Memulihkan Sektor Pertanian Pascabencana Dimulai dari Kebun Kopi
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Aceh, membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana hidrometeorologi pada November 2025. Salah satu prioritasnya adalah memulihkan perkebunan kopi, komoditas unggulan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempatt.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Gayo Lues, Irwansyah, mengatakan pemerintah daerah menerima dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), donasi, maupun bentuk bantuan lainnya. Pernyataan itu disampaikan setelah ia menandatangani berita acara bersama Ketua Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pusat (Satgas PRRP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Imran, di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Gayo Lues, Senin, 12 Oktober 2026.

“Gayo Lues membuka kolaborasi, kami menerima sepenuhnya semua CSR, donasi maupun bantuan lainnya untuk pascabencana di Kabupaten Gayo Lues,” kata Irwansyah, Kamis (15/10).

Bencana hidrometeorologi tersebut berdampak pada sejumlah kebun kopi yang mengalami longsor. Kerusakan juga terjadi pada jalan menuju perkebunan, sehingga akses petani ke lahan dan distribusi bantuan belum sepenuhnya pulih. Perbaikan jalan membutuhkan anggaran besar, sementara kemampuan keuangan daerah terbatas.

Irwansyah mengakui, pemerintah kabupaten memerlukan dukungan berbagai pihak untuk menangani kerusakan tersebut secara bertahap. Ia mengapresiasi bantuan yang telah diberikan, mulai dari pembukaan akses jalan dan lahan hingga penyediaan bibit serta alat dan mesin pertanian (alsintan).

“Sepertinya kalau tanpa bantuan dari pemerintah pusat dan CSR kami sulit kalau hanya mengandalkan Dana Alokasi Umum (DAU) kami, termasuk dana APBD kami. Karena memang sangat minim sekali,” ujarnya.

Salah satu lembaga yang berkontribusi dalam pemulihan pertanian di Gayo Lues adalah Baitul Maal Merapi Merbabu (BM3). Lembaga swadaya masyarakat ini mendukung pemulihan usaha tani kopi di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues.

Dukungan BM3 mencakup penyediaan sarana pengolahan pascapanen, antara lain rumah pengering (greenhouse) dan gudang penyimpanan. Petani juga memperoleh pendampingan pemasaran untuk membantu memperluas akses pasar bagi kopi yang mereka hasilkan.

Pendampingan pemasaran dilakukan ke sejumlah wilayah, termasuk Yogyakarta, Sumatera Utara, dan berbagai daerah lain di Pulau Jawa. Upaya ini diarahkan untuk membuka kembali jalur pemasaran kopi Gayo Lues setelah bencana serta mendukung pemulihan pendapatan petani.

Sementara itu, Kepala Desa Agusen, Ramadhan, mengatakan bantuan tersebut mulai dirasakan manfaatnya oleh petani. Menurut dia, dukungan sarana pengolahan dan pemasaran membantu meningkatkan kualitas kopi sehingga petani berpeluang memperoleh harga jual yang lebih baik.

“Alhamdulillah ini harga jualnya lebih tinggi daripada yang dikerjakan selama ini oleh masyarakat,” ujarnya.

Ramadhan juga menyebut adanya perubahan harga jual hasil panen setelah petani bekerja sama dengan BM3. Namun, angka harga yang disampaikan dalam keterangan sumber perlu diperjelas sebelum dipublikasikan karena terdapat perbedaan antara harga sebelumnya dan harga berdasarkan jenis biji kopi.

Kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan lembaga sosial diharapkan dapat membantu memulihkan rantai usaha kopi Gayo Lues, mulai dari akses menuju perkebunan hingga pengolahan dan pemasaran hasil panen. Bagi petani, pulihnya akses pasar dan peningkatan kualitas produk menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan usaha tani serta menggerakkan kembali ekonomi desa pascabencana. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *