Menhut Kerahkan 160 Personel dan 30 Sumur Bor Padamkan Karhutla Tanjung Puting
Ilustrasi(Antara)

KEMENTERIAN Kehutanan memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, dengan mengerahkan sekitar 160 personel gabungan dan menyiapkan 30 sumur bor. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas ke zona inti kawasan konservasi, termasuk habitat orangutan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, penguatan operasi dilakukan melalui pemadaman darat, pengerahan helikopter untuk pengeboman air (water bombing), serta kajian operasi modifikasi cuaca (OMC).

“Kita sedang merasa sedih sekali karena Taman Nasional Tanjung Puting yang menjadi kebanggaan Indonesia, bahkan kebanggaan internasional, mengalami musibah kebakaran,” ujar Raja Juli, Rabu (14/10).

Berdasarkan pemetaan menggunakan drone termal, tim gabungan mengidentifikasi empat lokasi prioritas pemadaman. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama ialah kawasan Besalat karena berdekatan dengan area pemberian pakan (feeding area) orangutan.

Di lokasi tersebut, bentang api terpantau mencapai sekitar dua kilometer. Pemerintah menyiapkan penambahan sumur bor dan pengerahan personel darat untuk mencegah api menjalar. Pembuatan sekat bakar juga dikaji dengan mempertimbangkan kondisi dan kedalaman gambut.

“Tadi kita sepakati bahwa kita akan melakukan dua langkah. Yang pertama adalah mencegat titik api dengan memperbanyak sumur bor. Kita juga melihat kemungkinan membuat sekat bakar, termasuk mempertimbangkan kondisi kedalaman gambut. Tapi intinya, kita mencegah agar api tidak masuk ke zona inti,” kata Raja Juli.

Selain Besalat, pemadaman diprioritaskan di Teluk Pulai, Sungai Bulu Kecil dan Sungai Bulu Besar, serta kawasan Sungai Baung dan Tanjung Rengas. Untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses, tim akan ditempatkan bersama dukungan logistik selama beberapa hari agar pemadaman berlangsung berkelanjutan.

Operasi udara turut diperkuat dengan dukungan enam helikopter water bombing yang tersedia di Kalimantan Tengah. Namun, pemanfaatannya masih terkendala jarak pandang akibat asap tebal, termasuk di sekitar Pangkalan Bun dan Palangka Raya.

Pemerintah menyiapkan alternatif pengoperasian helikopter melalui Bandara Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, yang memiliki kondisi jarak pandang lebih memungkinkan. Kementerian Kehutanan juga menjajaki penambahan helikopter dari Kalimantan Selatan dan daerah lain yang kondisi penerbangannya mulai membaik.

“Kita akan mencoba memindahkan helikopter yang ada di Kalimantan Selatan, paling tidak mungkin bisa pinjam satu terlebih dahulu. Kemudian juga dari daerah-daerah lain yang kondisinya mulai membaik. Kita coba geser ke Kuala Pembuang dan melakukan water bombing dari sana,” ujarnya.

Pemerintah juga menyiapkan opsi OMC dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan awan hujan pada 15–16 Oktober 2026. Operasi tersebut direncanakan menggunakan alternatif penerbangan dari Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, jika penerbangan dari wilayah Kalimantan Tengah masih terkendala asap.

Penanganan karhutla melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Pemerintah juga mendorong penguatan kelompok MPA di 15 desa sekitar kawasan taman nasional melalui dukungan peralatan pemadaman.

Raja Juli menegaskan pemerintah pusat dan daerah bersama unsur terkait akan melanjutkan upaya pemadaman hingga api dapat dikendalikan.

“Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, BNPB tidak patah semangat. Tidak cuci tangan, tidak lepas tangan. Segala upaya yang memang memungkinkan untuk kita lakukan, akan kita lakukan,” tegasnya.

Penguatan operasi tersebut ditujukan untuk menekan penyebaran api, melindungi habitat satwa liar, dan mencegah kebakaran memasuki zona inti Taman Nasional Tanjung Puting. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *