Produk Manufaktur Indonesia Perluas Pasar Ekspor ke 30 Negara
PT Nestlé Indonesia mengekspor lebih dari 70 jenis produk ke lebih dari 30 negara, termasuk Filipina, Bangladesh, Australia, serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.(Dok. PT Nestlé Indonesia)

PENGUATAN daya saing produk manufaktur menjadi salah satu fokus kerja sama pemerintah dan pelaku industri dalam memperluas akses ekspor Indonesia ke pasar internasional. Selain meningkatkan kapasitas produksi, pengembangan rantai pasok lokal dan pemenuhan standar global menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi produk Indonesia di pasar ekspor.

PT Nestlé Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang memperluas jangkauan ekspor produk olahan dari Indonesia. Saat ini, perusahaan tersebut mengekspor lebih dari 70 jenis produk ke lebih dari 30 negara, termasuk Filipina, Bangladesh, Australia, serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Portofolio ekspor tersebut mencakup berbagai produk makanan dan minuman, antara lain yang dipasarkan melalui merek Nescafe dan Milo.

Untuk memperkuat kegiatan ekspor, Nestlé Indonesia menjalin kerja sama dengan Kementerian Perdagangan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, pekan lalu. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendorong peningkatan ekspor produk olahan dan bahan baku berkualitas dari Indonesia sekaligus memperluas akses pasar internasional.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengapresiasi kontribusi Nestlé Indonesia dalam mengembangkan produk lokal yang mampu memenuhi standar pasar internasional. Menurutnya, investasi perusahaan di Indonesia juga memberikan dukungan terhadap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), petani kopi, serta peternak sapi yang menjadi bagian dari rantai pasok industri.

“Terima kasih karena kehadiran Nestlé Indonesia telah membantu produk-produk lokal kita untuk berkembang dan mampu memenuhi standar internasional. Investasi yang sudah berjalan ini sangat membantu UMKM, peternak, dan para petani kopi kita,” ujar Budi.

Perluas pasar ekspor

Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, Kementerian Perdagangan dan Nestlé Indonesia juga melakukan seremoni pelepasan ekspor produk kopi siap minum Nescafe Ready-to-Drink (RTD) dengan tujuan Australia. Ekspor tersebut menjadi bagian dari kegiatan manufaktur Nestlé Indonesia yang terhubung dengan jaringan produksi dan distribusi perusahaan di pasar internasional.

Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia Georgios Badaro mengatakan, kerja sama dengan pemerintah merupakan salah satu langkah untuk memperkuat daya saing sektor manufaktur nasional.

“Penandatanganan MoU dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dan seremoni pelepasan ekspor ini mencerminkan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperkuat daya saing sektor manufaktur Indonesia. Saya berharap kolaborasi ini dapat meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia,” kata Georgios.

Menurut perusahaan, pengembangan ekspor tidak hanya berkaitan dengan produk akhir, tetapi juga melibatkan penguatan rantai pasok bahan baku yang berasal dari Indonesia.

Salah satunya dilakukan melalui program pembinaan petani kopi untuk mendukung kualitas komoditas lokal sekaligus membuka peluang akses ke jaringan pasar internasional.

Melalui kegiatan tersebut, perusahaan berupaya meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pemasok lokal yang terlibat dalam rantai produksi.

Penguatan industri dan rantai pasok

Selama lebih dari 55 tahun beroperasi di Indonesia, Nestlé telah mengembangkan investasi jangka panjang pada sektor manufaktur dan pengadaan bahan baku.

Perusahaan memiliki kegiatan manufaktur berstandar global yang tersebar di empat provinsi, serta menjalankan program pembinaan bagi petani kopi dan peternak sapi perah rakyat.

Pengembangan rantai pasok tersebut menjadi bagian dari kegiatan perusahaan dalam menghubungkan produksi dan komoditas lokal dengan kebutuhan industri makanan dan minuman.

Selain mendukung ketersediaan bahan baku, keterlibatan petani dan peternak dalam rantai pasok diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.

Direktur Corporate Affairs PT Nestlé Indonesia Fajar Dewantara mengatakan, kolaborasi dengan Kementerian Perdagangan diharapkan dapat memperkuat hubungan antara sektor industri dan pertanian nasional.

“Kami berterima kasih atas kolaborasi serta bimbingan Kementerian Perdagangan RI, di bawah kepemimpinan Bapak Budi Santoso. Kami berharap dapat terus memperkuat ekosistem industri dan pertanian nasional, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas,” ujarnya.

Melalui kerja sama tersebut, Nestlé Indonesia berupaya memperkuat kemampuan manufaktur dan pengembangan rantai pasok lokal untuk mendukung kegiatan ekspor.

Kolaborasi dengan Kementerian Perdagangan juga diharapkan dapat memperluas akses produk olahan dan komoditas Indonesia ke pasar internasional sekaligus meningkatkan nilai tambah kegiatan produksi di dalam negeri. (E-1)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *