Penembakan di SD Oregon: Tiga Anak dan Satu Dewasa Tewas, Pelaku Ditembak Mati
Penembakan di SD Oregon: Tiga Anak dan Satu Dewasa Tewas, Pelaku Ditembak Mati(CNN)

SEBUAH penembakan di sebuah sekolah dasar di negara bagian barat laut Oregon pada Kamis (15/10) waktu setempat mengakibatkan banyak korban. Beberapa media melaporkan tiga anak dan satu orang dewasa tewas.

Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian serta sejumlah laporan media, insiden kelam ini menewaskan empat orang yang terdiri atas tiga anak-anak dan seorang orang dewasa. Aparat penegak hukum mengonfirmasi bahwa pelaku penembakan sendiri telah tewas di lokasi kejadian setelah ditembak.

Sheila Miller selaku juru bicara Departemen Kepolisian Bend menjelaskan bahwa petugas awalnya merespons panggilan darurat terkait penembakan ke dalam sebuah mobil, sebelum akhirnya menerima serangkaian panggilan panik mengenai adanya pelaku aktif di dalam lingkungan sekolah. 

Aparat kepolisian tiba di lokasi hanya dalam hitungan menit setelah panggilan pertama masuk pada pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 2000 GMT, dan langsung menerima laporan melalui saluran radio bahwa pelaku telah berhasil dilumpuhkan. Kendati demikian, pihak kepolisian belum dapat memastikan siapa pihak yang menembak mati tersangka, dan membuka kemungkinan bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh seorang warga sipil di sekitar lokasi.

Dalam pernyataan resmi berikutnya, kepolisian membenarkan bahwa anak-anak termasuk di antara para korban jiwa, sementara setidaknya dua orang lainnya dilarikan ke rumah sakit setempat dengan status medis yang belum dirilis. Kepolisian juga menjadwalkan taklimat media lanjutan pada pukul 17.30 waktu setempat. 

“Status mereka saat ini belum diketahui,” kata Miller. 

CNN dan CBS News, yang mengutip sumber penegak hukum, melaporkan bahwa korban tewas berjumlah empat orang, sementara CNN secara spesifik menyebutkan bahwa pelaku merupakan seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun, meski detail tersebut belum diverifikasi secara resmi oleh kepolisian.

Silver Rail Elementary, sekolah dasar yang menjadi lokasi kejadian, diketahui menampung sekitar 400 hingga 450 siswa serta didukung oleh lebih dari 40 staf pengajar. Sekolah ini berlokasi sekitar 170 mil atau 270 kilometer di sebelah tenggara Kota Portland dan melayani anak-anak usia dini mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga kelas lima.

 Pasca-insiden, Distrik Sekolah Bend-La Pine langsung memberlakukan penguncian total dan mengawal para siswa menggunakan bus menuju lokasi evakuasi terpisah agar mereka dapat dipertemukan kembali dengan keluarga masing-masing.

Suasana tegang dan penuh kecemasan tampak di area penantian para orang tua yang dipusatkan di dekat sebuah gereja. Salah seorang orang tua murid, Drew Sharp, mengungkapkan kepada CBS News bahwa dirinya tetap berupaya tenang sambil menunggu kepastian putranya yang duduk di kelas lima. 

Pihak sekolah mengatur proses reuni keluarga berdasarkan jenjang usia dari yang termuda hingga tertua demi ketertiban. Superintenden Sekolah Bend-La Pine, Steven Cook, menyampaikan rasa duka yang mendalam dan menyebut seluruh jajaran pejabat distrik merasa hancur menghadapi tragedi yang tidak masuk akal tersebut, seraya menegaskan bahwa pihaknya menyampaikan simpati mendalam kepada seluruh keluarga korban.

Sebagai bentuk empati dan keamanan, seluruh kegiatan belajar mengajar, acara atletik, serta aktivitas sekolah di seluruh distrik pada hari Jumat resmi dibatalkan.

Peristiwa kelam ini kembali menyoroti isu rentannya keamanan akibat mudahnya kepemilikan senjata api di Amerika Serikat, negara yang mencatatkan tingkat kematian tertinggi akibat senjata di antara seluruh negara maju. 

Catatan dari Gun Violence Archive menunjukkan bahwa telah terjadi lebih dari 360 insiden penembakan massal di AS sepanjang tahun ini, dengan definisi insiden melibatkan empat orang atau lebih yang tertembak. 

Organisasi keselamatan senjata api GIFFORDS turut menyuarakan kepedulian melalui platform X, menegaskan bahwa hati mereka bersama para keluarga dan anak-anak yang ketakutan, serta menekankan bahwa masyarakat tidak boleh terus-menerus menerima tragedi semacam ini sebagai bagian dari fakta kehidupan sehari-hari.

(AFP/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *