
PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa negaranya kini berada di masa penentu atau “titik balik” setelah serangan teroris yang terjadi di pinggiran kota Paris. Insiden penembakan tersebut menewaskan satu orang dan menyebabkan lima lainnya luka serius.
“Saya menyebut ini sebagai titik balik karena, untuk pertama kalinya, kami menghadapi aksi terorisme yang direncanakan dengan niat membunuh sesama warga negara kami, anak-anak kami; hanya karena warna kulit atau agama yang dikaitkan dengan mereka,” ujar Macron dilansir dari Antara, Sabtu (24/10).
Peristiwa berdarah ini terjadi pada Jumat (23/10) di wilayah Yvelines, pinggiran Paris. Seorang pria dilaporkan melepaskan tembakan secara membabi buta di beberapa lokasi menggunakan senjata otomatis dari dalam sebuah kendaraan.
Serangan tersebut mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Sementara itu, lima orang lainnya mengalami luka serius, termasuk seorang gadis berusia 12 tahun yang menjadi korban dalam aksi kekerasan tersebut.
Pihak berwenang bergerak cepat dengan menangkap pelaku yang kini telah berada dalam tahanan kepolisian. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengonfirmasi bahwa kantor kejaksaan telah mengklasifikasikan insiden ini sebagai serangan teroris.
Nunez menambahkan bahwa motif utama di balik aksi penembakan ini adalah kebencian rasial. Hal inilah yang memicu kekhawatiran mendalam bagi pemerintah Prancis terkait eskalasi kekerasan yang menyasar identitas warga negara.
Pernyataan Macron yang disiarkan melalui stasiun televisi nasional tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadapi ancaman terorisme model baru ini. Situasi di Yvelines saat ini dilaporkan dalam pengawasan ketat otoritas keamanan guna mencegah insiden serupa. (Ant/Z-10)
