Saham JARR dan PGUN Jadi Agunan Kredit, Analisi Tekankan Fundamental Emiten Jadi Kunci
ilustrasi(MI/Usman Iskandar)

KINERJA keuangan dan kualitas aset menjadi faktor krusial dalam menilai fundamental perusahaan, terutama dalam proses pengambilan keputusan pembiayaan korporasi. Kemampuan emiten menjaga profitabilitas, mengelola kewajiban, serta mempertahankan nilai aset menjadi pertimbangan utama perbankan dalam memetakan profil risiko debitur.

Analis InFast Bestari, Gede Sandra, menegaskan bahwa penggunaan saham sebagai jaminan pembiayaan merupakan praktik lazim dalam industri perbankan. Kendati demikian, penerapannya wajib dibarengi prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan manajemen risiko yang ketat.

“Penggunaan saham sebagai jaminan bukanlah hal baru di dunia perbankan. Ini sangat lazim. Apalagi Bank Mandiri adalah bank milik pemerintah dengan aset raksasa dan status perusahaan terbuka, sehingga sudah pasti mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujar Gede di Jakarta, Kamis (15/10).

Dalam mengelola risiko kredit, perbankan umumnya memperhitungkan rasio pinjaman terhadap nilai agunan (loan-to-value / LTV), volatilitas pergerakan harga saham, serta klausul penambahan jaminan (margin call) jika nilai agunan terdepresiasi signifikan.

Gede menambahkan, besarnya nilai saham yang dijaminkan tidak serta-merta mencerminkan plafon kredit yang dikucurkan. Penilaian komprehensif tetap merujuk pada nilai ekonomis agunan serta regulasi pembiayaan yang berlaku. “Dengan demikian, tingginya nilai saham yang dijaminkan justru berfungsi sebagai lapisan perlindungan (buffer) tambahan bagi kreditur,” tegasnya.

Sorotan Akuisisi Saham BYAN dan Kinerja JARR-PGUN

Di sisi lain, dinamika bisnis menarik perhatian pasar menyusul rencana akuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Transaksi megah tersebut ditaksir menembus angka Rp26,1 triliun.

Dalam skema pembiayaan terkait, saham dua emiten yang terafiliasi dengannya, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), turut dinamai sebagai bagian dari agunan, dengan estimasi nilai pasar gabungan mencapai Rp73 triliun.

Ditinjau dari fundamental keuangan hingga semester I 2026, JARR membukukan pendapatan Rp1,76 triliun dengan laba bersih mencapai Rp158,93 miliar. Emiten perkebunan ini mengantongi total aset Rp4,09 triliun dan ekuitas sebesar Rp2,02 triliun.

Meski pendapatan mengalami penyesuaian dibanding periode yang sama tahun lalu, JARR tetap mencatatkan laba operasional sebesar Rp234,4 miliar dan EBITDA Rp325,3 miliar. Posisi kas dan setara kas perseroan berada di angka Rp456,9 miliar, dengan rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) yang sehat di level 0,86 kali.

Sementara itu, PGUN membukukan pendapatan Rp304,97 miliar dan laba bersih Rp44,51 miliar sepanjang enam bulan pertama 2026. Perseroan mencatatkan total aset Rp2,42 triliun, liabilitas Rp502,55 miliar, serta ekuitas Rp1,92 triliun.

Jika digabungkan, kedua emiten tersebut memiliki fondasi ekuitas solid sebesar Rp3,94 triliun. Kendati konsisten mencetak profit, analisis komprehensif terhadap arus kas, kewajiban, serta prospek usaha jangka panjang tetap diperlukan.

Gede menilai laporan keuangan JARR dan PGUN menjadi pijakan kuat dalam mengukur kualitas saham sebagai agunan kredit di Bank Mandiri (BMRI).

“Berdasarkan laporan keuangan terbaru, JARR maupun PGUN yang dijaminkan ke BMRI masih solid mencatatkan laba, nilai asetnya mencapai triliunan rupiah, dan memiliki ekuitas yang kuat. Selain itu, Haji Isam adalah sosok pengusaha kawakan dengan jam terbang tinggi serta rekam jejak profesional,” imbuhnya.

Ia menyimpulkan bahwa pembiayaan beragunan saham tidak hanya memandang nilai pasar jaminan semata, melainkan juga likuiditas, potensi fluktuasi harga, serta kapasitas debitur dalam memenuhi kewajiban. Akuisisi saham BYAN pun berpotensi mendatangkan cash flow dari dividen di masa depan, meski tetap dinamis mengikuti perkembangan pasar.

“Dalam konteks itulah keputusan pembiayaan Bank Mandiri dapat dipandang sebagai keputusan bisnis rasional yang didasarkan pada aset riil dan fundamental korporasi yang solid,” pungkas Gede.

(Medcom/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *