
PUKUL 07.00 Wita, Sabtu (24/10) pagi, suasana Desa Nubamado, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timue, mulai berbeda. Anak-anak PAUD, siswa SD, masyarakat, dan sejumlah unsur pemerintah turun bersama. Mereka memungut sampah, memilahnya, lalu memasukkannya ke dalam karung untuk dibawa ke Bank Sampah.
Lembaga swasta ini dilibatkan Pemda Lembata untuk mengurus sampah di Kabupaten Lembata. Di tengah kegiatan itu, seorang bidan desa tampak sibuk menggerakkan warga. Ia tidak hanya memberi imbauan, tetapi ikut turun tangan. Baginya, sampah bukan sesuatu yang harus dijauhi, apalagi sekadar dibicarakan. Sampah harus dikelola agar tidak menjadi ancaman bagi kesehatan dan lingkungan.
Dialah Maria Hermina Tukan, yang akrab disapa Nony Tukan, Bidan Desa Nubamado. Lulusan Poltekkes Kemenkes Kupang tahun 2011 ini memiliki prinsip sederhana, jika melihat sesuatu yang tidak beres, jangan hanya diam. Harus ada tindakan nyata.
Sejak bertugas di Nubamado pada Juni 2024, setelah mengabdi selama 10 tahun tiga bulan di Uruor, Nony terus berupaya menghadirkan perubahan melalui berbagai inovasi kesehatan dan lingkungan.
Bukan Sekadar Menjaga Pasien
Bagi Nony, pekerjaan seorang bidan tidak boleh berhenti di dalam polindes, berkutat dengan berkas dan menunggu pasien datang berobat. Tenaga kesehatan, menurut dia, harus berani keluar dari rutinitas, menjangkau masyarakat, dan membangun kesadaran hidup sehat sejak dini.
“Bidan, orang kesehatan, tidak hanya duduk diam di polindes, jaga kertas dan jaga pasien. Kita harus membuat inovasi untuk generasi penerus, supaya mereka tahu bahwa sampah bisa dijadikan uang. Kalau bukan kita, generasi muda mau berharap kepada siapa?” demikian prinsip yang ia pegang.
Semangat itu kemudian diwujudkan melalui gerakan pungut, pilah, dan edukasi sampah. Ia menyebutnya Demo Sampah. Setiap Sabtu pagi ditetapkan sebagai hari sampah. Warga diajak mengumpulkan sampah yang sudah dipisahkan berdasarkan jenisnya, kemudian memasukkannya ke dalam karung untuk dijemput pihak bank sampah.
Gerakan yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 09.00 Wita itu melibatkan anak-anak PAUD, siswa SDN Namawekak, masyarakat, pemerintah desa, Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), bank sampah.
Bhabinkamtibmas Desa Nubamado, Toni Wadan dan Kepala Desa Nubamado, Maria Maximilla Ingir, turut hadir mendukung gerakan tersebut. Seluruh pihak yang terlibat menyepakati Sabtu pagi sebagai hari khusus untuk mengumpulkan dan mengelola sampah.
Bagi Nony, keterlibatan anak-anak menjadi bagian penting. Pendidikan lingkungan tidak cukup hanya melalui kata-kata. Anak-anak perlu melihat, mengalami, dan melakukan sendiri kebiasaan menjaga kebersihan.
Dari Ancaman Penyakit Menjadi Gerakan
Bersama Ada persoalan yang terus mengusik pikirannya. Setiap musim hujan, kasus malaria dan demam berdarah dengue (DBD) menjadi ancaman bagi masyarakat. Imbauan menjaga kebersihan, menurut pengamatannya, belum cukup mendorong perubahan perilaku. Karena itu, ia memilih pendekatan berbeda, menggerakkan masyarakat melalui aksi nyata. Lingkungan yang bersih, saluran air yang terjaga, serta tidak adanya sampah yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit.
“Saya tidak mau desa saya ada kasus malaria dan DBD. Tidak bisa kita hanya bilang sudah omong berulang-ulang. Bidan tidak jijik dengan sampah. Itu harus dibuktikan,” menjadi semangat yang mendorongnya.
Ia juga mengedukasi warga tentang bahaya membakar sampah plastik yang dapat mencemari udara dan mengganggu kesehatan pernapasan. Sementara itu, daun-daun kering dan sisa tanaman tidak harus berakhir di tempat pembakaran. Bahan organik tersebut dapat dikelola menjadi pupuk untuk menyuburkan tanaman.
