
AIR minum isi ulang menjadi pilihan praktis bagi banyak keluarga di Indonesia. Namun, masyarakat diingatkan untuk tidak serta-merta menganggap seluruh air isi ulang aman dikonsumsi hanya karena telah melalui proses penyaringan di depot.
Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof Etty Riani, menekankan bahwa tingkat keamanan air sangat bergantung pada banyak faktor, mulai dari hulu hingga ke tangan konsumen. Menurutnya, risiko kesehatan yang mengintai bisa bervariasi dari tingkat rendah hingga tinggi.
“Besarnya risiko sangat bergantung pada kualitas sumber air, pengolahannya efektif atau tidak, kondisi fasilitasnya bagaimana, kehigienisan operator seperti apa, dan bagaimana penanganannya setelah pengisian,” ujar Prof Etty dalam keterangannya, dikutip Kamis (15/10).
Kualitas Air Baku dan Keterbatasan Teknologi
Salah satu faktor krusial adalah kualitas air baku. Prof Etty menjelaskan bahwa sumber air yang sudah tercemar oleh aktivitas manusia maupun industri membawa risiko besar. Teknologi penyaringan di depot air minum memiliki keterbatasan dan belum tentu mampu menghilangkan seluruh jenis polutan.
Berikut adalah potensi kontaminan yang perlu diwaspadai dalam air minum isi ulang:
| Jenis Kontaminan | Contoh Unsur/Zat |
|---|---|
| Mikrobiologis | Bakteri, virus, dan protozoa. |
| Kimia Logam Berat | Arsen, timbal, kadmium, kromium, besi, mangan, aluminium. |
| Kimia Organik & Lainnya | Nitrat, nitrit, pestisida, dan hidrokarbon. |
Ia memperingatkan agar sumber air tidak diambil dari wilayah yang tercemar limbah domestik, septic tank, aktivitas pertanian (pupuk dan pestisida), hingga limbah industri dan pertambangan.
Titik Kritis Kontaminasi Pasca-Pengolahan
Hal yang sering luput dari perhatian adalah kontaminasi ulang setelah air selesai diolah. Air yang awalnya sudah memenuhi syarat kesehatan bisa kembali tercemar akibat peralatan yang tidak higienis.
“Kondisi galon, tangki, selang, dan peralatan sangat penting karena tahap ini dapat menjadi titik kritis kontaminasi,” tegas Prof Etty. Selain peralatan, kebersihan tangan operator juga memegang peranan penting dalam menjaga kemurnian air yang masuk ke dalam galon konsumen.
Tips Memilih Depot Air Minum yang Aman
Masyarakat diimbau untuk melakukan pemeriksaan sederhana secara mandiri sebelum memutuskan berlangganan di sebuah depot air minum. Berikut adalah panduan praktis bagi konsumen:
- Pantau Kebersihan Lingkungan: Pastikan depot bersih, bebas debu, tidak ada tumpukan sampah, atau genangan air di sekitar area pengisian.
- Cek Kondisi Galon: Jangan gunakan galon yang retak, berlumut, atau berbau. Pastikan galon tidak disimpan di tempat terbuka yang terpapar sinar matahari langsung.
- Perhatikan Operator: Operator harus menjaga kebersihan tangan dan pakaian saat melayani pengisian.
- Verifikasi Dokumen: Jangan ragu menanyakan sumber air baku, hasil pemeriksaan laboratorium berkala, serta kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Sebagai solusi jangka panjang, Prof Etty menyarankan konsumen mencari depot yang menerapkan pengendalian risiko di sepanjang rantai produksi. Hal ini mencakup perawatan filter secara rutin, proses disinfeksi yang benar, hingga pencegahan kontaminasi ulang saat distribusi.
Dengan edukasi yang kuat, diharapkan masyarakat tetap bisa mendapatkan akses air minum yang aman bagi kesehatan dengan harga yang tetap terjangkau. (Z-1)
