
INSOMNIA tidak hanya mengganggu kualitas tidur dan aktivitas sehari-hari, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan risiko stroke. Tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine Reviews pada September 2026 menemukan bahwa orang dengan insomnia memiliki risiko stroke 26% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Penelitian berjudul Insomnia as Risk Factor for Brain, Mental and General Health Consequences: An Umbrella Systematic Review itu merangkum bukti ilmiah mengenai hubungan insomnia dengan berbagai masalah kesehatan.
Dalam analisis mengenai stroke, peneliti menggabungkan sembilan studi yang melibatkan sekitar 1,34 juta peserta. Hasil meta-analisis menunjukkan hubungan antara insomnia dan peningkatan risiko stroke, dengan hazard ratio sebesar 1,26.
Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan statistik antara insomnia dan risiko stroke yang lebih tinggi. Namun, hasil penelitian ini tidak membuktikan bahwa insomnia secara langsung menyebabkan stroke.
Insomnia dan Risiko Stroke
Penelitian tersebut merupakan bagian dari tinjauan yang mengevaluasi hubungan insomnia dengan sejumlah kondisi kesehatan, termasuk gangguan neurologis, kesehatan mental, dan rawat inap di rumah sakit.
Selain stroke, analisis terhadap lima studi mengenai rawat inap menemukan bahwa orang dengan insomnia memiliki kemungkinan 28% lebih tinggi untuk menjalani rawat inap dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan tersebut.
Para peneliti menekankan bahwa kualitas tidur perlu mendapat perhatian dalam upaya menjaga kesehatan. Meski demikian, hasil penelitian tidak menunjukkan bahwa setiap orang yang mengalami insomnia pasti akan mengalami stroke.
Hubungan belum Membuktikan Sebab-Akibat
Hubungan antara insomnia dan stroke dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Perbedaan definisi insomnia, karakteristik peserta, serta faktor lain yang memengaruhi kesehatan dapat membatasi interpretasi hasil penelitian.
Gangguan tidur juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan lain yang berpotensi memengaruhi risiko stroke. Karena itu, hubungan yang ditemukan dalam penelitian perlu dipahami secara hati-hati dan tidak langsung diartikan sebagai sebab-akibat.
Tinjauan tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan insomnia dengan risiko stroke berdasarkan penelitian yang tersedia. Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memahami mekanisme yang mendasari hubungan tersebut.
Pentingnya Memperhatikan Gangguan Tidur
Insomnia merupakan gangguan tidur yang dapat membuat seseorang kesulitan untuk mulai tidur, mempertahankan tidur, atau kembali tidur setelah terbangun. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini juga dapat mengganggu konsentrasi dan aktivitas pada siang hari.
American Stroke Association menjelaskan bahwa gangguan tidur dan kesehatan kardiovaskular memiliki keterkaitan yang perlu diperhatikan. Organisasi tersebut juga menyarankan orang yang mengalami kesulitan tidur secara teratur dan merasa aktivitas sehari-harinya terganggu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Temuan terbaru ini menambah bukti mengenai pentingnya kualitas tidur dalam menjaga kesehatan. Meski demikian, risiko stroke dipengaruhi banyak faktor sehingga insomnia tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk memperkirakan kemungkinan seseorang mengalami stroke.
(Kemenkes/lthea Medical Journal/Sleep Medicine Reviews/P-4)
