Tips Aman 'Me Time' bagi Orangtua tanpa Abaikan Anak
Ilustrasi: Sejumlah Ibu dan anak mengikuti lomba kolase saat Festival Sayang Anak di Alun-Alun Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/7/2026)(ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

MEMILIKI anak bukan berarti orangtua harus sepenuhnya melupakan waktu untuk diri sendiri atau me time. Para psikolog mengingatkan pentingnya membangun kerja sama pengasuhan (support system) yang kuat agar ayah dan ibu tetap dapat menjalankan hobi maupun beristirahat tanpa mengabaikan keselamatan serta kebutuhan psikologis anak.

Psikolog anak dan remaja, Sani B. Hermawan, S.Psi, menjelaskan bahwa kesempatan orangtua untuk menikmati me time sangat bergantung pada ketersediaan jaringan pendukung di sekitar mereka.

“Orangtua itu sebenarnya masih bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri. Cuma, kalau support system-nya tidak banyak, peluang orangtua memiliki me time mungkin akan jadi lebih sedikit,” ujar Direktur Lembaga Psikologi Daya Insan tersebut di Jakarta, Selasa (20/10).

Tips Mengatur Waktu Pribadi Tanpa Mengabaikan Anak

Kerja sama pengasuhan dapat dibangun bersama pasangan, kakek, nenek, saudara, hingga pengasuh profesional yang tepercaya. Selain itu, terdapat beberapa strategi praktis yang bisa diterapkan orangtua:

  • Manfaatkan Waktu Tidur Anak: Orangtua dapat menggunakan jeda singkat saat anak tidur untuk membaca, menonton, atau melakukan hobi ringan. Namun, penting untuk bersikap realistis dengan durasi waktu yang ada, terutama jika anak masih bayi.
  • Kenalkan Pengasuh Baru Secara Bertahap: Biasakan anak untuk berinteraksi secara perlahan dengan orang dewasa lain yang aman dan tepercaya agar anak merasa nyaman.
  • Alihkan Pengasuh dengan Jelas: Psikolog klinis anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, menegaskan bahwa pengalihan pengasuhan harus dilakukan kepada pihak yang benar-benar siap dan mengerti tanggung jawab pengawasan. “Pastikan orang yang dititipi memahami bahwa ia sedang bertanggung jawab menjaga anak, bukan sekadar berada di dekatnya,” kata psikolog dari Universitas Indonesia itu.
  • Komunikasi Jujur dengan Anak: Sebelum pergi, sampaikan dengan bahasa sederhana siapa yang akan menemani dan kapan orangtua akan kembali. Hindari kebiasaan pergi secara diam-diam (ghosting), serta pastikan untuk meluangkan waktu berkualitas kembali bersama anak setelahnya.

Isu mengenai pentingnya pengawasan anak saat orangtua mengambil waktu pribadi (me time atau hobi) belakangan menjadi sorotan publik. Hal ini menyusul sejumlah insiden memprihatinkan di media sosial, seperti kasus balita terjatuh di hotel wilayah Samarinda saat orangtuanya sarapan, serta kasus anak yang ditinggal sendirian di dalam tenda ketika orang tuanya mendaki Gunung Prau.

(Ant/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *