
Batu bara metalurgi memiliki prospek menjanjikan seiring kebutuhan industri baja global dan keterbatasan pasokan dari sejumlah negara produsen utama. Indonesia berpeluang memperbesar perannya dalam rantai pasok komoditas tersebut dengan dukungan sumber daya dan cadangan yang cukup besar.
Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Ketua Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy, mengatakan batu bara metalurgi memiliki fungsi berbeda dari batu bara termal yang digunakan untuk pembangkit listrik.
Batu bara metalurgi digunakan untuk menghasilkan kokas, yakni material kaya karbon yang berperan penting dalam proses pembuatan besi dan baja melalui tanur tinggi. Sementara itu, batu bara termal digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik.
“Batu bara metalurgi jadi kokas, kemudian menjadi besi baja. Batu bara termal dibakar masuk ke PLTU, jadi listrik. Batu bara metalurgi dapat menggantikan batu bara termal, tetapi tidak sebaliknya. Itu penting sekali,” kata Irwandy dalam media briefing Borneo Prima bertajuk Batu Bara Metalurgi Indonesia: Peluang di Balik Industri Baja di Jakarta, Kamis (15/10).
Menurut dia, batu bara metalurgi secara teknis dapat digunakan untuk pembangkit listrik dengan mencampurnya bersama jenis batu bara lain hingga memenuhi kebutuhan kalori. Namun, penggunaannya untuk tujuan tersebut jarang dilakukan karena harganya relatif lebih mahal.
Sebaliknya, batu bara termal tidak dapat menggantikan batu bara metalurgi dalam pembuatan baja karena tidak memiliki sifat yang diperlukan untuk membentuk kokas. Kandungan abu dan sulfurnya juga cenderung lebih tinggi.
Prospek batu bara metalurgi berkaitan erat dengan perkembangan industri baja dunia. Permintaan baja dari sektor konstruksi, infrastruktur, otomotif, perkapalan, dan manufaktur menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebutuhan bahan baku tersebut.
Data World Steel Association (WSA) menunjukkan produksi baja mentah dunia pada 2025 mencapai sekitar 1,85 miliar ton. Sekitar 52% penggunaan baja global berasal dari sektor konstruksi.
Ketua Komite Mineral dan Batu Bara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hendra Sinadia, mengatakan permintaan industri baja dan keterbatasan pasokan dari sejumlah negara produsen utama menjadi faktor pendukung prospek batu bara metalurgi.
“Prospek industri coking coal atau batu bara metalurgi dinilai positif dan menjanjikan, didorong oleh tingginya permintaan dari industri baja global serta keterbatasan pasokan di beberapa negara produsen utama,” ujar Hendra.
Ia mengutip proyeksi Badan Energi Internasional (IEA) yang memperkirakan permintaan batu bara metalurgi relatif stabil pada 2026 dan meningkat tipis pada 2027.
Sementara itu, WSA memproyeksikan permintaan baja global naik dari 1,718 miliar ton pada 2025 menjadi 1,722 miliar ton pada 2026. Permintaan diperkirakan kembali meningkat 1,7% menjadi 1,752 miliar ton pada 2027.
Potensi Indonesia
Indonesia memiliki sumber daya batu bara metalurgi sekitar 2,12 miliar ton dan cadangan sekitar 490 juta ton pada 2025, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Salah satu wilayah potensial pengembangan komoditas tersebut berada di Kalimantan Tengah.
PT Borneo Prima menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan tambang batu bara metalurgi di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Perusahaan tersebut mengelola wilayah konsesi sekitar 15.000 hektare.
Chief Financial Officer Borneo Prima, Ilham Nugraha, mengatakan sumber daya dan cadangan yang dimiliki perusahaan menjadi dasar pengembangan operasi jangka panjang.
Berdasarkan hasil pelaporan dengan standar Joint Ore Reserves Committee (JORC) pada 2026, Borneo Prima memiliki cadangan batu bara sebesar 87,7 juta ton dan sumber daya sekitar 202 juta ton.
“Borneo Prima memiliki sumber daya (resource) dan cadangan (reserve) yang cukup untuk produksi sampai beberapa puluh tahun ke depan,” kata Ilham.
Dari sisi kualitas, batu bara metalurgi Borneo Prima memiliki kadar abu sekitar 4–8% dan kandungan fosfor kurang dari 0,005%. Karakteristik tersebut mendukung pemanfaatannya dalam proses coal blending atau pencampuran berbagai jenis batu bara untuk memenuhi spesifikasi teknis dan ekonomis produsen baja.
Untuk menjaga konsistensi kualitas produk, perusahaan mengoperasikan fasilitas pencucian batu bara atau washing plant berkapasitas 1,5 juta ton. Fasilitas itu digunakan untuk menurunkan kadar abu sesuai spesifikasi yang dibutuhkan pelanggan.
Ilham mengatakan perusahaan juga berencana menerapkan teknologi pemulihan air hingga 99% tanpa pembuangan air limbah proses (zero effluent discharge). Selain itu, tenaga surya hibrida akan digunakan untuk mendukung operasional fasilitas tersebut.
Dukungan Pasar Global
Dalam mengembangkan bisnis, Borneo Prima mendapat dukungan IMR Group, perusahaan global yang bergerak dalam perdagangan komoditas dan rantai pasok lintas negara, termasuk komoditas untuk industri besi dan baja.
Director Marketing & Commercial Borneo Prima, Animesh Misra, mengatakan dukungan grup tersebut mencakup permodalan, keahlian teknis, serta akses ke pasar dan pelanggan internasional.
Menurut dia, IMR Group memiliki lebih dari 22.000 karyawan dan aktivitas perdagangan lebih dari 30 juta ton per tahun. Jaringan operasinya menjangkau pasar Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, dengan portofolio bisnis meliputi batu bara metalurgi, bijih besi, batu kapur, logam, hingga produksi baja nirkarat.
“Jejaring global tersebut memberikan akses terhadap pengetahuan pasar, hubungan dengan pelanggan, serta pemahaman mengenai penggunaan berbagai komoditas di sepanjang rantai nilai industri baja,” ujar Animesh.
Kedekatan geografis Indonesia dengan pasar baja utama di Asia, termasuk Tiongkok dan India, juga menjadi peluang bagi produsen batu bara metalurgi nasional untuk memperluas pasar ekspor.
Ke depan, Borneo Prima berfokus meningkatkan produksi secara bertahap, mengoptimalkan infrastruktur, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperluas basis pelanggan. Perusahaan juga menyatakan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari pengembangan bisnisnya. (E-2)
