
WAKIL Ketua Majelis Permusyawaratan (MPR RI) sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mendorong mahasiswa Indonesia di Australia untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan global. Tantangan tersebut mencakup persaingan dunia kerja, lonjakan biaya hidup, hingga tuntutan membangun kemandirian ekonomi.
Pesan tersebut disampaikan Ibas saat berdialog dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Australian National University (ANU), Canberra, Australia, Jumat (16/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia–Australia tidak cukup hanya mengandalkan diplomasi formal antarpemerintah (government-to-government).
Menurut Ibas, hubungan bilateral harus ditopang kuat oleh diplomasi kebangsaan parliament-to-parliament serta jalinan antarmasyarakat (people-to-people).
“Indonesia dan Australia ditakdirkan menjadi negara yang berdekatan. Karena itu, kita harus menjaga hubungan yang ramah, baik, dan hangat agar semakin banyak potensi kerja sama yang dapat dikembangkan. To lead is to listen. Seorang pemimpin harus mau mendengar karena dari sana kita dapat memahami harapan, kebutuhan, dan pemikiran masyarakat,” ujar Ibas melalui keterangannya, Senin (19/10/2026).
Fokus pada Pendapatan Layak dan Koneksi Industri
Di hadapan ratusan mahasiswa, Ibas menggarisbawahi bahwa persoalan utama generasi muda saat ini tidak sekadar mendapatkan pekerjaan (job creation). Hal yang lebih krusial adalah memastikan pekerjaan tersebut memberikan pendapatan memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak, mengembangkan diri, serta merencanakan masa depan.
Ia mendorong agar perguruan tinggi terkoneksi secara langsung dengan sektor industri. Langkah ini penting guna memastikan kompetensi lulusan relevan dengan kebutuhan pasar kerja, baik di skala nasional maupun internasional.
“Fokuslah pada pengembangan diri. Jadilah pribadi yang adaptif, disiplin, dan gigih. Bermimpilah sebesar-besarnya, tetapi iringi dengan kerja keras dan konsistensi. Kita boleh kritis, boleh memberikan koreksi, dan boleh menyampaikan pandangan yang tajam. Namun, kita harus tetap mencintai negeri kita dan berkontribusi agar Indonesia menjadi lebih baik,” imbau Ibas.
Akses Pendidikan dan Kontribusi untuk Bangsa
Ibas juga menekankan pentingnya akses terhadap pendidikan berkualitas yang harus terbuka luas bagi seluruh anak bangsa dari beragam latar belakang ekonomi. Hal ini dapat diwujudkan melalui keberlanjutan program beasiswa.
Ia mengingatkan agar para mahasiswa yang menempuh studi di luar negeri tidak sekadar berorientasi pada gelar akademik. Mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan ilmu yang didapat untuk memberikan solusi konkret atas berbagai tantangan pembangunan di Tanah Air.
“Teruslah belajar sebanyak-banyaknya, tetap adaptif, dan jangan pernah berhenti bermimpi. Pada saatnya nanti, jadilah generasi yang membangun bangsa, mencintai negeri, dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi Indonesia tercinta,” pungkas Ibas. (H-3)
