
LATIHAN beban tidak hanya bermanfaat untuk membentuk otot dan meningkatkan kekuatan fisik. Aktivitas ini juga berkaitan dengan kesehatan metabolik, termasuk kemampuan tubuh mengatur gula darah, serta membantu menjaga sejumlah faktor risiko penyakit jantung.
Dilansir dari TIME, Kristen Lettenberger, terapis fisik di New York, menjelaskan bahwa peningkatan massa otot dapat membantu tubuh menggunakan insulin secara lebih efektif.
Insulin merupakan hormon yang membantu glukosa berpindah dari darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Ketika respons tubuh terhadap insulin membaik, pengaturan gula darah dapat menjadi lebih efektif. Kondisi ini penting dalam upaya mencegah maupun membantu mengelola diabetes tipe 2.
Dr. Chirag Panchal, dokter spesialis kedokteran keluarga di Florida, juga menekankan peran otot dalam penggunaan glukosa. Kemampuan otot mengambil dan menggunakan glukosa menjadi salah satu faktor yang mendukung pengendalian gula darah.
Meski demikian, latihan beban bukan pengganti pengobatan diabetes. Orang yang telah didiagnosis mengalami diabetes tetap perlu mengatur pola makan, memantau gula darah, dan menggunakan obat sesuai anjuran dokter.
Menjaga Kesehatan Jantung
Selain berkaitan dengan metabolisme glukosa, latihan kekuatan dapat membantu menjaga kesehatan kardiovaskular. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa latihan ini dapat memperbaiki beberapa faktor risiko penyakit jantung, termasuk tekanan darah dan profil lemak darah.
Besarnya manfaat bergantung pada jenis latihan, intensitas, konsistensi, serta kondisi kesehatan seseorang.
Latihan kekuatan juga dapat melengkapi aktivitas aerobik, seperti berjalan cepat, bersepeda, atau berenang. Kedua jenis aktivitas tersebut memiliki manfaat yang saling melengkapi untuk menjaga kebugaran dan kesehatan jantung.
Karena itu, menjaga kesehatan tidak harus dilakukan dengan memilih antara latihan beban dan kardio. Kombinasi keduanya dapat membantu memperkuat otot sekaligus mendukung kebugaran tubuh secara menyeluruh.
Risiko Kanker dan Demensia
Sejumlah penelitian observasional menemukan hubungan antara latihan kekuatan dan risiko lebih rendah terhadap beberapa penyakit kronis, termasuk jenis kanker tertentu. Penelitian lain juga mengaitkan aktivitas fisik dengan kesehatan otak yang lebih baik.
Namun, hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa latihan beban secara langsung mencegah kanker atau demensia. Risiko penyakit dipengaruhi banyak faktor, mulai dari usia, genetik, pola makan, kebiasaan merokok, hingga kondisi kesehatan yang sudah ada.
Meski demikian, latihan kekuatan tetap menjadi bagian yang bermanfaat dari pola hidup aktif. Aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga fungsi tubuh, mempertahankan kemampuan bergerak, dan mendukung kesehatan metabolik.
Tak Harus Mengangkat Beban Berat
Manfaat latihan kekuatan tidak mengharuskan seseorang berlatih seperti atlet atau mengangkat beban maksimal. Latihan dapat dimulai dengan gerakan sederhana menggunakan berat badan sendiri, seperti squat, push-up di dinding, atau berdiri dari kursi.
Dumbbell ringan dan resistance band juga dapat digunakan untuk menambah tantangan. Hal terpenting adalah melakukan latihan secara teratur, menggunakan teknik yang benar, dan meningkatkan intensitas secara bertahap sesuai kemampuan.
Bagi orang dewasa, pedoman aktivitas fisik umumnya menganjurkan latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu, disertai aktivitas aerobik secara teratur. Orang dengan penyakit kronis atau keterbatasan fisik dapat menyesuaikan jenis dan intensitas latihan bersama tenaga kesehatan. (B-3)
