Militer AS Siapkan Bom MOAB Incar Fasilitas Nuklir dan Energi Iran
Militer AS menyiapkan opsi penggunaan bom non-nuklir terbesar MOAB untuk menyerang fasilitas nuklir dan energi Iran atas perintah Donald Trump.(AFP)

MILITER Amerika Serikat telah menyusun rencana serangan baru yang mencakup potensi penggunaan bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB) atau yang dikenal sebagai “Mother of All Bombs”. Bom non-nuklir terbesar dalam armada AS tersebut disiapkan untuk mengincar fasilitas energi dan lokasi nuklir Iran jika Presiden Donald Trump memberikan perintah untuk melanjutkan operasi tempur.

Menurut sejumlah pejabat AS yang memahami pembahasan internal militer, penggunaan MOAB untuk pertama kalinya dalam konflik dengan Iran akan menjadi eskalasi yang signifikan. Meski demikian, timbul keraguan mendalam mengenai efektivitas senjata ini dalam mencapai tujuan strategis Trump atau mengubah arah perang yang telah berlangsung lebih dari enam bulan.

Opsi penyerangan ini muncul di tengah tekanan politik yang dihadapi Trump menjelang pemilu sela (midterm elections). Partai Republik mengkhawatirkan dampak politik dari perang yang makin tidak populer di mata publik Amerika, sementara belum ada tanda-tanda penyelesaian lewat jalur diplomasi.

Sumber militer mengungkapkan Trump telah memerintahkan penyusunan paket serangan tambahan terhadap target-target Iran, termasuk infrastruktur energi dan penggunaan MOAB. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran utama adalah Pickaxe Mountain, wilayah yang dicurigai AS dan Israel sebagai tempat penyimpanan komponen program nuklir Teheran.

Namun, para pakar dan pejabat militer mempertanyakan kemampuan MOAB untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah yang dilindungi lapisan granit tebal. Bom berpanduan GPS seberat 21.600 pon tersebut memang mampu menghancurkan area setara sembilan blok kota, tetapi tidak dirancang sebagai hulu ledak penembus tanah dalam (deep penetration warhead).

“MOAB adalah senjata tipe operasi informasi masif yang sangat baik untuk pembersihan area yang luas, tetapi tidak untuk hal lain,” ujar seorang sumber yang familiar dengan perencanaan militer. “Senjata ini jelas tidak dirancang sebagai hulu ledak penembus kedalaman.”

Dengan daya ledak permukaan yang sangat besar, penggunaan MOAB di dekat kawasan berpenduduk juga memicu kekhawatiran tinggi akan timbulnya korban jiwa dari kalangan sipil. Oleh karena itu, para pejabat menilai fungsi utama MOAB dalam skenario ini lebih cenderung sebagai senjata psikologis untuk menekan rezim Iran.

Penggunaan MOAB sebelumnya pernah diizinkan oleh Trump pada masa jabatan pertamanya di tahun 2017 untuk menggempur jaringan terowongan bawah tanah kelompok ISIS di Afganistan.

Para analis sepakat cara paling definitif untuk mengalahkan Iran adalah melalui operasi skala besar yang melibatkan pasukan darat. Namun, opsi tersebut berisiko mengorbankan ribuan nyawa prajurit AS dan hingga kini belum ada pejabat di pemerintahan yang mendorong tindakan drastis tersebut.

Menanggapi laporan mengenai rencana serangan ini, pejabat Gedung Putih enggan memberikan komentar spesifik mengenai rencana militer sensitif.

“Presiden Trump membuka semua opsi di atas meja untuk memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujar pejabat Gedung Putih tersebut.

Sementara itu, perwakilan Departemen Perang AS menyatakan bahwa pihak militer selalu merencanakan berbagai skenario operasional untuk menjalankan arahan Presiden dan Menteri Pertahanan guna memastikan keberhasilan misi di lingkungan operasional apa pun. (CNN/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *