Iran Bantah Ekonomi Runtuh meski AS Klaim IRGC Bangkrut
Tentara Iran.(Al Jazeera)

OTORITAS Iran secara tegas membantah klaim Amerika Serikat (AS) yang menyebut negara tersebut tidak lagi mampu mendukung sekutu regionalnya akibat tekanan ekonomi. Meski mengakui ada tantangan finansial yang dipicu oleh sanksi AS dan konflik yang sedang berlangsung, Teheran menegaskan bahwa narasi mengenai keruntuhan ekonomi mereka hanyalah ilusi.

Kepala Komando Pusat AS (Centcom), Laksamana Brad Cooper, menyatakan pekan lalu bahwa kombinasi serangan militer dan blokade angkatan laut di pelabuhan selatan Iran memberikan pukulan telak. Menurut Cooper, AS berhasil mencegah ekspor minyak mentah Iran senilai sedikitnya US$25 miliar dan membekukan aset mata uang kripto sekitar US$350 juta.

Cooper mengeklaim tekanan finansial ini membuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tidak mampu membayar gaji tentaranya. Ia juga menyebut kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran di kawasan tersebut mengalami kekurangan dana yang signifikan.

“Beban finansial pada militer Iran menjadi sangat besar sehingga ada laporan bahwa kelompok milisi yang bersekutu dengan Iran di seluruh kawasan menahan pembayaran kepada tentara mereka untuk menyalurkan uang kembali ke IRGC, yang juga tidak membayar pasukannya,” ujar Cooper.

Jaringan Pendanaan Poros Perlawanan

Selama beberapa dekade, Pasukan Quds IRGC memasok uang, senjata, dan keahlian manufaktur kepada kelompok sekutu regional. Namun, Michael Knights dari Horizon Engage mencatat bahwa Hizbullah di Libanon dan Houthi di Yaman mengalami kesulitan finansial dalam beberapa tahun terakhir karena ekonomi nasional mereka yang rusak, sehingga sangat bergantung pada bantuan bahan bakar dan dana dari Iran.

Di sisi lain, faksi-faksi di Irak berada dalam posisi finansial yang lebih baik karena terintegrasi ke dalam pasukan keamanan resmi dan menerima pendanaan pemerintah melalui Pasukan Mobilisasi Populer. Departemen Keuangan AS menuduh jaringan komersial di Irak menjual komoditas Iran dan mendistribusikan hasilnya melalui perantara untuk mendukung Teheran.

Resiliensi Ekonomi di Tengah Kontraksi

Ekonomi Iran memang menghadapi tekanan berat dengan inflasi tinggi dan depresiasi mata uang. Bank Dunia memproyeksikan kontraksi ekonomi sebesar 7,7 persen untuk tahun fiskal 2026-2027. Namun, Kepala Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, menegaskan bahwa ekonomi Iran menunjukkan resiliensi yang baik.

Presiden Masoud Pezeshkian mengakui pada Minggu (18/10) bahwa blokade maritim telah menciptakan masalah besar. Namun, ia menyatakan pemerintahannya mengandalkan kapasitas domestik untuk bertahan. Salah satu langkah yang diambil ialah manajemen konsumsi bahan bakar yang diklaim mampu menghapus kebutuhan impor bensin senilai US$12 miliar.

Negar Mortazavi, peneliti senior di Center for International Policy, menilai bahwa meskipun tekanan ekonomi membatasi sumber daya militer, hal itu tidak akan mengubah kalkulasi strategis IRGC atau memaksa Teheran untuk menyerah. Teheran diprediksi akan tetap memprioritaskan dukungan bagi kelompok sekutu regionalnya terlepas dari kesulitan finansial yang dihadapi. (Al Jazeera/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *