
WILAYAH Orbit Rendah Bumi (Low Earth Orbit) terancam berubah menjadi tempat pembuangan sampah raksasa. Untuk mengatasi ancaman tersebut, para peneliti mengusulkan skema deposit jaminan sebelum peluncuran guna memaksa operator satelit membersihkan wahana milik mereka setelah masa tugas berakhir.
Para ahli keberlanjutan antariksa telah lama memperingatkan bahwa lonjakan jumlah satelit dan puing-puing logam mati yang tertinggal dapat memicu tabrakan berantai yang dikenal sebagai Kessler Syndrome. Teori yang diprediksi oleh fisikawan NASA Donald Kessler pada 1970-an ini menggambarkan kondisi di mana tabrakan berantai puing antariksa dapat membuat orbit Bumi menjadi tidak stabil dan berbahaya untuk digunakan.
Ancaman ini makin nyata seiring rencana perusahaan seperti SpaceX, Blue Origin, dan Amazon yang akan meluncurkan ratusan ribu satelit telekomunikasi dan pusat data orbit dalam beberapa tahun mendatang.
Profesor ekonomi lingkungan dan sumber daya dari University of Colorado Boulder, Daniel Kaffine, menilai kondisi orbit Bumi mirip dengan sumber daya alam di Bumi yang tercemar akibat aktivitas ekonomi.
“Orbit Rendah Bumi terlihat mirip dengan banyak sumber daya lain yang telah kita rusakkan sebagai pelaku ekonomi,” ujar Daniel Kaffine.
“Menunggu hingga situasinya menjadi sangat buruk sebelum menerapkan intervensi kebijakan seperti ini secara historis adalah apa yang selalu kita lakukan,” tambah Kaffine. “Tetapi mungkin kita dapat memikirkan hal-hal yang dapat kita lakukan saat ini.”
Dalam makalah yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications, Kaffine bersama timnya mengusulkan skema uang jaminan sebesar US$200.000 (sekitar Rp3,7 miliar) yang wajib dibayarkan operator sebelum peluncuran. Uang jaminan tersebut beserta bunganya akan dikembalikan jika satelit berhasil diturunkan dari orbit (deorbit) secara aman.
Sebaliknya, jika perusahaan gagal membersihkan satelitnya, uang tersebut akan hangus dan dimasukkan ke dalam dana bersama untuk membiayai misi pembersihan puing antariksa aktif.
Saat ini, lembaga internasional seperti Inter-Agency Space Debris Coordination Committee meminta operator untuk menurunkan satelit dalam waktu 25 tahun setelah misi selesai, sementara Federal Communications Commission (FCC) AS menerapkan batas waktu lima tahun. Namun, para peneliti mencatat sekitar 60% satelit tetap tertinggal di orbit saat bahan bakarnya habis karena tidak adanya sanksi tegas.
Penulis utama penelitian dari University College London, Indigo Brownhall, menjelaskan kebijakan ini dapat diterapkan di tingkat nasional tanpa harus menunggu konsensus internasional yang rumit.
“Kebijakan yang kami usulkan dapat diimplementasikan di tingkat nasional, itulah mengapa kami pikir ini menarik,” kata Indigo Brownhall. “Negara mana pun di Eropa dapat meminta satelit yang terdaftar di mereka untuk mengikuti kebijakan uang jaminan ini.”
Brownhall menambahkan bahwa Uni Eropa dapat memanfaatkan akses pasarnya yang besar untuk menegakkan aturan ini kepada penyedia layanan luar negeri.
“Pasar konsumen di Eropa sangat besar, sekitar 300 hingga 400 juta orang,” tutur Brownhall. “Dan Uni Eropa dapat meminta siapa saja yang ingin menjual data antariksa atau produk apa pun di Uni Eropa untuk mematuhi aturan mereka.”
Berdasarkan estimasi Badan Antariksa Eropa (ESA), saat ini terdapat lebih dari 57.000 potongan sampah antariksa berukuran lebih dari 10 sentimeter yang meluncur tanpa kendali di sekitar Bumi. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan kurang dari satu dekade lalu. (Space/Z-2)
