
DUA ilmuwan antariksa terkemuka menilai sudah saatnya dunia astronomi meninjau kembali ukuran sebenarnya dari Tata Surya kita. Batas terluar Tata Surya diyakini bukan sekadar garis tegas, melainkan hasil dari interaksi dinamis antara berbagai gaya, energi, dan lintasan objek antariksa.
Gagasan ini digagas oleh Jim Green, mantan kepala ilmuwan NASA sekaligus eks Direktur Divisi Ilmu Planet NASA, bersama Ed Belbruno, profesor matematika di Yeshiva University yang juga peneliti senior di Princeton University. Teori terbaru mereka dipublikasikan dalam majalah ROOM – the Space Journal of Asgardia edisi Agustus 2026.
Menurut kalkulasi Green dan Belbruno, batas gravitasi Tata Surya membentang hingga hampir 3,8 tahun cahaya dari Matahari, atau setara dengan sekitar 241.000 Satuan Astronomi (AU). Jarak yang sangat jauh ini menempatkan tepi Tata Surya pada skala yang mendekati jarak antar-bintang tetangga.
Perhitungan baru tersebut mempertimbangkan pengaruh medan gravitasi Galaksi Bimasakti secara menyeluruh, termasuk kontribusi dari materi gelap (dark matter).
“Portal” Penangkap Objek Antarbintang
Salah satu poin penting dari teori ini adalah keberadaan titik Lagrange gravitasi yang stabil, yakni L1 dan L2. Titik-titik ini diprediksi berfungsi seperti “portal” alami yang mampu melambatkan dan menyedot objek dari ruang antarbintang, seperti komet antarbintang 3I/ATLAS, ke dalam lingkungan Tata Surya kita. Fenomena ini memungkinkan benda-benda luar angkasa tersebut tertangkap gravitasi Matahari sehingga dapat dipelajari lebih lanjut oleh para astronom.
“Menemukan lokasi L1 pusat tata surya-galaksi sangatlah penting karena objek-objek berkecepatan lambat yang memasuki wilayah ini dapat ditangkap oleh Matahari kita dan menjadi bagian dari Tata Surya,” ujar Green kepada Space.com. “Siapa tahu saat ini ada planet pengembara besar yang tertangkap dan sedang dalam perjalanan menuju Tata Surya.”
Green saat ini sedang berdiskusi dengan tim wahana antariksa New Horizons, misi yang pernah mengeksplorasi Pluto pada 2015, untuk mengamati area L1 dan L2 tersebut.
“Bahkan debu yang terakumulasi di wilayah ini dapat memverifikasi banyak perhitungan yang telah kami buat, termasuk besarnya materi gelap di galaksi kita,” tambah Green.
Berawal dari Navigasi Wahana ke Bulan
Secara teknis, konsep yang digunakan adalah perluasan dari teori Weak Stability Boundary dan penangkapan balistik (ballistic capture). Belbruno menjelaskan pendekatan ini pertama kali ia terapkan pada 1987 untuk merancang rute wahana antariksa menuju Bulan dengan hemat bahan bakar.
“Ini adalah hasil yang sangat bagus dan signifikan,” kata Belbruno kepada Space.com. “Kini penerapannya diperluas secara substansial untuk penangkapan balistik ke Tata Surya kita dari ruang antarbintang dan dalam mengestimasi ukuran Tata Surya kita.”
Gagasan ini makin relevan seiring ditemukannya objek-objek antarbintang yang melintasi Tata Surya dengan lintasan hiperbolik, seperti komet 3I/ATLAS pada Agustus 2025.
Potensi Jejak Peradaban Luar Angkasa
Tak hanya soal ukuran dan navigasi objek, Green dan Belbruno juga menyinggung potensi keberadaan peradaban asing (extraterrestrial).
“Perjalanan antarbintang membutuhkan penguasaan atas gravitasi, yang mungkin dimanfaatkan oleh peradaban luar angkasa yang maju untuk menjelajahi galaksi, dengan menggunakan portal yang terbentuk di titik-titik Lagrange sebagai daya ungkit,” tulis Green dan Belbruno dalam artikel mereka.
Keduanya menambahkan dengan berdiam di lokasi tersebut, alien dapat mengamati kehidupan di dalam suatu sistem bintang hampir tanpa konsumsi energi. “Jadi, mungkin kita harus mencari stasiun luar angkasa besar di lokasi L1 dan L2 bintang sebagai tanda teknologi (techno-signature) dari kehidupan cerdas yang maju,” ungkap para peneliti tersebut. (Space/Z-2)
