
DUTA Besar Meksiko untuk Indonesia Francisco de la Torre Galindo, hari Jumat melakukan kunjungan silaturahmi kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta.
Dalam kunjungan itu Sri Sultan berharap hubungan DIY dan Meksiko tidak berhenti pada komunikasi formal antarpemerintah, tetapi berlanjut pada kerja sama yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Menurut Sri Sultan, kesempatan untuk saling mengenal sejarah, budaya, dan pendidikan masing-masing menjadi landasan penting dalam membangun dialog dan persahabatan yang berkelanjutan.
Hadir mendampingi Sri Sultan dalam pertemuan ini, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY, Abdul Ghofar Ismail.
Sri Sultan lebih lanjut mengatakan, komunikasi yang telah terbangun perlu ditindaklanjuti melalui berbagai bentuk kerja sama, termasuk penjajakan kelembagaan, seperti konsulat. Melalui upaya tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengenal Meksiko lebih dekat, sehingga hubungan yang terjalin tidak hanya melibatkan pejabat pemerintahan, tetapi juga membuka ruang dialog di tingkat masyarakat.
“Jadi bagaimana tidak hanya formalitas hubungan antarpemerintah, tetapi bagaimana publik ini juga bisa tahu sejarah Meksiko, budaya Meksiko, pendidikan yang di Meksiko, dan sebagainya. Itu sebagai landasan untuk membangun dialog lebih jauh antarpublik. Saya kira dengan pola pendekatan seperti itu, yang akan terbangun persahabatan, komunikasi yang paling baik,” ungkap Sri Sultan.
Rencana Pembentukan Konsulat Kehormatan di Yogyakarta
Sejalan dengan harapan tersebut, Kepala DPMPTSP DIY, Abdul Ghofar Ismail menjelaskan bahwa jarak geografis menjadi salah satu tantangan dalam membangun kedekatan antara DIY dan Meksiko. Karena itu, diperlukan upaya agar masyarakat dapat mengenal Meksiko lebih dekat. Salah satunya melalui rencana pembentukan Konsulat Kehormatan Meksiko di Yogyakarta.
“Meksiko ini negara yang letaknya jauh sekali secara geografis. Usaha kita, tantangan kita ke depan adalah untuk mendekatkan jarak yang jauh ini, bisa terasa lebih dekat,” jelas Ghofar.
Disebutkan Ghofar, Konsulat Kehormatan Meksiko tersebut direncanakan menempati salah satu ruangan di Royal Ambarrukmo. Nantinya, tempat ini akan menjadi pusat informasi mengenai Meksiko dengan menyediakan berbagai koleksi, seperti buku, video, film, dan majalah. Masyarakat juga direncanakan dapat mengikuti pengenalan bahasa Spanyol untuk menambah pengetahuan tentang negara tersebut.
“Jadi dengan demikian nanti mungkin akan diikuti juga dengan pertukaran mahasiswa, pertukaran pelajar. Orang Meksiko datang ke sini untuk belajar dan orang Indonesia juga bisa datang ke Meksiko,” ujar Ghofar.
Saat ini, pembentukan konsulat kehormatan tersebut masih dalam proses administratif di Kementerian Luar Negeri Meksiko. Setelah proses tersebut selesai, pusat informasi ini diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal Meksiko.
Selain melalui pusat informasi, kedekatan kedua pihak juga akan dijajaki melalui kerja sama di bidang pendidikan dan seni budaya. Ghofar mengungkapkan, salah satu gagasan yang direncanakan ialah penyelenggaraan konser bersama (joint concert) dengan menghadirkan seniman Meksiko untuk tampil di Yogyakarta.
“Kerja sama ke depan yang paling potensial adalah dalam bidang pendidikan dan seni budaya. Ke depan nanti telah dirancang suatu kegiatan bersama, misalnya joint concert. Ada artis dari Meksiko yang didatangkan ke Jogja untuk tampil di sini,” kata Ghofar.
Seniman yang berpotensi dihadirkan antara lain pianis, pemain selo, dan pemain biola. Melalui pertunjukan tersebut, masyarakat DIY diharapkan dapat mengenal lebih dekat seni dan kebudayaan Meksiko.
Sementara itu, Duta Besar Meksiko untuk Indonesia, Francisco de la Torre Galindo, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan bertemu dengan Sri Sultan. Ia menilai Yogyakarta memiliki peran penting dalam memperlihatkan keberagaman Indonesia, mulai dari budaya dan agama hingga seni.
“Ketika orang Meksiko bertanya kepada saya, tempat mana yang harus saya rekomendasikan untuk dikunjungi guna memahami Indonesia, saya berpikir tentang Jogja. Jogja menunjukkan keberagaman, budaya, agama, dan keunikan dari suatu wilayah yang istimewa,” tutur Francisco.
Menurutnya, kunjungan resmi perlu ditindaklanjuti dengan kerja sama nyata. Ia berharap hubungan Meksiko dengan Indonesia, khususnya Yogyakarta, dapat dikembangkan melalui kolaborasi bersama perguruan tinggi dan komunitas bisnis. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka peluang penciptaan lapangan kerja serta berbagai kegiatan bersama.
Francisco juga menceritakan kedekatannya dengan Indonesia. Ia pernah mengikuti pendidikan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Luar Negeri pada 2009. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya kembali ke Indonesia sebagai duta besar.
Ia pun menyatakan komitmennya untuk terus mempererat hubungan Meksiko dan Indonesia, khususnya dengan Yogyakarta. Menurutnya, masyarakat merupakan aset penting bagi Indonesia, sementara hubungan antarmanusia menjadi salah satu modal untuk memperkuat persahabatan kedua pihak. (AU/I-1)
