Peneliti UGM lirik Kurkumin Kunyit sebagai Kandidat Antidepresan*
Ilustrasi kunyit(Magnific)

KUNYIT kini jadi bahan penelitian serius di dunia kesehatan mental. Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti kurkumin, senyawa bioaktif dalam kunyit (Curcuma longa), sebagai kandidat pengembangan antidepresan lewat pendekatan komputasi biologi.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kurkumin berpotensi berinteraksi dengan reseptor serotonin 5-HT2C, protein yang berperan mengatur suasana hati. Penelitian ini dilakukan tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Psikologi UGM. Latar belakangnya dilakukannya penelitian ini, timbul dari antidepresan konvensional yang terlihat sering menimbulkan efek samping seperti disfungsi seksual dan perubahan berat badan. Karena itu, tim mencari senyawa lain yang bisa dikembangkan sebagai alternatif.

“Kombinasi antara bukti manfaat bagi kesehatan otak, kepopuleran budaya yang tinggi, serta dukungan data pasar yang kuat menjadi dasar utama kami meneliti kurkumin,” ujar Calista dalam laman resmi UGM, Jumat (16/10).

Penelitian ini memakai pendekatan in silico, yaitu analisis berbasis komputer, dengan metode network pharmacology dan molecular docking. Tim memetakan hubungan antara kurkumin, metabolit mikrobiota usus, dan gen yang terkait depresi. 

Analisis jaringan protein dengan perangkat STRING dan Cytoscape kemudian menunjukkan bahwa reseptor serotonin 5-HT2C berpotensi menjadi target interaksi kurkumin. Pada tahap molecular docking, kurkumin memperoleh skor ?7,26 kcal/mol. Sebagai pembanding, amitriptilin (antidepresan konvensional) mendapat skor ?6,08 kcal/mol dan serotonin ?5,02 kcal/mol. Ketiga molekul juga sama-sama berinteraksi dengan residu asam amino Val354 pada reseptor tersebut.

Skor yang lebih negatif menandakan interaksi yang lebih menguntungkan menurut penilaian komputasi, sehingga menunjukkan bahwa kurkumin memang benar memiliki potensi sebagai antidepresan.

Namun, tim peneliti UGM menegaskan bahwa angka-angka itu tidak boleh dibaca sebagai bukti kurkumin lebih efektif daripada amitriptilin. Molecular docking hanya memprediksi posisi dan interaksi molekul dengan protein, bukan mengukur efektivitas pengobatan pada manusia. Kesamaan residu Val354 pun belum cukup untuk menyimpulkan bahwa mekanisme kerjanya sama.

Metode ini juga belum bisa menentukan apakah kurkumin bekerja sebagai pengaktif (agonis) atau penghambat (antagonis) reseptor. “Efek farmakologisnya masih perlu dibuktikan melalui pengujian laboratorium,” ujar Calista.

Analisis jalur biologis dengan Kyoto Encyclopedia of Genes and Genomes (KEGG) juga memberi petunjuk mekanisme yang mungkin terlibat. Hasilnya tetap perlu dibuktikan lewat eksperimen. Tim menilai penelitian ini baru gambaran awal, dan masih dibutuhkan uji lanjutan terhadap aktivitas kurkumin pada reseptor 5-HT2C, mekanisme farmakologisnya, serta keamanan dan efektivitasnya sebelum dipertimbangkan untuk penggunaan klinis.

Minat terhadap kurkumin untuk depresi ternyata tidak hanya datang dari kampus di Indonesia. Tinjauan ilmiah berjudul “Curcumin in Depression: Potential Mechanisms of Action and Current Evidence” yang diterbitkan di National Library of Medicine, juga melakukan penelitian terhadap kurkumin dan potensi mereka untuk menghadapi depresi.

Para peneliti tersebut mencatat bahwa depresi mayor merupakan salah satu gangguan paling umum dan melumpuhkan, namun pengobatan yang tersedia saat ini pun belum optimal. Dengan melihat hal tersebut, para peneliti berupaya turut melihat kurkumin sebagai potensi antidepresan juga, sama seperti para peneliti UGM.

Menariknya, sejumlah studi pada hewan yang dikutip tinjauan ilmiah tersebut mengaitkan efek antidepresan kurkumin dengan sistem serotonin, termasuk kemungkinan interaksi dengan reseptor 5-HT2C. Temuan ini sejalan dengan arah penelitian tim UGM.

Dari sisi klinis, dua meta-analisis menyimpulkan kurkumin berpotensi efektif, termasuk sebagai terapi tambahan. Meski begitu, para penulis mengingatkan bahwa hasil uji klinis masih beragam. 

Sampel penelitian umumnya kecil, dan formulasi serta dosis kurkumin yang dipakai berbeda-beda. Dalam dosis yang diteliti, kurkumin umumnya dapat ditoleransi dengan efek samping ringan seperti tinja berwarna kuning, sakit kepala, atau diare. Dengan demikian, temuan mahasiswa UGM dan tinjauan ilmiah internasional sama-sama menunjukkan bahwa kurkumin menjanjikan, tetapi belum bisa dijadikan pengganti obat. Pengujian laboratorium dan uji klinis berskala lebih besar masih diperlukan. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *