
KEHILANGAN sosok ayah bukan sekadar soal kematian. Dalam realitas yang lebih sunyi, banyak anak Indonesia tumbuh dengan kehadiran ayah secara fisik, namun kosong dari sentuhan emosional. Fenomena fatherless ini, yang menurut data BKKBN menyentuh angka 25,8%, mengukir luka yang mendalam bagi jutaan anak di Tanah Air.
Merespons realitas yang mengkhawatirkan tersebut, Ayah Mansuri—sosok yang akrab disapa sebagai ‘Ayah Online’ oleh kalangan Gen Z—menghadirkan sebuah ruang pemulihan melalui buku perdananya bertajuk Kalau Lelah, Pulang ke Ayah, Nak! sebagai hasil kolaborasi antara Rumah Istimewa, Penerbit Gradien Mediatama, dan Gramedia.
Bagi Ayah Mansuri, kondisi di lapangan jauh melampaui ekspektasinya. “Saya begitu mau menjadi ayah bagi anak-anak *fatherless*, ternyata seluruh hatinya di luar ekspektasi saya,” ungkapnya dalam peluncuran buku di Gramedia Matraman, Jakarta, pada Jumat (16/10).
Ia menemukan realitas pahit di mana banyak anak yang menyerah, merasa tidak memiliki tempat bersandar, hingga munculnya upaya menyakiti diri sendiri.
Awalnya, langkah tulus Ayah Mansuri bermula saat ia mendampingi lebih dari 5.000 anak disabilitas—yang sebagian besar juga tak memiliki sosok ayah—melalui Yayasan Rumah Istimewa yang ia dirikan pada tahun 2021. Kini, yayasan tersebut telah menjadi rumah singgah yang merangkul hampir 5.400 anak dari berbagai pelosok Indonesia.
“Kalau Lelah, Pulang ke Ayah, Nak! bukanlah sekadar buku yang merangkum keluh kesah. Buku ini hadir sebagai sebuah dekapan hangat bagi anak-anak yang ditinggalkan. Di dalamnya, Ayah Mansuri menyematkan lembaran interaktif seperti “Surat yang tak pernah dikirim” serta lembar ceklis emosi, yang dirancang khusus untuk memvalidasi rasa rindu, amarah, dan rasa bersalah, lalu perlahan menuntun mereka untuk berdamai dengan luka masa lalu.
“Saya ingin memastikan dari buku ini kalian masih memiliki ayah, walaupun itu ayah online bagi kalian,” tutur Ayah Mansuri. Ia membuat buku itu dengan sepenuh hati sebagai jawaban atas segala kegelisahan dan kesulitan yang dihadapi anak-anak fatherless.
Jembatan komunikasi
Pemimpin Redaksi Gradien Mediatama Tri Prasetyo mengungkapkan karya itu memosisikan diri sebagai jembatan komunikasi yang selama ini mungkin terputus antara anak dan orangtua.
“Buku ini mungkin menjadi salah satu jembatan proses komunikasi antara orangtua dan anak. Jadi kalau misalnya memang selama ini banyak anak yang tidak bisa menyampaikan keresahannya, lewat buku ini dia bisa menyampaikan keresahan ke orang tuanya. Begitu juga sebaliknya,” papar Tri Prasetyo. Ia juga menambahkan, “Karena kami percaya menjadi orang tua sebenarnya juga pembelajaran hidup sampai mati, menjadi anak pun ternyata sama.”
Lebih lanjut, Tri Prasetyo menyoroti keunikan yang membedakan buku ini dari buku parenting lainnya. “Yang membedakan, kalau dari buku yang lain itu rata-rata kebanyakan POV-nya dari sisi seorang anak. Dan saya pikir, Ayah Mansuri menjadi salah satu-satunya, karena beliau benar-benar mendedikasikan dirinya untuk anak-anak fatherless di Indonesia,” tegasnya.
Namun, pelukan hangat dari buku ini tidak hanya ditujukan untuk anak-anak. Ayah Mansuri juga menitipkan pesan mendalam bagi para ayah di luar sana. Ia mengingatkan bahwa sesulit apa pun kondisi—baik karena faktor ekonomi maupun perpisahan—peran ayah tidak boleh hilang. “Kembalilah kepada pelukan anak-anak kalian,” pesannya. Buku ini menjadi cermin sekaligus pengingat bahwa anak adalah anugerah Tuhan yang harus senantiasa dijaga dan dikasihi.
Melalui Kalau Lelah, Pulang ke Ayah, Nak!, Ayah Mansuri telah membuka ruang dialog dan penyembuhan, membuktikan bahwa meskipun ada ruang kosong dalam keluarga, akan selalu ada harapan dan tempat untuk kembali pulang. (M-3)
