
ANALIS Hendri Budi Satrio (Hensat) mengajak mahasiswa untuk menjadikan integritas sebagai prinsip utama dalam kehidupan. Salah satu caranya dengan meneladani perjalanan karier Sudirman Said, yang dikenal memiliki prinsip kuat selama berada di lingkungan pemerintahan hingga memutuskan mundur dari kabinet.
Hal tersebut disampaikan Hensat saat memberikan kuliah umum di Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal, Jawa Tengah, Rabu (14/10) sore. Sudirman Said, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), saat ini menjabat sebagai rektor di kampus tersebut.
Dalam presentasinya, Hensat mengenang pengalamannya mendirikan pers mahasiswa saat menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai motor perubahan. Ia berharap Tegal dapat menjadi salah satu pusat perjuangan mahasiswa di Indonesia.
“Anak muda harus berani berpikir kritis dan mengambil peran dalam perubahan,” ujar Hensat di hadapan para mahasiswa di aula kampus UHN, Jalan Pendidikan, Kota Tegal.
Tantangan Dunia Kerja dan Survei Pemuda 2026
Hensat memaparkan data survei pemuda per September 2026 yang menunjukkan bahwa 32,8 persen responden bercita-cita menjadi pengusaha. Pilihan profesi lainnya meliputi bekerja di kantor, menjadi PNS, hingga tenaga pendidik.
Namun, tantangan besar masih membayangi. Sebanyak 74,7 persen pemuda mengaku kesulitan mencari pekerjaan. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari terbatasnya lapangan kerja, batasan usia, tawaran gaji rendah, hingga stigma bahwa akses pekerjaan memerlukan bantuan orang dalam.
“Gaji masih menjadi pertimbangan utama pemuda dalam memilih pekerjaan, meskipun keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan atau work-life balance juga mulai menjadi perhatian serius,” tambah Hensat.
Persiapan Kompetensi di Perguruan Tinggi
Menanggapi tantangan tersebut, Rektor UHN Sudirman Said menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh hanya fokus pada kemampuan akademik. Mahasiswa dituntut untuk mengembangkan keterampilan (skills) dan jejaring (networking).
“Mahasiswa harus memanfaatkan masa kuliah untuk mengasah keterampilan, membangun jejaring, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif,” tutur Sudirman.
Saat ini, UHN memiliki hampir 4.000 mahasiswa yang tersebar di 22 program studi dan empat fakultas. Mahasiswa baru tahun ini tercatat berasal dari 20 provinsi di Indonesia. Untuk menunjang soft skills, kampus mewajibkan mahasiswa mengikuti minimal satu dari 39 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang tersedia.
Sudirman juga menyoroti isu pengangguran terdidik. Sekitar satu juta lulusan perguruan tinggi setiap tahun belum terserap di lapangan kerja formal. Meski demikian, ia mengungkapkan optimisme berdasarkan data internal.
“Hasil tracer study Universitas Harkat Negeri menunjukkan tingkat penyerapan kerja mencapai 85 persen. Ini menjadi dorongan bagi mahasiswa untuk terus mempersiapkan kompetensi sejak dini,” jelasnya.
Ke depan, UHN berencana memperluas kontribusinya dengan mengembangkan Sekolah Pertanian dan Teknologi Pangan, yang akan disusul oleh pembukaan Sekolah Ilmu Kesehatan dalam dua tahun mendatang. (I-2)
