
Teknologi pengisian daya ultra cepat berpotensi mengubah pengalaman pengguna kendaraan listrik secara fundamental. Namun, penerapannya di Indonesia tidak hanya bergantung pada kemampuan perangkat pengisi daya (charger) dalam mengisi baterai dalam hitungan menit, tetapi juga sangat ditentukan oleh kesiapan jaringan listrik nasional, sistem penyimpanan energi, hingga kelayakan investasi infrastruktur.
Tantangan tersebut mengemuka seiring kolaborasi antara Utomo Charge+ dengan produsen kendaraan listrik global, BYD. Kemitraan strategis ini diarahkan untuk mempersiapkan pengembangan infrastruktur Flash Charging di Indonesia guna mengantisipasi pesatnya pertumbuhan pasar kendaraan listrik (EV).
Teknologi Flash Charging yang diperkenalkan BYD menawarkan daya pengisian yang masif, mencapai hingga 1.500 kilowatt (kW) melalui satu konektor. Dengan dukungan Blade Battery generasi kedua pada kendaraan yang kompatibel, teknologi ini diklaim mampu mengisi daya baterai dari 10% ke 70% hanya dalam waktu sekitar lima menit. Bahkan, pengisian hingga 97% dapat dicapai dalam sembilan menit pada kondisi pengujian tertentu.
Business Unit Head Utomo Charge+, Mas Dwi Lestari, menyatakan bahwa lompatan teknologi ini merupakan momentum penting bagi industri untuk meningkatkan kualitas infrastruktur EV nasional. “Ke depan, daya saing infrastruktur pengisian tidak hanya ditentukan oleh jumlah charger, tetapi juga oleh kecepatan, keandalan, efisiensi energi, dan pengalaman praktis bagi pengguna,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10).
Utomo Charge+ yang selama ini mengoperasikan jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) melihat peluang integrasi teknologi ini dengan Battery Energy Storage System (BESS) dan sistem manajemen energi untuk memperkuat keandalan operasional di lokasi-lokasi strategis.
Kesiapan Jaringan Listrik Jadi Penentu Utama
Meski menawarkan kecepatan luar biasa, rencana pengembangan Flash Charging menghadirkan kebutuhan baru bagi infrastruktur kelistrikan. Daya sebesar 1.500 kW menuntut perencanaan pasokan dan distribusi energi yang sangat matang. Penggunaan BESS menjadi salah satu opsi untuk mengelola beban puncak, namun hal ini memerlukan perhitungan tambahan terkait biaya investasi dan efisiensi sistem.
BYD sendiri menargetkan pengembangan hingga 100 fasilitas Flash Charging di Indonesia pada akhir 2026. Realisasi target ini akan sangat bergantung pada:
- Kesiapan lokasi dan akses jaringan listrik.
- Proses perizinan yang efisien.
- Model bisnis yang berkelanjutan bagi investor.
Perspektif Industri dan Investasi
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengisian Listrik Indonesia (Aspelusi), Anthony Utomo, menilai teknologi ultra cepat dapat menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai lamanya waktu pengisian daya. Namun, ia mengingatkan bahwa penambahan titik pengisian saja tidak cukup.
“Teknologi pengisian berdaya sangat tinggi membutuhkan pendekatan baru, mulai dari kesiapan jaringan listrik hingga model investasi yang berkelanjutan. Kolaborasi antara produsen, operator SPKLU, PLN, dan pemerintah sangat diperlukan,” jelas Anthony.
Dari sisi bisnis, pengembangan charging hub masa depan akan membuka peluang kemitraan luas dengan pemilik lahan, pengelola kawasan komersial, hingga perusahaan transportasi. Achmad Rosyadi dari Mega Dealer BYD Haka Auto menambahkan bahwa kerja sama dengan mitra strategis seperti Utomo Charge+ sangat krusial untuk memperluas jangkauan layanan bagi pengguna di seluruh Indonesia.
Keberhasilan teknologi ultra cepat di Indonesia pada akhirnya tidak hanya diukur dari durasi pengisian baterai, tetapi juga dari ketersediaan fasilitas yang merata, keandalan pasokan listrik, serta biaya layanan yang kompetitif bagi masyarakat. (E-3)
