Jejak Aktivitas Manusia Kian Dominan Mengubah Siklus Air di Planet Bumi
Pengukuran dari misi GRACE (Gravity Recovery and Climate Experiment) dan GRACE-FO (GRACE Follow-On) NASA mengungkapkan tren penyimpanan air di daratan dari April 2002 hingga November 2025. Area yang digariskan dengan warna hitam menunjukkan di mana tren me(NASA Earth Observatory/Michala Garrison, berdasarkan data dari O’Neill, M.M., et al.)

AKTIVITAS manusia terbukti semakin memengaruhi alur pergerakan air di danau, sungai, tanah, hingga lapisan bawah permukaan Bumi. Studi terbaru dari NASA yang memanfaatkan data pengamatan satelit selama lebih dari dua dekade berhasil memperjelas gambaran mengenai bagaimana dan mengapa cadangan air daratan (terrestrial water storage) mengalami perubahan signifikan.

Melalui peta tren perubahan cadangan air periode April 2002 hingga November 2025, para peneliti mengidentifikasi 40 wilayah di luar pengaruh variabilitas iklim yang menunjukkan korelasi kuat dengan aktivitas manusia. Bentuk campur tangan manusia tersebut mencakup kegiatan irigasi pertanian, pembendungan waduk, serta perubahan tata guna lahan. Dampak aktivitas ini terdeteksi di setiap benua non-kutub, kecuali Australia.

Ahli hidrologi dari Goddard Space Flight Center NASA sekaligus penulis utama studi ini, Mary Michael O’Neill, menyoroti kuatnya pengaruh faktor manusia dibandingkan faktor iklim di beberapa kawasan.

“Di empat wilayah benua, variabel antropogenik menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan tren penyimpanan air dibandingkan variabel iklim mana pun,” ujar Mary Michael O’Neill.

Wilayah dengan korelasi kuat tersebut meliputi Lembah Tengah California di Amerika Serikat dan kawasan India utara. Di lokasi-lokasi tersebut, ketergantungan petani yang sangat tinggi pada penyedotan air tanah telah menurunkan cadangan air secara drastis, bahkan di India utara, penurunannya tercatat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Pemetaan ini mengandalkan data misi satelit kembar GRACE (Gravity Recovery and Climate Experiment) dan GRACE-FO (GRACE Follow-On). Kedua satelit mengukur perubahan kecil pada gravitasi Bumi yang dipicu oleh perpindahan massa air dan es. Dengan menggabungkan seluruh lintasan satelit selama lebih dari 20 tahun, para peneliti dapat memetakan tren air jangka panjang dengan detail spasial lima hingga 10 kali lebih rinci dibandingkan analisis sebelumnya.

Deputi Direktur Ilmu Bumi untuk Hidrosfer, Biosfer, dan Geofisika di NASA Goddard, Matthew Rodell, menjelaskan keunggulan dari peningkatan resolusi spasial tersebut.

“Peningkatan resolusi spasial berhasil mengungkap beberapa dampak manusia yang belum pernah terdeteksi sebelumnya,” kata Matthew Rodell.

Rodell menambahkan bahwa analisis ini juga memperlihatkan bahwa sejumlah tren yang sebelumnya telah diketahui ternyata berlangsung lebih kuat dari yang diperkirakan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa lahan pertanian beririgasi air tanah sangat erat kaitannya dengan penurunan cadangan air. Di Lembah Tengah California, High Plains selatan AS, dan Chihuahua di Meksiko, kekeringan jangka panjang memaksa petani makin bergantung pada air tanah. Sementara di India utara, penyusutan gletser Himalaya ternyata hanya menyumbang 15 persen dari total penurunan cadangan air, sedangkan sisanya didominasi oleh pemompaan air tanah.

Sebaliknya, beberapa jenis aktivitas pertanian dan rekayasa air justru mencatatkan peningkatan cadangan air. Di sebagian Afrika sub-Sahara dan negara bagian Maranhão di Brasil utara, konversi vegetasi alami menjadi lahan pertanian biji-bijian meningkatkan permukaan air tanah berkat efisiensi penggunaan air oleh tanaman serta praktik pengelolaan air lokal. Selain itu, pengisian waduk besar seperti Waduk Boguchany di Rusia dan rembesan air dari Kanal Karakum di Turkmenistan turut memicu kenaikan cadangan air di wilayah sekitarnya.

Penelitian ini telah dipublikasikan secara resmi di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS). Ke depan, para peneliti berencana mengembangkan pemetaan dengan detail temporal yang lebih tinggi guna memantau evolusi tren air lokal sebagai respons terhadap peristiwa kekeringan maupun perubahan kebijakan. (NASA/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *