Gerindra: Capaian 2 Tahun Prabowo belum Sepenuhnya Dirasakan Publik
Presiden Prabowo Subianto(BPMI Setpres)

Politisi Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII DPR, Sugiat Santoso, mengakui bahwa capaian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama dua tahun terakhir belum sepenuhnya tercermin dalam persepsi masyarakat. Ia menilai terdapat hambatan komunikasi dan narasi yang membuat prestasi pemerintah belum menjadi kesadaran publik secara luas.

“Ada semacam ketidakadilan persepsi yang menimpa seorang Prabowo Subianto. Banyak kinerjanya, banyak prestasinya, banyak hasil capaiannya, tapi belum menjadi kesadaran publik,” ujar Sugiat saat menanggapi hasil survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) bertema ‘Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran’ secara daring, Minggu (18/10).

Faktor Penghambat Persepsi Publik

Sugiat mengidentifikasi tiga faktor utama yang menyebabkan kinerja pemerintah belum mendapat penilaian optimal dari masyarakat:

  • Komunikasi Pemerintah: Peran Badan Komunikasi (Bakom) dan lembaga komunikasi kementerian dinilai belum maksimal dalam menjelaskan hasil kerja secara objektif.
  • Perang Narasi Digital: Perkembangan teknologi AI dan peran buzzer membuat pembentukan opini publik sering kali tidak mencerminkan kondisi objektif di lapangan.
  • Kendala Birokrasi: Masalah teknokratik di tingkat kementerian hingga daerah masih menghambat penerjemahan kebijakan menjadi program nyata.

Ia juga mengaitkan kendala birokrasi ini dengan kritik Presiden Prabowo dalam pidato di Sidang Paripurna MPR sehari sebelumnya, yang menyoroti prosedur berbelit-belit dan praktik korupsi yang masih marak.

Indikator Ekonomi dan Kesejahteraan 2026

Meski ada kesenjangan persepsi, Sugiat memaparkan sejumlah data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan tren positif pada semester pertama 2026:








Indikator Capaian/Data
Pertumbuhan Ekonomi Di atas 5% (Semester I 2026)
Realisasi Investasi Menembus Rp1.000 Triliun (Triwulan II 2026)
Tingkat Pengangguran Terbuka Turun menjadi 4,6%
Angka Kemiskinan Sekitar 8% (Turun 0,2 poin persentase)

Sugiat menekankan bahwa daya beli masyarakat sebenarnya masih positif karena konsumsi domestik tetap menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi, meskipun hal ini sering kali tidak terlihat dalam opini publik.

Program Fondasi dan Masa Tanam

Terkait program unggulan seperti Koperasi Desa Merah Putih, Kampung Nelayan, dan Sekolah Rakyat, Sugiat menjelaskan bahwa manfaatnya belum terasa masif karena masih dalam tahap pembangunan fisik dan penguatan fondasi.

Ia mengibaratkan dua tahun pertama pemerintahan Prabowo seperti proses bercocok tanam. “Saya yakin dan percaya, dua tahun ini memang belum masa panen elektoral. Seperti musim tanam padi, ini masih menyemai bibit, memupuk, dan merawat,” pungkasnya. (E-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *