
Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terletak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan mengalami erupsi beruntun pada Minggu (18/10). Kolom abu tertinggi teramati mencapai sekitar 500 meter di atas puncak, atau setara dengan 657 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno, mengonfirmasi bahwa aktivitas tersebut telah tercatat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Kronologi Erupsi Beruntun
Berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental, erupsi terjadi dalam tiga fase utama pada siang hari ini:
- Erupsi Pertama (11.44 WIB): Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah utara.
- Erupsi Kedua (12.01 WIB): Tinggi kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak. Aktivitas ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 41 detik.
- Erupsi Ketiga (12.59 WIB): Kolom abu setinggi 100 meter di atas puncak (257 mdpl) berwarna kelabu hingga hitam, condong ke arah timur laut. Amplitudo maksimum tercatat 56 milimeter dengan durasi 36 detik.
Rekomendasi Keselamatan: Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Masyarakat, pengunjung, maupun wisatawan dilarang mendekati kawah aktif dalam radius lima kilometer.
Mitigasi dan Imbauan bagi Nelayan
Suwarno menjelaskan bahwa pemantauan aktivitas vulkanik terus dilakukan secara intensif selama 24 jam. Langkah ini penting untuk menilai perkembangan kondisi gunung api serta menentukan langkah mitigasi yang tepat guna mengantisipasi potensi bahaya.
Selain larangan mendekati kawah, pihak berwenang juga memberikan peringatan khusus kepada para nelayan yang beroperasi di Perairan Selat Sunda. Nelayan diminta untuk selalu memantau informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dan memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut.
Masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Seluruh perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui kanal resmi lembaga berwenang guna mengurangi risiko bencana dan menjaga keselamatan bersama. (Ant/E-3)
