
BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya perhatian serius terhadap kesejahteraan, keselamatan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi para petugas yang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Tingginya paparan asap di lapangan dinilai memerlukan tindakan perlindungan medis yang nyata.
Kepala BNPB, Kristomei Sianturi, mengusulkan agar para personel di lini depan mendapatkan pemeriksaan medis menyeluruh, termasuk rontgen paru-paru. Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (19/10).
“Kalau perlu, rontgen paru-parunya itu. Kasihan juga dia,” ujar Kristomei menekankan pentingnya jaminan kesehatan bagi petugas yang berjibaku dengan asap pekat.
Posko Kolaboratif dan Akuntabilitas Data
Selain aspek kesehatan, BNPB mendorong pembentukan posko-posko operasi kolaboratif yang terbagi berdasarkan klaster wilayah titik panas (hotspot). Setiap posko diwajibkan memiliki penanggung jawab wilayah yang jelas, peta pembagian tugas, serta kepastian jumlah personel dan alutsista.
Kristomei juga menyoroti pentingnya akuntabilitas dan kejujuran data personel di lapangan. Ia menegaskan bahwa jumlah personel yang dilaporkan harus sesuai dengan fakta fisik di lapangan untuk memastikan dukungan dan perlindungan tepat sasaran.
“BNPB tetap mendukung, tapi juga kita akuntabilitas di lapangan. Kalau memang 100, dukung 100. Orang itu harus 100. Jangan dukung 100, orangnya 10. Jadi ada harus akuntabilitas di sini,” tegasnya.
Dampak Kesehatan dan Korban Jiwa
Data Kementerian Kesehatan dan BNPB hingga awal Oktober mencatat dampak serius kabut asap karhutla terhadap kesehatan masyarakat dan petugas. Tercatat ratusan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berat, dengan rincian 324 orang luka berat, 23 orang luka ringan, dan empat orang meninggal dunia.
Beberapa korban meninggal dunia yang teridentifikasi antara lain Hardiansyah (41), seorang pengemudi ojek online di Palembang; Lisna, seorang guru SD di Banjarmasin; serta Fikri alias Kelik (51), warga Ogan Komering Ilir yang wafat saat berupaya memadamkan api.
Tragedi terbaru juga dilaporkan terjadi dalam kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Kamis (16/10). Empat orang dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian dan rumah sakit, yakni Sefril, Wisnu (relawan), serta Sukaris dan Hendra Roni (petugas TNBTS). Sementara itu, dua orang lainnya, Munawi dan Suraji, masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Soetomo akibat luka bakar serius. (Ant/H-3)
