
PEMERINTAH Indonesia menegaskan komitmennya untuk meninjau ulang seluruh kerja sama pengiriman komoditas energi ke luar negeri. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan tak ragu mengevaluasi hingga menghentikan ekspor energi ke negara-negara mitra yang dinilai tidak memiliki rasa hormat serta tidak kooperatif terhadap Indonesia.
Langkah tegas tersebut disampaikan Bahlil di tengah komitmen pemerintah dalam menjaga kedaulatan serta kesetaraan hubungan diplomasi ekonomi antarnegara.
Evaluasi Kontrak Ekspor Energi Berdasarkan Asas Kesetaraan
Langkah evaluasi ini ditegaskan Bahlil saat menghadiri Peresmian Penerimaan Gas JNE#6 dan Fasilitas Produksi Lapangan Maha – South Hub yang dipantau secara daring dari Jakarta, Kamis (22/10). Ia menekankan bahwa setiap dinamika atau persoalan antarnegara seharusnya dapat diselesaikan secara baik-baik melalui dialog yang saling menghormati.
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” ucap Bahlil.
Bahlil menyoroti sikap beberapa negara mitra yang dinilai hanya mendekati Indonesia saat membutuhkan pasokan sumber daya alam, namun mengabaikan etika diplomasi ketika muncul permasalahan lain.
“Jangan di saat mereka butuh, baru mereka datang untuk memohon. Di saat ada persoalan lain, yang sesungguhnya itu mampu dibicarakan, seperti saudara yang tidak tahu adat saja. Ini yang kami tidak mau,” ujar Bahlil.
Ia menuturkan bahwa kedaulatan bangsa adalah hal mendasar yang tidak dapat ditawar, mengingat kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan panjang. Meski demikian, bagi negara-negara mitra yang menjunjung tinggi rasa saling menghargai, Pemerintah Indonesia siap membuka dan memperluas peluang kerja sama.
“Kalau saling menghargai, sekali pun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka. Itulah asas kesetaraan,” ucap Bahlil.
Sinyal Penghentian Perpanjangan Ekspor Gas ke Negara Tetangga
Sinyal ketegangan diplomasi energi ini sebelumnya sudah dihembuskan Bahlil usai menghadiri sidang kabinet pada Rabu (21/10). Ia secara spesifik memberi peringatan kepada negara tetangga yang kerap memberikan pandangan negatif atau miring terhadap Indonesia.
Ia memperingatkan agar negara mitra lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan bilateral, sebab pemerintah tengah mempertimbangkan opsi untuk tidak memperpanjang kontrak pasokan gas ke kawasan regional tersebut.
“Jadi, kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga,” ujar Bahlil.
Kebijakan tegas ini memperlihatkan pergeseran strategi diplomasi energi Indonesia yang kini lebih menekankan prinsip kesetaraan, kedaulatan nasional, dan penghormatan timbal balik dalam setiap perjanjian perdagangan internasional. (Ant/E-4)
