan dalam hadis sahih. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla itu Maha Pemalu lagi Maha Menutup (Sittir), Dia mencintai rasa malu dan sikap tertutup (menutupi aib). Maka jika salah seorang di antara kalian mandi, hendaknya ia menutup diri.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Hadis ini menjadi landasan utama bahwa As-Sittir adalah salah satu nama Allah yang tetap (tsabit) berdasarkan sunnah yang sahih.
Pandangan Ulama dan Kitab Pengamalan
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa sifat Allah ini merupakan bentuk kasih sayang-Nya. Allah tidak terburu-buru membuka kedok hamba-Nya yang bermaksiat, melainkan memberi kesempatan untuk bertaubat.
Imam Al-Ghazali dalam Al-Maqshad Al-Asna menekankan bahwa seorang hamba yang meneladani sifat ini akan menjadi pribadi yang tidak suka mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus). Ia akan sibuk memperbaiki aibnya sendiri daripada menyebarkan aib orang lain.
Keutamaan Zikir dan Mengamalkan As-Sittir
Mengamalkan zikir dengan asma Ya Sittir atau memahami maknanya memiliki keutamaan spiritual yang besar, di antaranya:
- Mendapatkan Perlindungan Allah: Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.
- Ketenangan Batin: Menyadari bahwa Allah menutupi kekurangan kita menumbuhkan rasa syukur dan keinginan untuk bertaubat secara tulus.
- Terhindar dari Ghibah: Memahami sifat As-Sittir membuat seseorang lebih berhati-hati dalam menjaga lisan.
- Menumbuhkan Sifat Malu: Sebagaimana hadis di atas, mengenal As-Sittir akan meningkatkan rasa malu (haya’) untuk berbuat maksiat meskipun saat sendirian.
Cara Mengamalkan dalam Kehidupan Sehari-hari
- Menutup Aib Diri Sendiri: Tidak menceritakan kemaksiatan yang pernah dilakukan di masa lalu jika Allah sudah menutupinya.
- Menjaga Rahasia Orang Lain: Menjadi tempat penyimpanan rahasia yang aman bagi teman atau keluarga.
- Berdoa dengan Nama As-Sittir: “Ya Allah, Ya Sittir, tutuplah aurat kami (aib kami) dan tenteramkanlah hati kami dari rasa takut.”
Checklist Pengamalan Sifat As-Sittir
- ✅ Tidak menyebarkan berita buruk (hoaks/aib) tentang orang lain.
- ✅ Segera bertaubat saat melakukan kesalahan tanpa memamerkannya.
- ✅ Menjaga adab berpakaian dan kesopanan di ruang publik.
- ✅ Mendoakan orang yang berbuat salah agar diberi hidayah, bukan menghujatnya.
People Also Ask (FAQ)
- Apakah As-Sittir termasuk dalam 99 Asmaul Husna? Ya, meskipun dalam daftar populer versi tertentu kadang tidak muncul, namun secara dalil hadis sahih, As-Sittir adalah nama resmi Allah.
- Apa perbedaan As-Sittir dengan As-Sattar? Keduanya memiliki akar kata yang sama. As-Sattar lebih sering digunakan dalam literatur ulama (shighah mubalaghah), sedangkan As-Sittir adalah lafaz yang terdapat dalam hadis.
- Bagaimana cara berzikir dengan nama ini? Bisa dibaca “Ya Sittir” saat memohon perlindungan dari rasa malu atau saat memohon agar aib masa lalu tidak terungkap.
- Apakah Allah akan menutupi aib orang yang sengaja pamer maksiat? Orang yang terang-terangan melakukan maksiat (Mujahir) berisiko tidak mendapatkan perlindungan “sitra” (penutup) dari Allah.
- Apa kitab yang membahas khusus tentang nama-nama Allah ini? Kitab Al-Asma’ was Shifat karya Imam Al-Baihaqi adalah salah satu rujukan otoritatif.
- Bolehkah kita menutupi kejahatan kriminal dengan alasan As-Sittir? Tidak. Menutupi aib berlaku untuk masalah pribadi/moral. Untuk tindakan kriminal yang merugikan publik, kesaksian yang jujur adalah kewajiban hukum.
- Apa doa yang diajarkan Rasulullah terkait menutupi aib? Doa pagi dan petang: “Allahummastur ‘aurati wa amin raw’ati.”
- Mengapa Allah disebut Maha Pemalu? Malu bagi Allah artinya Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang menengadahkan tangan kembali dengan tangan kosong.
- Apakah menutupi aib orang lain wajib? Ya, hukum asalnya adalah wajib kecuali ada maslahat syar’i yang lebih besar (seperti dalam persidangan atau pernikahan).
- Apa dampak jika seseorang suka membuka aib orang lain? Allah akan membuka aibnya sendiri bahkan jika ia berada di dalam rumahnya yang paling tersembunyi.
