
UNIA kini tengah menghadapi ancaman serius berupa ‘badai sempurna’ yang dapat memicu krisis pangan global menyusul krisis energi yang telah terjadi. Laporan terbaru dari S&P Global mengungkapkan ada pertemuan tiga faktor utama yang menekan harga pangan dunia secara signifikan.
Ketiga faktor tersebut meliputi lonjakan harga diesel atau solar yang krusial bagi sektor pertanian, menyusutnya pasokan bahan baku pupuk, serta fenomena iklim El Nino yang diprediksi akan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah.
Ketergantungan pada Selat Hormuz
Laporan tersebut menyoroti peran vital Teluk Persia, khususnya Selat Hormuz, yang tidak hanya menjadi jalur utama minyak dan gas alam cair (LNG), tetapi juga volume besar urea, amonia, dan sulfur yang dibutuhkan untuk produksi tanaman. Penutupan atau gangguan di jalur ini berdampak langsung pada input pertanian global.
Meskipun harga amonia mulai stabil berkat pasokan alternatif, sulfur tetap mengalami hambatan pasokan. Harga sulfur tercatat melonjak sekitar 70% pada September dibandingkan posisi Januari tahun ini. Kondisi ini memaksa petani untuk mengurangi penggunaan pupuk, yang pada gilirannya akan menurunkan hasil panen di masa depan atau mengurangi luas lahan tanam.
S&P mencatat penurunan luas tanam telah terjadi pada jagung di Eropa, kedelai di Brasil, dan gandum di Australia.
Dampak Perang dan Kelangkaan Diesel
Selain pupuk, sektor pertanian terpukul oleh penurunan tajam ekspor diesel dari Timur Tengah akibat konflik Iran serta dari Rusia menyusul serangan drone Ukraina. Diesel merupakan komponen vital yang menggerakkan mesin pertanian, sistem irigasi, hingga transportasi hasil panen.
- Harga Diesel: Biaya operasional alat berat dan logistik meningkat.
- Input Pupuk: Kenaikan harga sulfur hingga 70% membatasi produktivitas lahan.
- El Nino: Ancaman cuaca ekstrem yang merusak siklus tanam.
Ancaman El Nino Terkuat
Faktor ketiga ialah El Nino yang diperkirakan akan membawa curah hujan ekstrem dan banjir di beberapa wilayah, tetapi menyebabkan kekeringan dan panas menyengat di wilayah lain. Sebagai perbandingan, harga pangan global melonjak sekitar 10% setelah El Nino kuat pada 2014-2015.
Kali ini, S&P mengkhawatirkan tanaman yang sudah melemah akibat pengurangan penggunaan pupuk akan memiliki daya tahan yang lebih rendah terhadap suhu panas ekstrem. Negara-negara miskin, satt anggaran rumah tangga sebagian besar dialokasikan untuk makanan, diprediksi akan menjadi pihak yang paling terdampak.
Krisis yang Bergerak Lambat
Berbeda dengan krisis energi yang dampaknya terasa seketika, krisis pangan cenderung bergerak lebih lambat tetapi pasti. Daniel Yergin, Wakil Ketua S&P Global, menjelaskan bahwa krisis energi tercatat secara instan di layar monitor dan krisis pangan akan terungkap seiring dengan siklus musim.
Meskipun harga berjangka pertanian sempat mengalami sedikit penurunan bulan lalu, ketidakpastian pasokan jangka panjang tetap menghantui pasar global, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor komoditas pangan utama seperti gandum dan jagung. (The Wall Street Journal/I-2)