Di lingkungan Polindes Nubamado, Nony membiasakan diri mengumpulkan daun-daun kering, mencincang batang pisang, lalu memanfaatkannya sebagai bahan organik. Lahan yang tersedia juga ditata menjadi taman tanaman obat keluarga (TOGA). Baginya, kebersihan bukan pekerjaan sesaat ketika ada kegiatan bersama. Kebersihan harus menjadi kebiasaan yang dimulai dari lingkungan terdekat.
Sampah Menjadi Uang, Anak-anak Menjadi Harapan
Program Demo Sampah yang ia gagas tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah. Ada nilai ekonomi yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat, terutama anak-anak. Sampah yang masih memiliki nilai jual dipilah dan dikumpulkan. Setiap Sabtu, pihak bank sampah datang menjemput hasil pengumpulan warga. Dengan cara ini, masyarakat belajar bahwa sampah yang dikelola dengan benar dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Ia ingin Nubamado menjadi contoh bagi desa-desa lain di wilayah Nubatukan, bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dengan program besar. Kemauan, konsistensi, dan keterlibatan warga dapat menjadi langkah awal. Menariknya, kegiatan inovasi itu ia biayai menggunakan insentif Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan jasa pelayanan (JP) yang menjadi haknya, bukan dari dana desa ataupun dana yang secara khusus diberikan dinas untuk inovasi tersebut.
“Semuanya saya lakukan karena uang insentif UKM dan JP digunakan murni untuk kegiatan inovasi, bukan dana desa atau dana dari dinas,” jelasnya.
Dukungan pemerintah desa dan berbagai pihak kemudian menjadi energi tambahan agar gerakan tersebut tidak berjalan sendiri.
Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan
Di balik kepeduliannya terhadap sampah, Nony juga menaruh perhatian besar pada persoalan stunting. Melalui inovasi GANAS, singkatan dari Gerakan Orang Tua Asuh, Pemdes, Kader, dan Nakes, ia mendorong agar setiap unsur yang terlibat memiliki tanggung jawab mendampingi satu anak berisiko stunting.
Pendekatan ini menempatkan anak sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan keluarga atau tenaga kesehatan. Pemerintah desa, kader, tenaga kesehatan, dan orangtua asuh diharapkan saling mendukung agar anak-anak berisiko memperoleh perhatian yang dibutuhkan.
Untuk mendukung program tersebut, Nony bahkan membeli boneka bagi anak-anak. Baginya, pendekatan yang dekat dengan dunia anak dapat membantu membangun suasana yang lebih menyenangkan dalam kegiatan pendampingan.
Bhabinkamtibmas Desa Nubamado, Toni Wadan, juga turut hadir dalam kegiatan pemberantasan stunting, menunjukkan bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang anak membutuhkan keterlibatan berbagai unsur.
Per September 2026, Nony menyebut Nubamado telah mencapai kondisi nol kasus stunting. Capaian tersebut menjadi alasan untuk terus menjaga pendampingan dan memastikan anak-anak tetap memperoleh perhatian yang memadai.
Inovasi yang Berawal dari Kepedulian Perjalanan Nony sebagai bidan desa bukan baru dimulai di Nubamado. Pada 2012, saat bertugas di Baobolak, ia pernah menjadi bidan pertama yang meraih juara pertama dalam penilaian posyandu tingkat kecamatan dan kabupaten.
Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya di bidang kesehatan masyarakat. Namun, bagi Nony, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat merasakan manfaat dari setiap kegiatan yang dilakukan. Kepedulian itu juga tampak dalam perhatian terhadap pendidikan anak-anak. Ia menginisiasi bantuan seragam batik putih dan seragam olahraga bagi siswa SD dan anak-anak PAUD.
Ia juga mendorong kebiasaan sederhana membawa botol air minum sendiri untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Semua itu berangkat dari keyakinan bahwa perubahan perilaku harus dibangun sejak usia dini, melalui contoh, pembiasaan, dan keterlibatan bersama.
Kini, dari Polindes Nubamado, Nony ingin menunjukkan bahwa seorang bidan dapat mengambil peran lebih luas daripada pelayanan kesehatan di ruang praktik. Ia bisa menjadi penggerak lingkungan, pendidik bagi anak-anak, sekaligus jembatan yang mempertemukan masyarakat dengan pemerintah dan berbagai pihak.
Di tangannya, sampah bukan sekadar barang buangan. Ia menjadi pintu masuk untuk mengajarkan kebersihan, kesehatan, kepedulian, dan nilai ekonomi. Sebab bagi Nony, desa yang sehat tidak cukup hanya memiliki tenaga kesehatan. Desa yang sehat membutuhkan masyarakat yang mau bergerak bersama. Dan perubahan itu, ia percaya, bisa dimulai dari satu langkah sederhana, memungut sampah yang ada di depan mata. (PT/E-4)
