
KELOMPOK Houthi di Yaman kini tidak lagi sekadar menjadi pemberontak lokal. Di bawah kepemimpinan Abdulmalik al-Houthi, kelompok Islamis ini mulai menunjukkan ambisi yang jauh lebih luas, yang mencakup aspek finansial, militer, hingga klaim religius yang menantang legitimasi Arab Saudi.
Dari tempat persembunyiannya di pegunungan, Abdulmalik al-Houthi secara eksplisit menuntut akses ke pendapatan minyak dan gas negara Yaman. Kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah utara ini juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat konflik bertahun-tahun dengan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.
Selain itu, Houthi mendesak pembukaan akses bebas melalui pelabuhan dan bandara yang mereka kuasai. Langkah ini dinilai oleh para analis, seperti Farea al-Muslimi dari Chatham House, sebagai upaya untuk memeras Arab Saudi secara finansial guna menopang kekuasaan mereka di Yaman.
Klaim Atas Kota Suci Mekah
Salah satu poin paling provokatif dalam pidato terbaru Al-Houthi ialah serangannya terhadap peran Arab Saudi sebagai penjaga kota suci Islam. Ia menyatakan bahwa hubungan Riyadh dengan Washington dan Israel membuat kerajaan tersebut tidak layak menjaga Mekah.
“Kami yang paling taat kepada Mekah dan Kakbah dan yang paling berhak untuk mendukung serta membela keduanya,” tegas Al-Houthi. Pernyataan ini mencerminkan pandangan dunia fundamentalis kelompok tersebut yang bercita-cita memperluas pengaruh di seluruh Semenanjung Arab.
Eskalasi Militer dan Ancaman Ekonomi
Sejak gencatan senjata berakhir pada Juli lalu, Houthi meningkatkan serangan yang mengancam stabilitas ekonomi Arab Saudi. Beberapa serangan signifikan meliputi:
- Serangan berulang ke bandara Riyadh yang menyebabkan korban jiwa dan penutupan operasional.
- Penargetan fasilitas energi dan markas besar Saudi Aramco.
- Pengepungan kota Ta’iz yang memutus bantuan bagi 800.000 warga sipil.
Serangan-serangan ini secara langsung mengancam ambisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menjadikan Arab Saudi sebagai pusat ekonomi global melalui berbagai acara internasional yang kini terpaksa ditunda atau dibatalkan.
Hubungan dengan Iran dan Poros Perlawanan
Meskipun Houthi semakin canggih dengan dukungan teknologi dari Iran, Rusia, dan Tiongkok, para ahli mencatat bahwa kelompok ini memiliki tingkat independensi yang tinggi. Barbara Leaf, asisten menteri luar negeri AS, menyebut bahwa Houthi tidak menganggap diri mereka sebagai mitra junior Iran, melainkan kekuatan yang berdiri sendiri.
Namun, tekanan Houthi terhadap Riyadh tetap sejalan dengan agenda Teheran untuk menaikkan harga energi global dan membuka front baru dalam konfrontasi melawan Amerika Serikat dan Israel, terutama setelah pecahnya perang di Jalur Gaza, Palestina.
Masa Depan Negosiasi
Para analis terbelah mengenai prospek perdamaian. Sebagian melihat eskalasi saat ini sebagai taktik Houthi untuk memperkuat posisi tawar sebelum kembali ke meja perundingan. Namun, selama Houthi merasa unggul secara militer dan mampu memberikan tekanan langsung ke jantung pertahanan Saudi, insentif bagi mereka untuk mundur dinilai masih sangat kecil. (Financial Times/I-2)
