Sikapi Maraknya Karhutla, PB KAMI Ajak Gerakan Tobat Nasional dan Salat Istisqa
Sikapi Maraknya Karhutla, PB KAMI Ajak Gerakan Tobat Nasional dan Salat Istisqa(istimewa)

KETUA Umum Pengurus Besar Komunitas Aktivis Muda Indonesia (PB KAMI), Sultoni, menyerukan gerakan tobat nasional menyikapi maraknya bencana alam yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, termasuk ancaman musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Menurut Sultoni, rentetan bencana yang terjadi semestinya dijadikan momentum krusial bagi seluruh elemen bangsa untuk melakukan introspeksi diri, sekaligus memperkuat ikhtiar penanganan bencana di lapangan melalui kombinasi tindakan konkret dan pendekatan spiritual.


“Kita ketahui bersama, Indonesia dalam kondisi darurat korupsi. Bahkan, anggaran untuk kemanusiaan dan penanganan bencana saja tega dikorupsi.  Kemudian, banyak peredaran Narkoba hingga perilaku menyimpang LGBT yang terang benderang di ruang publik,” kata Sultoni, Sabtu (17/10).

Ia meminta Presiden RI, Prabowo Subianto mengerahkan ikhtiar secara maksimal untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi, baik melalui kebijakan pemerintah, koordinasi lintas sektor, maupun langkah-langkah strategis dalam mitigasi dan penanggulangan bencana.

“Pemerintah harus mengerahkan ikhtiar maksimal untuk mengatasi berbagai persoalan yang terjadi. Namun, di samping upaya nyata melalui kebijakan dan tindakan di lapangan, pendekatan religius juga tidak boleh dilupakan,” ucapnya.

Ia menegaskan, ikhtiar lahiriah dan batiniah perlu berjalan beriringan. Penanganan bencana harus dilakukan secara serius melalui langkah teknis dan kebijakan yang tepat, sementara masyarakat juga diajak memperkuat doa, introspeksi, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Secara khusus, Sultoni meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan pelaksanaan salat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan, terutama di tengah kondisi kekeringan dan ancaman Karhutla di sejumlah daerah.

Ia menuturkan, salat Istisqa dapat menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan umat Islam dalam berdoa sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam dan mencegah kerusakan lingkungan.

Selain itu, Sultoni mengajak para ulama dan tokoh agama di seluruh Indonesia untuk turut menyerukan tobat nasuha. Seruan tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa agar melakukan introspeksi, memperbaiki perilaku, serta meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Kami mengajak para ulama untuk bersama-sama menyerukan tobat nasuha. Mari kita bermuhasabah dan memohon ampun kepada Allah agar bangsa Indonesia dijauhkan dari segala bencana dan mara bahaya,” tegasnya.

Sultoni menambahkan, gerakan tobat nasional tidak semestinya berhenti pada seruan dan doa semata. Momentum ini juga harus mendorong tumbuhnya tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan, mencegah kerusakan alam, serta membantu masyarakat yang terdampak bencana.

Ia berharap, sinergisitas antara pemerintah, ulama, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat luas dapat memperkuat upaya menghadapi berbagai ancaman bencana di Indonesia.

Sultoni menyebut, terjadinya berbagai bencana ini tidak terlepas dari perilaku manusia itu sendiri. Sehingga, berbagai musibah dan bencana yang terjadi juga harus menjadi pengingat kepada semua agar jangan melakukan tindakan tidak terpuji. Termasuk, hal-hal yang memicu kerusakan alam.

“Melalui seruan ini, PB KAMI mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan ikhtiar, doa, dan kepedulian sosial agar Indonesia senantiasa mendapat perlindungan serta mampu menghadapi berbagai tantangan kebencanaan,” ujarnya.

(P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *