
PENGAMAT mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah dalam perdagangan minggu depan kemungkinan ditransaksikan di level Rp17.850 sampai Rp18.200 per dolar AS. Menurutnya, ada beberapa indikasi nilai tukar rupiah menuju level Rp18.200 per dolar AS.
“Ada beberapa indikasi secara domestik yang membuat rupiah terus mengalami pelemahan walaupun Bank Indonesia melakukan intervensi, menteri keuangan juga terus melakukan intervensi di pasar,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Minggu (18/10).
Pertama terkait pengumuman dari lembaga penyedia indeks global MSCI yang menyatakan akan memulai periode konsultasi atas proposal reklasifikasi status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
“Pasar mandiri ini mengindikasikan dana asing cukup banyak yang keluar. Ini yang mengindikasikan kemungkinan besar (rupiah) masih akan terus melemah,” jelas Ibrahim.
Di sisi lain terdapat sejumlah persoalan seperti harga minyak yang tinggi, impor energi yang cukup besar. Hal itu diyakini berdampak terhadap defisit APBN yang diproyeksikan sebesar 2,85% atau mendekati batas maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Karena itu, kata Ibrahim, perlu ada kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah agar fokus terhadap energi. Tujuannya supaya kebutuhan energi masyarakat bisa tercukupi.
“Walaupun impor energi sudah berkurang karena pemerintah sudah swasembada solar sebesar 500 ribu barel per hari sehingga untuk impor itu hanya 1 juta. Namun pelemahan mata uang rupiah dan naiknya harga minyak mentah ini membuat kebutuhan dolar yang cukup tinggi,” ungkapnya.
Selain itu, utang jatuh tempo pemerintah juga harus dibayarkan. Kemudian pembagian dividen oleh perusahaan-perusahaan yang listing di bursa ini juga harus dibayarkan.
Ibrahim mengatakan pemerintah perlu merivisi proyek-proyek strategis seperti makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
“Kalau bisa untuk MBG dihentikan dulu, pembiayaan Koperasi Merah Putih ditahan dulu, agar pemerintah fokus terhadap pembelian impor energi. Ini penting sehingga dana Rp322 triliun ini bisa dialokasikan untuk berfokus terhadap pembelian impor energi. Kalau pemerintah mau untuk menghentikan sementara MBG,” tegasnya.
Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah pada akhir tahun ini kemungkinan besar mencapai Rp18.500 per dolar AS.
“Karena kondisi domestik yang sudah komplikasi baik dari segi perpolitikan sedang memanas tentang masalah ijazah palsu. Kemudian defisit anggaran, kenaikan harga minyak, antrean panjang masyarakat di SPBU, bukan saja di luar Jawa. Di Jawa pun juga terjadi. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” pungkasnya. (Z-2)
