
SURVEI terbaru dari Washington Post-ABC News-Ipsos mengungkapkan pergeseran signifikan dalam persepsi publik Amerika Serikat terhadap Presiden Donald Trump. Hampir dua pertiga warga Amerika kini meyakini bahwa Trump menggunakan masa kepresidenannya untuk memperkaya diri sendiri. Menariknya, lonjakan terbesar dalam setahun terakhir justru datang dari kelompok pemilih yang cenderung mendukung Partai Republik.
Berdasarkan data survei tersebut, sebanyak 34% responden dari kalangan Republik dan independen yang condong ke Republik percaya bahwa Trump melakukan praktik memperkaya diri. Angka ini naik tajam dibandingkan 22% pada September 2025. Sementara itu, di kubu Demokrat, angka tersebut hampir mencapai konsensus bulat, yakni 92%, naik dari 88% pada tahun sebelumnya.
Isu Korupsi Menjelang Pemilu Sela
Temuan ini muncul kurang dari tiga minggu sebelum pemilu sela. Partai Demokrat mulai memfokuskan pesan kampanye mereka pada tuduhan korupsi terang-terangan dan menghubungkan praktik mementingkan diri sendiri dengan tingginya biaya hidup yang membebani rakyat.
Meskipun Demokrat menghabiskan dana iklan hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan Republik untuk isu pemberantasan korupsi di Washington, analisis data AdImpact hingga 12 Oktober menunjukkan bahwa hanya 1% dari iklan tersebut yang secara spesifik menuduh Trump memperkaya diri. Strategi ini tampaknya lebih difokuskan pada isu korupsi secara luas untuk menarik pemilih yang masih ragu.
Kekecewaan di Akar Rumput
Perubahan sentimen ini terlihat nyata pada pemilih seperti Matthew Brumbaugh, 42, dari Ohio. Sebagai pendukung Trump pada 2024, Brumbaugh kini mengaku menyesal setelah menyaksikan konflik dengan Iran dan lonjakan harga kebutuhan pokok.
“Dia menggunakan kekuasaannya secara ekstrem,” ujar Brumbaugh. Ia kini mempertimbangkan untuk mendukung kandidat Demokrat guna mengendalikan langkah Trump.
Senada dengan itu, Lisa Lewis, 61, seorang pensiunan di New York yang dulunya merupakan pendukung setia Trump, menyatakan kekecewaannya. Ia merasa Trump mengambil keuntungan dari situasi perang dan menghamburkan uang pajak untuk proyek-proyek pribadi seperti renovasi ruang dansa Gedung Putih dan penamaan ulang fasilitas publik.
Respons Gedung Putih dan Strategi Partai
Pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait hasil survei ini. Namun, para pembantu Trump sebelumnya menyatakan bahwa situasi keuangan sang presiden justru memburuk selama menjabat. Trump sendiri mengeklaim bahwa keuntungan finansial yang tercatat dalam pengungkapan musim panas lalu hanyalah refleksi dari membaiknya pasar saham.
Di sisi lain, Partai Republik mencoba melawan narasi ini melalui Wakil Presiden JD Vance yang memimpin satuan tugas untuk memberantas penipuan dalam program pemerintah. Strategi GOP adalah menggambarkan Demokrat sebagai politisi karier yang tidak peduli pada rakyat.
- 34% pemilih Republik percaya Trump memperkaya diri (naik dari 22%).
- 92% pemilih Demokrat percaya Trump memperkaya diri.
- Lebih dari 4 dari 10 warga Amerika tidak mempercayai kedua partai dalam hal pemberantasan korupsi.
- Demokrat unggul tipis (33%) dibandingkan Republik (25%) dalam hal kepercayaan publik untuk mengurangi korupsi.
Dampak terhadap Partisipasi Pemilih
Senator Chris Murphy mencatat ada pergerakan di kalangan pendukung keras Trump yang mulai meragukan integritas pemimpin mereka untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Murphy memprediksi hal ini mungkin tidak akan membuat mereka berpindah haluan sepenuhnya, tetapi bisa menyebabkan banyak pendukung Republik memilih untuk tidak memberikan suara pada pemilu sela mendatang.
Dengan korupsi yang kini menjadi perhatian utama pemilih–bahkan melampaui isu inflasi dalam beberapa jajak pendapat lain seperti Fox News–dinamika ini menjadi tantangan serius bagi stabilitas dukungan politik Donald Trump di sisa masa jabatannya. (The Washington Post/I-2)
