
STUDI terbaru yang dipimpin oleh Columbia University dan diterbitkan dalam jurnal JAMA mengungkapkan temuan mengejutkan terkait penanganan penyumbatan pembuluh darah utama otak. Meskipun kognisi sering kali menurun saat arteri karotis tersumbat, penelitian ini menunjukkan bahwa membuka sumbatan tersebut melalui prosedur stenting atau pembedahan tidak memberikan perbaikan pada fungsi kognitif pasien.
“Kami sempat berharap bahwa meningkatkan aliran darah ke otak dengan cara ini akan memperbaiki kognisi. Terdapat petunjuk menarik dari studi hewan dan rangkaian kasus yang menunjukkan hal itu,” ujar pemimpin studi, Randolph Marshall, M.D., Profesor Neurologi Elisabeth K. Harris di Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons.
Namun, hasil uji klinis acak menunjukkan realitas yang berbeda. Ketika tim peneliti membandingkan fungsi kognitif setelah prosedur pembukaan sumbatan dengan pengobatan medis saja, mereka tidak menemukan perbedaan yang signifikan di antara keduanya.
Uji Klinis CREST-H
Studi yang diberi nama CREST-H ini merupakan bagian dari uji coba yang lebih besar, CREST-2, yang dirancang untuk menentukan cara terbaik mencegah stroke pada orang dengan penyumbatan arteri karotis yang parah. Marshall, yang turut merancang studi multicenter tersebut, mencatat bahwa pengobatan yang dikombinasikan dengan stenting mampu menurunkan risiko stroke dua kali lipat dibandingkan pengobatan saja, meskipun pembedahan pengangkatan sumbatan tidak menunjukkan hasil serupa dalam konteks pencegahan stroke tersebut.
Penyumbatan karotis yang parah memang dikaitkan dengan gangguan kognitif bahkan tanpa ada stroke, terutama ketika aliran darah serebral berkurang. “Kami telah lama berpikir bahwa memulihkan aliran darah dengan stenting atau operasi dapat meningkatkan kognisi, tetapi hingga studi kami, hipotesis tersebut belum pernah diuji dalam uji klinis acak,” tambah Marshall.
- Melibatkan 291 pasien dengan stenosis karotis asimtomatik sebesar 70% atau lebih.
- Menilai aliran darah serebral dan kognisi pada saat pendaftaran dan satu tahun kemudian.
- Hasil: Skor kognitif kedua kelompok meningkat sedikit, tetapi tidak ada perbedaan antara kelompok prosedur (revaskularisasi) dan kelompok pengobatan medis saja.
Pentingnya Pencegahan
Berdasarkan temuan ini, para peneliti menyimpulkan bahwa revaskularisasi untuk membalikkan penurunan kognitif pada pasien-pasien ini tidak dapat diharapkan. Marshall menekankan bahwa fokus utama harus dialihkan pada langkah-langkah preventif.
“Oleh karena itu, kita perlu memperkuat pentingnya mencegah stenosis karotis untuk menghindari konsekuensinya,” pungkas Marshall. Meskipun prosedur stenting tetap memiliki peran dalam menurunkan risiko stroke pada pasien tertentu, harapan bahwa prosedur tersebut dapat menjadi solusi bagi penurunan fungsi kognitif kini telah terpatahkan oleh data klinis terbaru ini. (Medical Xpress/I-2)
